Adi Sucipto, tokoh Pokdarwis Kedungtumpang Pucanglaban / Foto : Anang Basso / Tulungagung TIMES
Adi Sucipto, tokoh Pokdarwis Kedungtumpang Pucanglaban / Foto : Anang Basso / Tulungagung TIMES

Tradisi labuh laut atau larung sembonyo aebagai bentuk rasa syukur warga di seputar wilayah Kedungtumpang Kecamatan Pucanglaban Kabupaten Tulungagung tetap terjaga hingga kini. Meski masyarakat bukanlah nelayan, namun mereka juga menjaga tradisi tersebut.

Masyarakat menyadari, hidup di wilayah pesisir bukan hanya ikan yang dapat menjadi potensi ekonomi, namun bidang lain masih banyak dapat dimanfaatkan. Salah satunya adalah potensi wisata, karena Kedungtumpang mempunyai pemandangan yang sangat menakjubkan.

Baca Juga : Murak Berkat di Jalan Kampung, Cara Masyarakat Ngentrong Sambut HUT RI Tahun Ini

Tradisi dan budaya yang dilestarikan masyarakat ini lahir dari mitos yang berkembang hingga diyakini oleh masyarakat di Pantai Kedungtumpang secara turun temurun.

Menurut tokoh kelompok masyarakat sadar wisata (Pokdarwis) Adi Sucipto, masyarakat meyakini bahwa tradisi yang biasa dilakukan pada bulan Suro tanggal 1 penanggalan jawa ini merupakan adat budaya yang harus dilestarikan.

“Peringatan Larung Sembonyo saat ini sudah rutin digelar dari masa dulu, jika sebelumnya tidak kompak kini semakin kompak," kata pria yang disebut mas Cip ini, Kamis (20/08/2020).

Di kawasan wisata Kedungtumpang, labuh laut selalu menonjolkan sisi budaya sekaligus menarik minat wisatawan.

Labuh laut adalah sedekah laut, secara filosofis kegiatan ini sebagai salah satu bentuk rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala rizki yang telah diberikan kepada mereka. “Ini merupakan salah satu bagian dari wujud syukur atas karunia serta limpahan rizky kepada kita. Selain memang juga merupakan warisan budaya adat yang harus dilestarikan,” terangnya.

Warga masyarakat dengan sukarela dengan antusias menyiapkan tumpeng raksasa sekaligus sesembahan berupa kepala kambing dan sesajen lain guna di larung ke laut lepas.

Kegiatan upacara labuh larung sembonyo ini bukan sebuah kemusrikan karena diyakini merupakan implementasi dari salah satu wujud rasa syukur kepada Tuhan, sehingga sebelum dilarung dua buceng dan sesajen lain di berikan doa agar masyarakat dijauhkan dari segala musibah.

Baca Juga : Selamatan Lebaran Haji, Menjaga Adat dari Serbuan Gaya Hidup Global

Sementara itu, Asper Perhutani BKPH Kalidawir Sachur Rohman saat dikonfirmasi mengatakan Perhutani selaku pengelola hutan berkewajiban untuk mendukung dan mendorong agar potensi wisata yang ada wilayah kerjanya bisa berkembang dengan baik.

"Kita dorong agar menjadi salah satu tujuan wisata sehingga bisa berkontribusi terhadap kesejahteraan masyarakat sekitar, para pihak yang terkait memberikan sharing input termasuk perhutani," kata Sachur.

Jika dilihat dari pemandangan, menurut Sachur Kedungtumpang sangat layak dikembangkan. Apalagi, jika Jalur Lintas Selatan sudah on the track, wilayah yang punya potensi wisata diharapkan siap baik regulasi Perjanjian Kerjasama (PKS), sarana dan prasarana, serta sumber daya manusia.

"Dan yang lebih penting lagi karena ini wisata alam, pembangunan wisata ini bisa menjadi triger dalam membangun hutan dan lingkungan sekitarnya," pungkasnya.