Pedagang yang masih bertahan berjualan dipintu masuk (Foto : Moch. R. Abdul Fatah / Jatim TIMES)
Pedagang yang masih bertahan berjualan dipintu masuk (Foto : Moch. R. Abdul Fatah / Jatim TIMES)

Sejak merebaknya Covid-19, pihak Rumah Sakit dr. Haryoto Lumajang melarang penjual makanan dan minuman menjajakanya dagangannya di dalam rumah sakit.

Akibat larangan ini, sejumlah pedagang di rumah sakit ini berhenti berjualan dan memilih mencari pekerjaan lain.

Baca Juga : Agar Merasa Memiliki, Pramuka Lumajang Akan Dilibatkan Hijaukan Glagah Arum

"Dulu ada 32 pedagang berjualan di dalam rumah sakit, sekarang tinggal 6 orang. Yang lain ada jualan keliling di tempat lain, ada juga yang tidak jualan lagi. Mungkin mencari pekerjaan lain,"  kata Ririn, salah seorang pedagang, yang masih bertahan berjualan di pintu masuk rumah sakit.

Dengan berjualan di pintu rumah sakit, Ririn mengaku omsetnya tinggal 25 persen saja dari biasanya. Dulu, ketika masih bebas berjualan di dalam, Ririn mengaku bisa menjual sampai 100 nasi bungkus saat pagi hari. 

"Sekarang ini saya membawa 30 bungkus saja kadang tidak habis pak. Kadang hanya laku 15 sampai 25 bungkus saja. Yang jelas sekarang ini sangat jauh pak pendapatannya dibandingkan dengan sebelum adanya corona," kata Ririn.

Dijelaskan Ririn, dari 32 pedagang yang berjualan di rumah sakit dr. Haryoto Lumajang, dagangannya beda beda. Mulai dari makanan sampai menyediakan kebutuhan pasien lainnya.

Baca Juga : Begini Melimpahnya Pisang di Klakah, Jalanpun Macet Karena Pisang

"Kami ingin bisa kembali seperti dulu lagi pak. Kalau tetap seperti ini sebenarnya sangat tidak cukup hasilnya, tapi karena tidak ada penghasilan lagi, saya tetap bertahan berjualan disini," tutur Ririn, yang dibenarkan oleh Bu Gima, rekan pedagang lainnya.

Kedua pedagang ini mengaku berjualan di pintu masuk sudah selama 8 bulan sejak adanya Covid-19. Salah satu pedagang lainnya beralih berjualan masker di depan rumah sakit.