Wali Kota Malang Sutiaji. (Arifina Cahyanti Firdausi/MalangTIMES).
Wali Kota Malang Sutiaji. (Arifina Cahyanti Firdausi/MalangTIMES).

Sederet fasilitas penunjang bagi pasien terkonfirmasi positif yang harus menjalani isolasi mandiri harus dipastikan maksimal. Sebab, hal itu yang dinilai akan lebih cepat mengembalikan imunitas tubuh. Namun,  fasilitas medis, ruangan, dan segala yang berhubungan dengan kesehatan tetap harus tersedia lengkap.

Hal inilah yang menjadi perhatian Pemerintah Kota (Pemkot) Malang ketika nantinya Rumah Sakit Darurat Lapangan yang rencananya berada di area Politeknik Kementerian Kesehatan Malang (Polkesma) resmi dioperasionalkan.

Baca Juga : Akhirnya, Mesin PCR Milik Pemkab Malang Sudah On Air, tapi Belum Berjalan Maksimal

Wali Kota Malang Sutiaji menyatakan, beberapa fasilitas penunjang lain yang berkaitan dengan hiburan dan olahraga diusulkan untuk RS Darurat Lapangan itu. Antara lain ketersediaan kafe, musik karaoke, hingga alat olahraga.

Nantinya, dengan berbagai fasilitas tersebut, pasien akan lebih senang dan imunitasnya meningkat lebih cepat. "Saya mengusulkan di situ ada kafenya 24 jam. Harus ada musik karaokenya, sehingga imunnya terjaga. Lalu ada lapangannya. Kan luas, jadinanti untuk olahraga dan lain sebagainya," ujarnya saat ditemui di sela-sela giat gowes bersama gubernur Jawa Timur, Sabtu (19/9/2020).

Terkait tenaga kesehatan dan tenaga penunjang lainnya yang akan diperbantukan di RS Darurat Lapangan ini, Sutiaji menyebut otoritas itu berada di ranah Provinsi Jawa Timur. "Itu bukan domain kami. Semuanya dari provinsi nanti," imbuhnya.

Kota Malang sendiri sejatinya telah memiliki rumah isolasi atau safe house yang bertempat di Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) di Jl Kawi. Kapasitasnya juga telah ditambah lagi menjadi 84 bed.

Baca Juga : Harlantas di Tengah Pandemi Covid-19, Satlantas Polres Malang Gelar Baksos Donor Darah

Safe house itu juga akan dimaksimalkan untuk menggeser para pasien covid-19 yang menjalani isolasi mandiri di rumah. Sehingga dipastikan tidak ada lagi yang isolasi mandiri.

"Memang isolasi mandiri ini secara psikologis tak bisa diyakini mematuhi protokol kesehatan. Ada secara fisik saja rumahnya tidak memungkinkan. Jadi, ini harus disampaikan. Tidak ada istilahnya isolasi mandiri, OTG (orang tanpa gejala) dan gejala ringan nanti masuk ke sana. Termasuk nanti yang di kami (safe house) ada 84,"  ucapnya.