free web hit counter
Jatim Times Network Logo
Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Pendidikan

Dikbud Bondowoso Anggap Ada Miskomunikasi soal Siswa ABK yang Disebut Dikeluarkan Sekolah

Penulis : Suwaris - Editor : Yunan Helmy

07 - Aug - 2020, 01:50

Placeholder
Plt Kepala Dikbud Bondowoso Haeriyah Yuliati

BONDOWOSO - Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Bondowoso menegaskan bahwa pelajar ABK (anak berkebutuhan khusus) di SMP Negeri 2 Tamanan tidak pernah diminta mengundurkan diri oleh pihak sekolah. Sebab, sejak awal pihak sekolah tidak pernah merasa mengeluarkan siswa ABK itu.

Adapun permasalan yang sebenarnya terjadi disebut karena miskomunikasi antara pihak sekolah dan wali murid. "Pihak sekolah tidak pernah merasa mengeluarkan siswa yang bernama Hendra dari SMP N 2 Tamanan. Kejadian ini hanya miskomunikasi antara pihak sekolah dan orang tua," Kata Plt Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Bondowoso Haeriyah Yuliati, Kamis (6/8/2020).

Baca Juga : Kemendikbud Bakal Luncurkan Kurikulum Covid, Sederhanakan Kurikulum Lama secara Dramatis

Haeriyah menjelaskan, sebenarnya pihak sekolah memanggil orang tua Hendra untuk berkomunikasi perihal mengharapkan peran serta orang tua untuk ikut bersama-sama membantu pihak sekolah dalam pembelajaran siswanya. Terlebih,  Hendra memang perlu pendampingan khusus  orang tua dalam pembelajarannya.

"Mengapa kami katakan tidak ada penolakan? Karena selama beberapa waktu sejak masa pendidikan,  sudah dilakukan pendidikan luring ke rumah anak tersebut. Jadi, ada kunjungan ke rumah siswa itu oleh guru," kata Haeriyah.

Belajar dari kejadian ini, Haeriyah pun mengingatkan semua tenaga pendidik di lembaga pendidikan yang menangani pendidikan inklusi untuk lebih bijak dalam menyampaikan pesan-pesan kepada wali murid. Tujuannya agar tak terjadi kesalahpahaman.

Diberitakan sebelumnya, pelajar ABK bernama Muhammad Hendra Afriyanto, warga Desa Kemuning, Kecamatan Tamanan, diminta mundur karena keterbatasan fisiknya sebagai ABK daksa yang dinilai oleh guru sebagai kendala untuk mengikuti pendidikan di sekolah tersebut. Akibat peristiwa tersebut, bocah polos tersebut menangis tersedu dan masih trauma.

Sebelumnya, Kepala SMPN 2 Tamanan Murtaji membantah pihaknya meminta Hendra untuk mengundurkan diri dari sekolah. Ia menyebut justru orang tua Hendra sendiri yang berinisiatif meminta untuk anaknya mundur dari SMPN 2 Tamanan.

“Tidak benar itu. Jadi, kemarin orang tuanya datang ke sekolah, minta konsultasi. Ibunya sendiri kok yang bilang ingin memindahkan anaknya ke SLB,” ujar Murtaji saat dikonfirmasi melalui telepon pada Selasa (04/08/2020) pagi.

Baca Juga : Meski Zona Merah, Pemkot Malang Bersiap Membuka Sekolah dengan Tatap Muka

Murtaji menegaskan, kedatangan orang tua Hendra ke sekolah, murni atas inisiatif sendiri, bukan karena dipanggil pihak SMPN 2 Tamanan. Atas permintaan “pengunduran diri” Hendra itu, pihak sekolah mengaku masih akan merapatkannya.

“Ini kami masih koordinasi, tapi tetap sekolah di sini. Memang sekolah di Bondowoso harus menerima. Memang di sini, ada yang seperti itu, tapi bisa menulis,” ujarnya.

Di sisi lain,  Suyadi dan Asyati, orang tua siswa ABK daksa itu, memgatakan ada tiga orang guru yang mendatangi mereka. Ketiganya menyampaikan permohonan maaf. Mereka juga membawa kembali buku pelajaran milik Hendra yang sebelumnya sudah dikembalikan kepada pihak sekolah. 


Topik

Pendidikan



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Jatim Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Suwaris

Editor

Yunan Helmy