Tri Rismaharini baru saja membuat sebuah video dengan durasi sekitar 2,55 menit. Video itu dia buat agar warga datang ke TPS pada tanggal 9 Desember dan memilih paslon yang dia dukung.
Video ini selain disebar juga diunggah di akun medsos calon wali kota Eri Cahyadi. Eri menuliskan dengan judul: Surat Bu Risma untuk Warga Surabaya.
Baca Juga : Paslon MA: Persebaya Simbol Pemersatu
Dalam video ini, Tri Rismaharini menyinggung peristiwa 10 November di Surabaya. Dia coba menyamakan pertempuran politik kali ini dengan peristiwa puluhan tahun silam tersebut yang telah merenggut banyak nyawa pejuang di Surabaya.
"9 Desember nanti sejarah akan berulang. Saya percaya bahwa warga Surabaya yang saya cintai akan memperlihatkan, patriotisme yang sama. Untuk mempertahankan, meneruskan hal yang baik ," kata Risma.
Adanya video ini membuat kaget salah satu kiai NU di Surabaya, Gus Syaiful Chalim angkat bicara. Mantan ketua PCNU Surabaya tersebut merasa apa yang dibuat Risma itu tak diperlukan. "Ini urusan kecil, wong cuma hajatan politik," ujarnya dikonfirmasi Minggu (6/12).
Dia menjelaskan jika disamakan dengan 10 November tentu akan sangat berbeda. "Wong ini pesta politik, kita dalam keadaan merdeka dan rakyat punya hak pilih," tuturnya.
Gus Chalim kemudian lantas mempertanyakan persamaan yang dibuat oleh Risma. "Lah sekarang Risma kalau menyamakan dengan 10 November siapa yang Belanda? Siapa yang Indonesia, kan jauh," lanjut dia.
Menurut dia Risma sebagai wali kota harus berpikir soal kesatuan warga Surabaya. "Kalau orang tak pendidikan wajar disamakan dengan 10 November. Untuk merebut negara yang kita cintai. Apakah Surabaya dijajah? Kan tidak," tegas cucu pembuat lambang NU ini.
Baca Juga : Calon Bupati Malang Bu Nyai Lathifah Komitmen tidak akan Libatkan Keluarga dalam Proyek Pembangunan
Gus Chalim berpesan seharusnya Risma bisa memberikan kedewasaan masyarakat untuk berpikir, berbuat dan bertindak. Bersama siapa yang harus dipilih.
"Memang dulu kita tak bisa berbeda karena musuhnya jelas. Tapi sekarang harus berbeda, wong gak melawan penjajah. Ini kan hati nurani rakyat," beber dia.
Gus Chalim menambahkan jika dahulu jelas musuhnya adalah londo dan kafir harbi. Sedangkan saat ini adalah sesama warga yang hanya beda pilihan dan bukan masuk kategori kafir harbi.
"Dulu dengan Belanda, jangankan darahnya, nyawanya halal. Masak dengan pilkada disamakan. Dibandingkan Resolusi Jihad (10 November), jauh tak ada ukuran," imbuh dia.