Prasasti Sangguran Simpan Kutukan? Pembawa hingga Keturunannya Dirundung Apes | Jatim TIMES
Prasasti Digondol Asing, Anak Cucu Nikmati Replika  4

Prasasti Sangguran Simpan Kutukan? Pembawa hingga Keturunannya Dirundung Apes

Mar 07, 2021 14:36
Infografis Prasasti Sangguran yang menyimpan kutukan (Raafi Prapanda/Jatim Times)
Infografis Prasasti Sangguran yang menyimpan kutukan (Raafi Prapanda/Jatim Times)

BATUTIMES - Seperti yang dibahas pada tulisan sebelumnya, disebutkan jika Prasasti Sangguran dihadiahkan Gubernur Jenderal Inggris Thomas Stamford Raffles kepada atasannya, Lord Minto. Hingga akhirnya, Prasasti Sangguran saat ini berada di perbatasan Skotlandia dan Inggris.

Berdasarkan cerita dan catatan yang berkembang, dikatakan jika Raffles dan Lord Minto mengalami banyak hal yang tak terduga. Bukan hanya itu, Bupati Malang Kiai Tumenggung Kartanegara yang juga dikenal sebagai Kiai Ranggalawe yang memberikan izin pemindahan prasasti itu juga dikatakan mengalami nasib yang tak mujur.

Baca Juga : Terpincut Kecantikannya, Prasasti Sangguran Jadi Persembahan dan Dibawa ke Skotlandia

 

Pasca menerima Prasasti Sangguran, Lord Minto sendiri mengalami pemecatan tanpa diketahui dengan pasti alasannya. Sehingga ia melakukan perjalanan dari Calcutta ke kampung halamannya.

Namun sebelum sampai di kampung halamannya, ia meninggal di Stevenage pada 21 Juni, 1814 dalam perjalanannya ke Skotlandia. Dia kemudian dimakamkan di Westminster Abbey.

Sehingga Lord Minto sama sekali belum melihat penampakan dari Prasasti Sangguran yang terlebih dulu dia kirimkan ke Skotlandia. Nasib tak mujur itu bahkan disebut-sebut dialami oleh keturunan Lord Minto hingga sekarang.

Sementara Raffles yang bertanggungjawab atas pengiriman Prasasti Sangguran kepada Lord Minto juga mengalami hal yang tak mujur. Tak lama setelah memindahkan Prasasti Sangguran, Raffles ditarik kembali ke Inggris.

Kemudian pada 1818 Raffles kembali sebagai Gubernur Bengkulu dan dipulangkan pada 1823. Raffles meninggal hanya satu hari sebelum ulangtahunnya yang ke 45 tahun pada Juli 1826. Hingga sekarang, keberadaan makamnya tak diketahui dengan pasti.

Tak jauh berbeda, Bupati Malang kala itu yaitu Kiai Tumenggung Kartanegara yang bertanggungjawab atas pemindahan Prasasti Sangguran juga mengalami nasib sial. Memori masyarakat terkait masa kepemimpinannya seolah terhapus. Bahkan, keberadaan situs Bupati yang dikatakan memerintah Malang pada periode 1700an itu tak diketahui.

Berbekal dari catatan itu, konon Prasasti Sangguran memang memiliki kutukan bagi semua orang tanpa pandang bulu. Terutama mereka yang merusak prasasti Sangguran.

Sebab pada awal pembuatan Prasasti Sangguran, Raja Sri Maharaja Rakai Pangkaja Dyah Wawa Sri Wijayaloka Namottungga menyampaikan sebagaimana Prasasti ini dibuat dengan beberapa aturan. Jika aturan tersebut dilanggar, entah itu muda, tua, laki-laki, wanita, bangsawan, hingga pejabat akan mendapatkan karma atau kutukan.

Namun, Pemangku Sanggar Budaya Sangguran, Dusun Ngandat, Desa Mojorejo, Kota Batu Siswanto Galuh Aji atau biasa dipanggil Cak Penthol secara pribadi menilai kutukan itu sebagai karma atau aturan tatanan, dan pranatan kehidupan budaya Jawa.

"Menurut pribadi saya, itu bukan pada kutukan tetapi pada konsekuensi logis ketika kita melanggar aturan. Jadi disitu lebih pada ajaran supaya kita lebih taat aturan. Isinya memang sangat kejam. Jadi kutukan itu mempunyai makna betapa pentingnya kita patuh pada aturan, tatanan, dan pranatan kehidupan budaya Jawa," ujarnya.

Baca Juga : Prasasti Sangguran dan Masa Keemasan Kota Batu di Abad 10 Masehi

 

Isi kutukan yang ada dalam Prasasti Sangguran menurutnya memang sangat kejam. Namun itu sebuah peraturan kehidupan yang harus dijalankan oleh setiap manusia.

"Kalau dipikir memang isi kutukan itu kejam sekali," jelasnya.

Lebih jauh dia menyampaikan, isi kutukan yang ada di dalam Prasasti Sangguran itu seperti dibenturkan kepalanya, dibedah perutnya, dikeluarkan ususnya, dan dibasuh hatinya.

"Itu sebenarnya bukan kutukan. Tetapi itu lebih pada ajaran. Jika kamu tidak patuh pada aturan, tolong benturkan otakmu, dari pada saya yang benturkan kepalamu. Bedah isi perutmu, apakah banyak barang haram atau tidak?. Kemudian bersihkan hatimu, sejauh mana rasa pamrih dan ketulusan mu?. Nah itu makna yang harus kita jalani sebagaimana manusia menjalani kehidupan," ujarnya.

Kendati demikian, Cak Penthol tidak dapat memungkiri realita yang terjadi. Jika karma itu benar-benar terjadi. Ia pun mengungkapkan, pemindah Prasasti Sangguran dari Indonesia dan sampai di Skotlandia, ada tiga tokoh besar yang terkena karmanya. Seperti nasib Bupati Malang yang menjabat pada Tahun 1812, Raffles, dan Lord Minto.

"Seperti Bupati Malang yang menjabat pada saat itu pun tidak diketahui siapa pelanjut keturunannya. Kemudian Raffles dan Lord Minto kisahnya pun juga seperti itu," ujarnya.

Sementara itu, berikut ini isi kutukan atau karma yang terdapat pada Prasasti Sangguran yang telah diterjemahkan.

"Apakah ia bangsawan atau abdi, tua atau muda, laki-laki atau perempuan, wiku atau rumah tangga, patih, wahuta, rama, siapapun merusak kedudukan Desa Sangguran yang telah diberikan sima kepada Punta di Mananjung. Maka ia akan terkena karmanya. Bunuhlah olehmu hyang, ia harus dibunuh, agar tidak dapat kembali di belakang, agar tidak dapat melihat ke samping, dibenturkan di depan, dari sisi kiri, pangkas mulutnya, belah kepalanya, sobek perutnya, renggut ususnya, keluarkan jeroannya, keduk hatinya, makan dagingnya, minum darahnya, lalu laksanakan. Akhirnya habiskanlah jiwanya. Jika berjalan di hutan akan dimakan harimau, akan dipatuk ular. Begitulah matinya orang jahat, melebur kedudukan desa perdikan di Sangguran. Malapetaka dari Dewatagrasta,".

Topik
Prasasti Sangguran kutukan Kota Batu sejarah kota batu

Berita Lainnya