Ki Minto Sudarsono, Kepala Desa Pakisrejo, Rejotangan, Kabupaten Tulungagung / Foto : Anang Basso / Tulungagung TIMES
Ki Minto Sudarsono, Kepala Desa Pakisrejo, Rejotangan, Kabupaten Tulungagung / Foto : Anang Basso / Tulungagung TIMES

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tulungagung, masih belum mengizinkan pertunjukan yang mengundang banyak orang. Namun, Pemkab Tulungagung mengizinkan adanya hajatan di tengah pandemi Covid-19 dengan protokol kesehatan yang ketat.

Bupati Tulungagung Maryoto Birowo, mengatakan, memperbolehkan pertunjukan asalkan tidak mengundang banyak massa. Pertunjukan yang dimaksud diantaranya seperti organ tunggal dengan 1 penyanyi. Untuk hiburan yang mengundang banyak orang, seperti jaranan, wayang kulit atau orkes dangdut masih dilarang.

Baca Juga : Rachmawati "Unyil" TKW asal Tulungagung, Penari Lincah Reog Kendang di Hong Kong

Pelarangan ini termasuk juga hiburan modern seperti bioskop. Pihaknya sudah berkoordinasi dengan Polres Tulungagung untuk larangan pertunjukan hiburan yang mengundang massa.

Kondisi inilah yang membuat seniman yang sekaligus Kepala Desa Pakisrejo, Kecamatan Rejotangan, Ki Minto Sudarsono (54) angkat suara. Dirinya mengatakan, bahwa belum bolehnya pertunjukan wayang kulit akan mengakibatkan semakin terpuruknya ekonomi pelaku seni ini.

Dalang kondang ini menceritakan, selama 8 bulang sejak pandemi Covid-19 berlangsung, dirinya telah membatalkan lebih dari 80 job. Itupun dihitung sejak bulan Maret hingga Juni 2020 lalu.

"Semua job di batalkan. Pemilik hajat masih berharap pandemi ini cepat berlalu," ujarnya.

Kurun 8 bulan bagi seniman yang berkecimpung di dunia wayang kulit bukan persoalan sederhana. Minto menjelaskan, kru seniman wayang merupakan kelompok besar yang rata-rata terdiri dari 55 personil atau bahkan lebih.

"Mereka (kru, red) ini punya banyak tanggungan. Bukan hanya persoalan kebutuhan makan saja namun punya tanggungan cicilan angsuran dan kebutuhan lain yang berat," ungkapnya.

Job pertunjukan wayang merupakan pendapatan rutin dan dapat dikatakan primer saat ini. Jika akhirnya harus berhenti sekian lama, para seniman wayang kulit yang terdiri dari wiyogo dan sinden sangat kesulitan mencari alternatif penghasilan.

"Kalau saya Kepala Desa kembali pada tugas saya melayani masyarakat. Namun bagi anggota bahkan sudah yang datang ke rumah, minta dipinjami uang dan nanti disuruh potong saat situasi normal kembali. Ada juga yang alih profesi, namun semua belum memberikan solusi atau alternatif pendapatan mereka," jelasnya.

Selain merasa prihatin, Ki Minto merasa miris mendapat cerita dan curhat para kru-nya di group WhatsApp tempat saling komunikasi.

"Sinden saya ada yang harus beralih profesi menanam sawi, jualan kelapa dan wiyogo saya harus jualan bekicot," terangnya.

Baca Juga : Polres Madiun Gelar Wayang Virtual "Corona Sumilak", Simak Pesannya

Di akui Ki Minto, untuk Kabupaten Tulungagung belum pernah ada pembicaraan menyangkut solusi atas permasalahan ini. Namun, untuk Kabupaten lain seperti Blitar, para dalang sudah meminta kepada Bupatinya untuk memikirkan konsep yang tepat agar pertunjukan wayang kulit dapat digelar.

Ki Minto Sudarsono berharap, jangan sampai di Tulungagung ini terjadi seperti di Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah.

Dikatakannya, karena ada pertunjukan yang dihentikan muncul aksi keprihatinan yang dilakukan dalang yang bernama Ki Gondo Wartoyo.

"Saking jengkel barangkali, rekan dalang itu menggelar aksi wayangan di tengah sawah, di atas genteng dan lainnya," paparnya.

Aksi dalang Gondo Wartoyo merupakan bentuk kritik pada pemerintah karena kebijakan yang dilakukan dianggap mematikan seniman.

Ki Wartoyo menilai, saat ini terdapat tumpang tindih peraturan. Di mana, pentas wayang kulit yang telah sesuai dengan izin prosedur kemudian dibubarkan atau diminta ditunda oleh petugas dengan alasan untuk mencegah penyebaran Covid-19.