Ilustrasi
Ilustrasi

Viralnya tanaman Janda Bolong yang katanya daunnya bagus karena berlubang dan punya harga fantastis mulai menuai pro dan kontra. Selain harga yang tinggi mengalahkan harga barang-barang kebutuhan sehari-hari, banyak 
orang tertarik dan bahkan tergiur untuk berbisnis tanaman yang kini sedang hits.

Janda Bolong sendiri adalah tanaman Monstera. Layaknya dunia fashion, selalu ada tren tanaman hias yang berbeda setiap tahunnya.

Baca Juga : Tinggal di Gubuk Reot di Tengah Perbukitan, Nenek Tunanetra Ini Kaget Terima Uang dari Program Ngedum Ojir

"Makin lama makin tidak masuk akal harganya," kata seorang pecinta bunga asal Tulungagung, Ivan saat dikonfirmasi, Rabu (30/09/2020).

Ivan mengingatkan kasus bunga Gelombang Cinta yang pernah heboh beberapa tahun lalu. Menurutnya, Janda Bolong dan Gelombang Cinta adalah monkey business.

Lalu apa itu, Monkey business atau bisnis monyet?

"Itu sebutan untuk sebuah perumpamaan strategi bisnis untuk merugikan orang lain dan menguntungkan diri sendiri," ujarnya.

Ivan menegaskan, monkey business termasuk dalam dirty business yang sebaiknya dihindari oleh orang yang ingin belajar berwirausaha.

"Jadi ada dinamika atau tepatnya skenario yang dirancang oleh pencari untung agar momen adanya Janda Bolong dapat menyita perhatian masyarakat," imbuhnya.

Ivan menguraikan, modus bisnis seperti ini dimulai dari pemodal yang mengumumkan akan membeli monyet dengan harga Rp 50 ribu per ekor. Padahal monyet di tempat itu sama sekali tak ada harganya karena jumlahnya yang banyak dan kerap dianggap sebagai hama pemakan tanaman buah-buahan.

"Para penduduk desa yang menyadari bahwa banyak monyet disekitar desa pun kemudian mulai masuk hutan dan menangkapinya satu persatu," jelas Ivan.

Setelah monyet ditangkap, pemodal membeli tiap monyet dengan harga yang di umumkan. 
Namun karena penangkapan secara besar-besaran, akhirnya monyet-monyet semakin sulit dicari. Penduduk desa pun menghentikan
usahanya untuk menangkapi monyet.

Maka pemodal sekali lagi kembali untuk mengumumkan akan membeli monyet dengan harga Rp 100 ribu per ekor.

"Karena menjadi angin segar bagi penduduk desa untuk kemudian mulai untuk menangkapi monyet lagi hingga jumlah monyet pun semakin sedikit dari hari ke hari dan semakin sulit dicari," tuturnya.

Setelah monyet menjadi langka, harganya meroket naik hingga Rp 150 ribu per ekornya.

"Tapi tetap saja monyet sudah sangat sulit
dicari," imbuhnya.

Baca Juga : Ngemut Gulo Hingga Gatheng, Kebiasaan Masa Kecil Bocah Tulungagung yang Mulai Punah

Sekali pemodal akan mengumumkan kepada penduduk desa bahwa ia akan membeli monyet dengan harga Rp 500 ribu per ekor.

"Dengan alasan pemodal harus pergi ke kota karena urusan bisnis, asisten pribadinya akan menggantikan sementara atas namanya," paparnya dengan perumpamaan yang diceritakan.

Dengan tiada kehadiran pemodal ini, asisten pun mengumumkan diam-diam bahwa monyet yang ada di kurungan besar yang dikumpulkan oleh pemodal akan dijualnya seharga Rp 350 ribu.

"Iming-imingnya agar penduduk desa dapat membeli dan menjualnya kembali dengan harga yang diumumkan pemodal," jelasnya.

Akhirnya, penduduk desa pun mengumpulkan uang simpanan mereka, menjual aset bahkan kredit ke bank dan membeli semua monyet yang ada di kurungan. Namun, setelah dibeli maka pemodal dan asistennya menghilang.

"Artinya, skema bisnisnya bisa begitu dan yang rugi adalah masyarakat yang terlanjur tergiur," tandasnya.

Ivan kemudian menyebutkan korban-korban bisnis serupa seperti ikan Arwana, Lohan, Gelombang Cinta, batu akik, Love Bird dan tokek serta barang antik.

"Strategi seperti ini biasanya dilengkapi juga dengan propaganda bisnis yang luar biasa dengan cara pameran-pameran, seminar-seminar dan event besar dengan harga-harga yang menggiurkan. Sehingga masyarakat banyak yang tertarik untuk ikut bermain di dalamnya. Padahal di event itu, aktornya adalah para orang orang  kapitalis yang bersandiwara untuk memikat masyarakat banyak," pungkasnya.