Sejak tahun 2017 lalu, klub Persebaya Surabaya diketahui aktif kembali berkompetisi di sepak bola nasional. Ketika itu hingga saat ini klub dipegang oleh Azrul Ananda sebagai presiden klub atau CEO.
Selama empat tahun memegang klub kebanggaan Bonek tersebut Azrul curhat dalam blog pribadi, sempat mengalami kesulitan mengelola klub. Terutama ketika menghadapi Pemkot Surabaya. Karena ada kecenderungan Wali Kota Tri Rismaharini tak menyukai klub berjuluk Bajul Ijo ini ketika kembali aktif kembali di Kota Surabaya.
Baca Juga : Pelaku Politik Uang di Kabupaten Blitar Tertangkap di Dua Kecamatan
Indikasinya adalah Persebaya tak boleh menggunakan stadion legendaris Gelora 10 November. Ketika berlatih dalam keseharian, klub ini harus "terusir" hingga ke luar kota.
Padahal meski stadion lama, rumputnya masih cukup layak untuk digunakan klub profesional berlatih. Klub profesional seperti Persipura dan Madura United pernah berlatih di sana.
Selain itu juga stadion memiliki aura juara, karena terakhir pada 2004, Tim Persebaya mengangkat juara Piala Liga Indonesia di sana.
"Saya dan teman-teman manajemen sudah tiga kali bertemu dengan pihak Pemkot. Sekali di sebuah restoran “netral” sekali di kantor saya, dan sekali di kantor Bappeko," kata Azrul.
Selain itu, Azrul juga pernah menemui sosok yang disebut anak emas Wali Kota Risma, Eri Cahyadi.
"Di kantor Bappeko itu, di depan Mas Eri Cahyadi, saya sudah menggambarkan piramida itu. Kami sudah berdiskusi cukup detail bagaimana penerapannya dan efek-efeknya. Termasuk memenuhi harapan Mas Eri mendapatkan jabatan sebagai ketua pembina di program itu," lanjut dia.
Namun, sayang usaha dari Azrul itu ternyata berujung sia-sia. "Setelah itu tidak ada kelanjutannya apa-apa. Segalanya jadi seolah percuma. Hampir dua tahun tidak ada kelanjutannya lagi," tegas bapak tiga orang anak ini.
Sehingga, dari sini Azrul mengambil kesimpulan jangankan berkolaborasi, berkomunikasi dengan Pemkot Surabaya bahkan berlanjut jadi sesuatu yang sulit.
"Saya pernah bertemu hanya berdua dengan Bu Risma, yang begitu saya cintai dan dulu saya dorong habis-habisan untuk menjadi wali kota, dan saya bertanya langsung: "Ibu mau apa. Tolong sampaikan ke saya langsung." Tidak ada jawabannya. Saya bingung. Banyak orang ikut bingung," sesal Azrul karena telah dicueki.
Baca Juga : 2 Menteri Dibekuk KPK, Dorongan Jokowi untuk Lakukan Reshuffle Makin Mencuat
Untuk mewujudkan kemajuan sepak bola di Surabaya ini, imbuh Azrul, sebenarnya butuh kolaborasi dengan Pemerintah Kota Surabaya. "Bagaimana pun, program seperti itu akan membutuhkan banyak lapangan, serta banyak kerja sama lain yang bisa melibatkan beberapa instansi," imbuh putra dari Dahlan Iskan ini.
Kini hubungan Persebaya dengan Pemkot Surabaya pun kembali meruncing. Itu setelah tiba-tiba Pemkot Surabaya dengan pasukan aparat sipilnya mengambil alih Mess Karanggayam.
Padahal selama ini Mess Karanggayam menjadi kantor dan tempat berputarnya roda kompetisi internal Persebaya.
Namun, ini dilawan oleh Persebaya dengan tak melibatkan pasukan Bonek. Persebaya memilih menempuh jalur hukum melalui gugatan perdata.
Hasilnya dua kali menang. Yakni, di tingkat Pengadilan Negeri Surabaya dan Pengadilan Tinggi Jawa Timur.
Tetapi, Pemkot Surabaya rupanya masih tak terima dan kembali melakukan banding ke Mahkamah Agung dengan mengajukan kasasi. "PEMKOT KASASI, PIALA DUNIA SILAHKAN PERGI," kecam Bonek dalam spanduk yang kemudian dipasang di depan Mess Karanggayam.
Tentang dipersulitnya Persebaya menggunakan fasilitas Pemkot Surabaya selama ini, Kabag Humas Pemkot Surabaya Febriadhitya Prajatara pun kami konfirmasi. Namun, telpon serta pesan singkat yang dikirim tidak dia respon.