H Sugirah (paling depan) Cawabup Banyuwangi paslon nomor 2 Nurhadi Banyuwangi Jatim Times
H Sugirah (paling depan) Cawabup Banyuwangi paslon nomor 2 Nurhadi Banyuwangi Jatim Times

Pasangan calon (Paslon) Bupati dan Wakil Bupati di Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Banyuwangi punya banyak kekurangan dan kelebihan. Berikut pandangan mantan Bupati Banyuwangi Ratna Ani Lestari terhadap para kontestan serta langkah-langkah yang harus dilakukan untuk memenangkan persaingan. 

Menurut Ratna, Calon Wakil Bupati Banyuwangi Sugirah tidak begitu besar pengaruhnya. Menurut dia, kurangnya pengaruh itu dikarekanan saat menjadi anggota DPRD Kabupaten Banyuwangi wilayahnya hanya sebatas Daerah Pemilihan (Dapil) IV Banyuwangi. Yakni meliputi wilayah kecamatan; Purwoharjo, Gambiran, Siliragung, Pesanggaran dan Tegalsari. 

Baca Juga : Pastikan Pengawas Pilkada Aman dari Covid-19, Bawaslu Banyuwangi Lakukan Rapid Test Masal

“Selama menjadi anggota dewan dalam beberapa periode selalu  sama wilayah perwakilannya. Dalam kontestasi pilbup H. Sugirah perlu lebih jauh melangkah, perlu keberanian masuk wilayah lawan. Apalagi wilayah-wilayah  lawan potensinya banyak pertanian. Tinggal masuk dengan menawarkan program-program pertanian yang menjadi andalannya,” ungkap Ratna yang juga menjadi dosen di salah satu PTS di Surabaya ini.

Karena itu, Ibu satu putri itu menyarankan H Girah untuk mengurangi kegiatan seremonial berdampingan dengan Calon Bupati Ipuk Fiestiandani atau cuma duduk-dukuk menerima  tamu di rumahnya. Menurutnya, Girah harus lebih sering turun dan melakukan dialog langsung dengan calon pemilih, biar lebih dikenal Personality Sugirah. ”Ingat pesaingnya, Gus Riza didukung alumni Pondok Pesantren BlokAgung yang tersebar di seluruh wilayah Banyuwangi,” imbuhnya.

Wanita kelahiran Banten itu menambahkan pascapemecatan H Yusuf Widyatmoko, pada dasarnya PDI Perjuangan  tidak ada pengaruh yang signifikan. Sebab, rakyat tahu dalam Pilkada rakyat memilih figur dan visi-misi/program kerja. Pemilih PDI Perjuangan militan terutama daerah selatan dalam pilkada Banyuwangi kali kecewa dengan turunnya rekomendasi bukan pada kader murni, kader PDI Perjuangan (H,Sugirah) hanya sebagai wakil dan  rakyat mengetahui tidak mempunyai peran menentukan kebijakan.

Di sisi lain posisi Yusuf Widiatmoko sebagai kader PDI Perjuangan yang disinyalir membelot ke partai politik lain tidak serta merta membawa massa partai berlambang Banteng Moncong Putih ke Mas Yusuf. Hal itu dikarenakan sekitar 10 tahun menjadi Wabup, kiprahnya kurang di masyarakat atau sengaja tidak difungsikan sehingga kurang dikenal masyarakat Banyuwangi. “Tokoh sentral dalam kontestasi pilkada Banyuwangi yang menjadi rujukan pemilih justru pada sosok Gus Riza yang mewakili kalangan pondok pesantren dan mewakili suara kaum millenial,” beber dia.

Lalu  bagaimana  dengan Sosok Ipuk yang tidak punya jam terbang bahkan tidak ada catatan terlibat politik praktis? Apakah ini sebagai gambling parpol pengusung dalam lima tahun ke depan? Menurut Ratna: Ipuk membawa misi nama besar bupati Azwar Anas, mungkin DPP melihat nilai jualnya di sana. 

Baca Juga : Warga Keluhkan Jalan Rusak di Dampit, Paslon SanDi Tawarkan Program JAMU TEKA

Sebenarnya tidak bisa menilai kepemimpinan seseorang sebelum melakukan Action apapun. Copy Paste program sangat bisa, akan tetapi gaya kepemimpinan pasti beda. Latar belakang Ipuk, pengalaman berpolitik dan berorganisasi sangat besar pengaruhnya pada sikap sesorang dalam bersikap. Apalagi sebagai Leader, sebagai Bupati yang memimpin pegawai yang berpengalaman dan paham regulasi. ”Ipuk perlu belajar banyak dalam  menghadapi situasi ini, sosok Sugirah tidak begitu besar pengaruhnya. Pesaingnya Gus Riza sangat mewakili kaum millenial dan didukung ribuan alumni Ponpes Blokagung yang tersebar se Banyuwangi,” jelas wanita berkerudung itu.

Kedua paslon bupati-wakil bupati Banyuwangi baik Mas Yusuf-Gus Riza maupun Ipuk-H Sugirah perlu mengajak pemilih pemula untuk mengawal program-program kampanye agar terwujud saat menang nanti. Karena mereka harus menghadapi birokrasi yang biasa dengan kegiatan rutin sehingga jangan sampai beberapa program unggulan hanya sekedar menjadi jargon kampanye saja, Untuk kedua Cawabup ke depan kedua calon ini bisa lebih terbuka dari awal ada perjanjian  ada pembagian kewenangan/pelimpahan kewenangan dalam menjalankan tugas dan kewajiban memimpin Banyuwangi.