JATIMTIMES- Jamasan Gong Kyai Pradah kembali digelar di Kabupaten Blitar dan sukses menjadi daya tarik wisata spiritual dan kebudayaan.
Kesuksesan ini ditandai dengan hadirnya ribuan orang di Alun-alun Lodoyo Blitar, tempat jamasan Gong Kyai Pradah diselenggarakan.
Baca Juga : Penandaan Ternak di Kabupaten Blitar Belum Menyeluruh, Baru Sasar 11 Ribu Sapi
Hadirnya ribuan masyarakat di jamasan Gong Kyai Pradah ini benar-benar menghadirkan energi positif untuk Kabupaten Blitar. Wakil Ketua DPR RI, Abdul Muhaimin Iskandar yang hadir dalam agenda ini secara khusus memberikan apresiasi kepada Pemerintah Kabupaten Blitar yang berhasil mengajak masyarakatnya merawat dan nguri-uri budaya.
“Apresiasi saya sampaikan kepada Ibu Bupati Blitar dan Pak Wabup. Semoga suksesnya siraman Gong Kyai Pradah ini membawa Blitar makmur dan masyarakatnya sejahtera,” kata Muhaimin.
Politisi PKB yang akrab disapa Cak Imin menambahkan, jamasan Gong Kyai Pradah adalah agenda kebudayaan yang sudah berlangsung sangat lama dan terus diuri-uri secara turun temurun. Dirinya berharap dan mendorong ke depan jamasan Gong Kyai Pradah ini bisa menjadi agenda wisata nasional yang outputnya adalah kemajuan sektor wisata dan UMKM di Kabupaten Blitar.
“Oleh sebab itu saya mengundang seluruh masyarakat Indonesia, ayo tahun depan kita datang menyaksikan upacara adat siraman Gong Kyai Pradah di Kabupaten Blitar,” imbuhnya.
Sebagai informasi, Gong Kyai Pradah adalah salah satu kisah legendaris yang hingga kini masih sering diperbincangkan masyarakat Blitar. Konon air dari siraman gong ini dipercaya membawa keberuntungan, tolak bala dan menyembuhkan penyakit.
Siraman Gong Kyai Pradah dilakukan setiap peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dan selalu dipadati ribuan orang yang ingin ngalap berkah.
Berdasarkan cerita turun temurun, Gong Kyai Pradah adalah pusaka yang dibawa Pangeran Prabu dari Karaton Mataram. Dikisahkan kala itu Pangeran Prabu berkonflik dengan Pangeran Puger (Sri Susuhunan Pakubuwono I) yang merupakan saudaranya.
Pangeran Prabu kemudian menyingkir ke Jawa Timur dan menetap di Lodoyo Kabupaten Blitar. Di tempat baru ini Pangeran Prabu bertapa hutan belantara dan kemudian menyebarkan syiar Agama Islam.
Baca Juga : Kaum Madyan: Umat Curang Nabi Syuaib yang Diazab Allah
Dalam perjalananya ke Jawa Timur, Pangeran Prabu membawa pusaka Kyai Bicak. Konon pusaka berwujud gong tersebut diyakini sebagai pusaka milik Panembahan Senopati Raja Pertama Mataram Islam. Konon, pusaka itu berasal dari Ki Ageng Selo, tokoh sakti penangkap petir berdarah keturunan Majapahit.
Dalam catatan HJ De Graaf dalam buku "Awal Kebangkitan Mataram, Masa Pemerintahan Senapati" dituliskan bahwa dengan Kyai Bicak, Panembahan Senopati berhasil mengusir pasukan Kerajaan Pajang yang dipimpin Sultan Hadiwijaya (Joko Tingkir) menyerang Karaton Mataram yang dipimpin Panembahan Senopati.
Dalam perkembanganya, pusaka Kiai Bicak lantas jatuh ke tangan Pangeran Prabu, saudara tiri Sri Susuhunan Pakubuwono I. Saat Sri Susuhunan Pakubuwono I dinobatkan sebagai raja, Pangeran Prabu ternyata sakit hati dan berniat membunuh Sri Susuhunan Pabubuwono I. Usahanya kemudian ketahuan dan Pangeran Prabu dibuang ke hutan Lodoyo yang saat ini menjadi Kecamatan Sutojayan. Ketika itu hutan Lodoyo dikenal sangat angker dan banyak dihuni binatang buas.
Menyesal dan menyadari kesalahannya, Pangeran Prabu berangkat ke hutan Lodoyo di Jawa Timur bersama istrinya Putri Wandansari dan abdi setianya Ki Amat Tariman. Mereka juga membawa serta pusaka Kyai Bicak, yang akan digunakan sebagai tumbal penolak bala di hutan Lodoyo.
“Selain pusaka Kyai Bicak, Pangeran Prabu juga membawa wayang krucil. Pusaka Kyai Bicak itu yang sekarang kita kenal dengan Gong Kyai Pradah,” jelas Kepala Dinas Parbudpora Kabupaten Blitar, Suhendro Winarso.
Saat ini pusaka Gong Kyai Pradah masih diyakini bertuah. Seperti pesan Pangeran Prabu sebelum bertapa tentang air bekas jamasan yang disebut mampu menyembuhkan orang sakit dan dapat digunakan sebagai sarana ketenteraman hidup, maka ritual jamasan yang digelar di Alun-alun Lodoyo hingga hari ini selalu ramai dihadiri ribuan orang.