Budi Daya Lebah Usaha yang Menjanjikan dengan Modal Murah | Jatim TIMES

Budi Daya Lebah Usaha yang Menjanjikan dengan Modal Murah

Oct 25, 2020 16:52
Edi Suryanto menunjukkan koloni lebah yang dibudidaya di samping rumahnya (Nurhadi Banyuwangi/ JatimTIMES)
Edi Suryanto menunjukkan koloni lebah yang dibudidaya di samping rumahnya (Nurhadi Banyuwangi/ JatimTIMES)

Bagi Edi Suryanto pelopor kelompok peternak lebah “Manggarsari” yang berjumlah 15 orang dan warga Dusun Sumbergroto Desa Rejoagung Kecamatan Srono Banyuwangi, budi daya lebah merupakan lapangan usaha yang cukup menjanjikan dan tidak membutuhkan modal besar. 

Ungkapan tersebut disampaikan Edi di rumahnya di lingkungan pedesaan yang sederhana dan berdampingan dengan usaha pembuatan gula kelapa tradisional milik warga setempat.

Baca Juga : Kampanye 3R Terus Digaungkan, Bisnis Pakaian "Second" Ikut Melambung

Menurut Edi budidaya lebah membutuhkan dana sekitar Rp 15 ribu untuk membeli paku dan papan kayu randu ukuran 2 meter untuk dijadikan kotak rumah koloni lebah dan tempat gantungan yang terlindung dari air hujan namun terbuka untuk keluar masuk lebah. 

Ayah dua anak itu menuturkan untuk menambah pendapatan bagi keluarga satu orang peternak lebah memiliki 50 sampai dengan lebih dari 100 kotak.

”Warga di sini budidaya lebah untuk konsumsi atau diambil rumah (tala-bhs Jawa) bukan tawon madu yang dipanen setiap 17 – 20 sekali dengan harga jual Rp 50- 80 ribu per kilogram tergantung mutu dan kualitas tala. Untuk papan yang produktif 3 kotak mampu menghasilkan 1 kilogram tala,” jelas Edi.

Penyandang difabel yang dikenal ringan tangan dan memiliki jiwa sosial yang tinggi itu menambahkan apabila dihitung secara harian satu kotak sarang lebah (tawon) mampu memberika tambahan bagi pembudidaya Rp 1.000,- sampai dengan Rp 1.250,-.

“Banyak keuntungan yang diperoleh warga yang melakukan budidaya lebah jenis ini antara lain; tidak perlu menyiapkan atau memberikan makanan, tidak ada polusi dan tidak ada kotoran,” imbuhnya. 

Modal yang dibutuhkan bagi pembudidaya lebah tentu saja kesabaran, ketelatenan dan keuletan karena usaha ini tergantung pada kondisi alam lingkungan. Pada jaman dulu saat masih banyak pohon yang rindang kotak yang disiapkan lebih produktif. Namun dengan semakin banyaknya pohon yang ditebang dan lahan beralih fungsi menjadi kawasan perumahan warga maka produktivitasnya menjadi berkurang.

”Namun untuk warga Desa Rejoagung saat ini sangat tebantu dengan adanya usaha penderesan kelapa sehingga lebah bisa mencari makan dengan menghisap legen milik warga. Selain itu adanya warga yang menanam jagung dan buah naga bisa menjadi penyuplai kebutuhan makan lebah,” jelas Edi.

Baca Juga : OJK Malang Punya PR Utama Tingkatkan Sisi Demand Masyarakat

Di Desa Rejoagung lanjut dia merupakan pemandangan yang lumrah banyak mobil baru yang di dalamnya mengangkut kotak untuk penjaringan koloni lebah yang dipasang di pohon-pohon masyarakat desa setempat. 

Di sini terjadi simbiosis mutualisme antara pembudidaya dengan petani yang menanam jagung dan buah naga. Di mana keberadaan lebah dirasakan manfaatnya dalam membantu penyerbukan calon buah yang lebih aman dan higienis daripada penyerbukan oleh manusia yang terkadang hasilnya kurang maksimal.

Lebih lanjut Edi berharap budi daya lebah konsumsi yang dilakukan warga Desa Rejoagung mendapatkan perhatian lebih dari pemerintah utamanya bantun modal untuk pengembangan usaha.

”Kami sudah mencoba mengajukan bantuan kepada pemerintah desa semoga ada follow up dari pemerintah kabupaten dalam membantu warga masyarakat untuk mendapatkan tambahan pendapatan bagi keluarga, apalagi dalam masa pandemi wabah Covid- 19 yang memberikan dampak luar biasa bagi pemulihan ekonomi rakyat,” imbuh Edi yang juga aktif di Partai Demokrat mengakhiri wawancara.

 

Topik
budidaya lebah madu usaha lebah madu

Berita Lainnya