Ilustrasi (Istimewa).
Ilustrasi (Istimewa).

Maulid Nabi Muhammad SAW selalu diperingati oleh sebagian besar muslim di seluruh dunia. Tahun ini, perayaan Maulid Nabi jatuh pada 28 Oktober hingga 29 Oktober 2020 malam. Berbagai tradisi pun sudah mulai dilakukan oleh umat muslim di berbagai penjuru dunia, tanpa kecuali Indonesia.

Namun perayaan untuk memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW itu masih menjadi perdebatan hingga sekarang. Ada banyak pendapat yang menyebut jika perayaan Maulid Nabi boleh dikerjakan. Meskipun, ada juga sebagian muslim lain menilai jika itu bukanlah ajaran Rasulullah SAW dan tidak harus dikerjakan.

Baca Juga : Ketahuan, Seorang Nonmuslim Pelajari Islam untuk Merusak dari Dalam

Bukan hanya itu, kapan pertama kali perayaan Maulid Nabi itu dilaksanakan dan siapa yang mencetuskannya pun masih ada berbagai pendapat yang berbeda. Sebagian menyebut jika perayaan Maulid Nabi dimulai sejak tahun 230 Hijriah, tetapi ada juga yang berpendapat jika Maulid Nabi dicetuskan saat akan terjadi perang salib.

Ustadz Khalid Basalamah dalam sebuah kajian menyampaikan, Maulid Nabi merupakan sebuah perayaan untuk Rasulullah SAW yang awal mula munculnya adalah pada tahun 230 H. Perayaan tersebut dicetuskan oleh Dinasti Fitimiyah Syiiyah yang dibentuk di Mesir. Ada enam jenis maulid yang dirayakan oleh orang-orang Syiah tersebut.

Ketika merayakan maulid, orang-orang Syiah akan berdiri dan beranggapan jika ruh Rasulullah SAW akan melewati mereka. Mereka membaca shalawat Nabi dan juga berbagai bacaan dzikir. Perayaan Maulid Nabi tersebut dibuat lantaran orang-orang Syiah melihat bangsa Romawi merayakan maulid untuk Nabi Isa.

Ustadz Khalid menyebut jika perayaan Maulid Nabi pada dasarnya tak pernah ada pada ajaran yang disampaikan Rasulullah SAW. Namun, perayaan tersebut dibuat sebagai salah satu bentuk rasa cinta kepada Rasulullah SAW.

Namun Ustadz Khalid berpendapat, rasa cinta kepada Rasulullah SAW seharusnya lebih dari cukup dilakukan dengan menjalankan semua sunnah yang diajarkan Rasulullah SAW, tanpa melebih dan menambahkan ataupun menguranginya. Karena apabila menambahkan apa yang disampaikan Rasulullah SAW, itu sama dengan menyatakan jika masih ada yang belum diajarkan Rasulullah SAW.

Padahal, dalam hadits Bukhari Muslim ditegaskan jika Rasulullah SAW di akhir hayatnya sebelum menghembuskan napas terakhirnya telah menyatakan jika semua ajaran telah disampaikan.

"Dalil yang paling jelas Rasulullah SAW menegaskan jika Rasulullah SAW telah menyampaikan semua dari Allah SWT dan jangan ditambah dan dikurangi," terang Ustadz Khalid.

Menurutnya, membaca selawat merupakan salah satu ajaran Rasulullah SAW yang bisa dikerjakan setiap saat, dan tidak hanya dalam waktu-waktu tertentu saja. Salah satunya, Rasulullah SAW pernah menyampaikan agar memperbanyak selawat saat hari Jumat.

"Selawat itu diperintahkan, tapi jangan dikarang secara khusus. Saya tidak menyalahkan tapi saya ingatkan apa yang saya ketahui," tambah Ustadz Khalid.

Sementara berkaitan dengan hadits yang menyebutkan jika Rasulullah SAW telah mengatakan adanya pahala atas sebuah perbuatan yang dilebihkan dalam Islam dan dijadikan pembenar untuk Bitah Hasanah, Ustadz Khalid menyebut jika hadits yang digunakan tersebut harus dipahami sebab kemunculannya.

Baca Juga : Pedang Lebih Besar Ketimbang Tubuhnya, Begini Kisah Ali Kalahkan Musuh Terkuat Rasulullah

Dalam Hadits Bukhari tersebut, dikisahkan jika Rasulullah SAW melihat dari kejauhan ada orang Badui dari Padang pasir yang datang ke Madinah untuk mendapatkan sedekah karena kemiskinan mereka. Saat itu adalah siang hari, saat setelah melaksanakan salat dhuhur.

Orang-orang Badui itu memiliki wajah yang hitam dan terlihat sangat tua karena kemiskinannya. Lalu Rasulullah SAW naik ke atas mimbar dan berkata, “Wahai muslimin, sesungguhnya semua yang kalian kumpulkan di dunia akan habis. Sebaik-baiknya harta adalah harta yang kalian infakkan. Maka bersedekahlah sebelum waktunya terlambat. Berikan kepada mereka. Bersedekahlah walaupun hanya dengan sebutir kurma.”

Ketika itu, sahabat termotivasi dan ada satu sahabat yang berdiri dan menyerahkan semua yang ada di kantongnya dan semua sahabat melakukan hal serupa. Rasulullah SAW kemudian berkata, “Siapa yang memulai melakukan hal baik dalam hal Islam, maka dia akan mendapatkan pahala orang yang melakukannya tanpa mengurangi sedikitpun pahala orang yang melakukannya.”

"Sayangnya hadits tersebut dibenarkan sebagai adanya bitah Hasanah. Padahal hadits tersebut ada sebabnya. Semoga semua bisa dipahami apa yang telah disampaikan Rasulullah SAW," terang Ustadz Khalid.

Sementara itu, pendapat lain menyebut jika perayaan Maulid Nabi pertama kali dicetuskan oleh Sultan Salahuddin Al-Ayyubi, pendiri Dinasti Ayyubiyah. Salahuddin adalah jenderal dan pejuang Muslim Kurdi yang berasal dari Tikrit, Irak.

Ketika pasukan Islam akan melakukan penaklukan ke berbagai daerah, salah satunya Yerussalem dan hendak mengalahkan pasukan salib, Sultan Salahuddin mengobarkan semangat pasukannya dengan menceritakan kisah-kisah inspiratif Rasulullah SAW. Termasuk di antaranya adalah semangat Rasulullah SAW saat berjuang melakukan berbagai peperangan.

Upaya membangkitkan rasa cinta kepada Rasulullah SAW itu disebut telah banyak memberikan pengaruh dan mengobarkan semangat para prajurit Islam. Sehingga, ketika itu pasukan muslim berhasil mengalahkan pasukan perang salib.

Semenjak itu, peringatan Maulid Nabi Muhammad kemudian diselenggarakan pula oleh penguasa Islam di Timur Tengah. Beberapa menyebut jika itu menjadi titik mula perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW.