Berdasarkan rilis resmi BMKG, hasil analasis prakiraan cuaca sepekan mendatang, terhitung mulai 5-11 Desember, potensi peningkatan curah hujan perlu diwaspadai.
Tingginya curah hujan dipengaruhi potensi peningkatan pertumbuhan awan-awan hujan di atas wilayah Indonesia dalam sepekan kedepan. Peningkatan potensi pertumbuhan awan ini dapat disebabkan oleh kondisi dinamika atmosfer yang tidak stabil.
Baca Juga : GSN Foundation Ajak Revolusi Hutan untuk Atasi Banjir di Bojonegoro
Faktor berikutnya aktifnya fenomena Madden Julian Oscillation (MJO), gelombang Rossby Ekuatorial, dan gelombang Kelvin di wilayah Indonesia. Serta adanya pusaran angin (sirkulasi siklonik) yang terpantau di beberapa tempat. Gelombang-gelombang ini dapat mendorong terbentuknya daerah pertemuan/perlambatan kecepatan angin (konvergensi).
Berdasarkan kondisi tersebut, BMKG memperkirakan dalam periode sepekan ke depan curah hujan dengan intensitas lebat yang dapat disertai kilat/petir dan angin kencang berpotensi terjadi di sebagian besar provinsi Indonesia. Termasuk di Jawa Timur.
Deputi Bidang Meteorologi, Guswanto mengimbau masyarakat agar tetap waspada dan berhati-hati terhadap potensi cuaca ekstrem yang mengakibatkan musibah hidrometorologi.
"Musibah puting beliung, hujan lebat disertai kilat/petir, hujan es. Maupun dampak yang dapat ditimbulkannya seperti banjir, tanah longsor, banjir bandang, genangan, angin kencang, pohon tumbang, dan jalan licin," urai Guswanto.
Koordinator TRC PB BPBD Kota Batu, Suhartono mengungkapkan, adanya curah hujan tinggi mengakibatkan luapan air meningkat.
lanjutnya, air beserta material sampah yang meluber ke jalan terjadi di beberapa titik. Di antaranya, di Jalan Raya Beji, Torongrejo, Sidomulyo, Bumiaji dan beberapa lokasi di Temas.
Baca Juga : Masih Ditemukan Sampah saat Normalisasi, DPUPRPKP Ingatkan Imbasnya
"Luapan air karena sumbatan material sampah di saluran drainase. Hingga meluber dengan membawa sampah dan lumpur," ujarnya
Pihaknya juga telah merekomendasikan ke dinas terkait seperti DPUPR Kota Batu melakukan survei ulang saluran drainase dan segera dilakukan tindakan normalisasi saluran.
"Debit air yang meluap juga karena penampang saluran air yang sempit atau karena pendangkalan," imbuh dia.
"Masyarakat perlu memiliki kesadaran dan mengubah paradigma agar aliran air ataupun sungai bukan tempat yang layak dijadikan pembuangan sampah," harapnya.