Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Blitar, dr Kuspardani (Foto: Aunur Rofiq/ BlitarTIMES)
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Blitar, dr Kuspardani (Foto: Aunur Rofiq/ BlitarTIMES)

Tidak kenal lelah memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat, Pemerintah Kabupaten Blitar memberikan layanan kesehatan maksimal kepada pasien positif corona (covid-19) di wilayahnya. 

Belum ada obat khusus yang diberikan pada pasien covid-19. Akan tetapi ada beberapa perawatan yang dilakukan para dokter di Indonesia khususnya di Kabupaten Blitar untuk membantu menyembuhkan pasien covid-19. Kunci kesembuhan pasien salah satunya adalah dengan karantina dan memperkuat imunitas di tubuhnya. 

Baca Juga : Tambah 3 Pasien Sembuh di Kota Batu, Menyisakan 19 Pasien Konfirm Covid-19 Dirawat

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Blitar, dr Kuspardani menyampaikan Dinkes bersama Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Kabupaten Blitar memberikan penanganan khusus seiring dengan meningkatkan kasus covid-19 di wilayahnya. Untuk pasien tanpa gejala dirawat di rumah karantina di Local Education Center (LEC) Garum. Sementara pasien yang bergejala dirawat di RSUD Ngudi Waluyo Wlingi dan Rumah Sakit Medika Utama. 

“Rumah sakit sudah overload seiring dengan meningkatnya kasus di Kabupaten Blitar. Terobosan dalam merawat pasien kita lakukan demi optimalisasi penanganan,” ungkap dr Kuspardani ditemui awak media di ruang kerjanya, Senin (27/7/2020). 

Sementara terkait karantina mandiri bagi pasien positif covid-19, Dinas Kesehatan bersama Gugus Tugas memberikan izin kepada pasien dengan persyaratan ketat. Apabila tidak memenuhi syarat maka yang bersangkutan diharuskan menjalani karantina di LEC Garum.

“Bila rumahnya tidak memungkinkan untuk karantina, maka ya tidak kami izinkan. Bila ada permasalahan di lapangan, Muspika dalam hal ini Pak Camat, Kapolsek dan Danramil maju semua supaya orangnya mau. Ditakutkan bila tetap bersikukuh tetap karantina di rumah dengan persyaratan yang tidak memungkinkan, akan menyebabkan transmisi lokal,” imbuhnya. 

Di kesempatan ini dr Kuspardani juga menyampaikan pemahaman kepada masyarakat terkait penanganan pasien covid-19 yang bergejala dan tidak bergejala. Dalam menangani pasien konfirmasi yang bergejala, Dinkes bersama Gugus Tugas berupaya menemukan kontak erat atau periode kontak dihitung dua hari sebelum timbul gejala hingga 14 hari setelah timbul gejala.

Kemudian untuk pasien yang tanpa gejala, untuk menemukan kontak erat dihitung dari dua hari sebelum kasus timbul gejala dan 14 hari setelah pengambilan spesimen. 

“Untuk pasien bergejala, misal Orang Tanpa Gejala (OTG) melakukan swab hasilnya positif. Akan ditelusuri dua hari lalu dia dengan siapa saja. Ini yang disebut kontak erat. Ini akan didata. Setelah positif, akan langsung dikarantina itu lebih aman,” jelasnya.  

Dijelaskan pula, bagi seseorang dengan status kontak erat dengan positif dan telah menjalani karantina selama 14 hari, yang bersangkutan dipastikan sudah aman dari covid-19. Hal tersebut berdasarkan peraturan dari Kementerian Kesehatan. 

“Pernah kontak erat, dan sudah menjalani karantina selama 14 hari, tidak bergejala, dia sudah aman. Seandainya ada virus di tubuhnya, virusnya dipastikan sudah mati,” jlentrehnya.

Baca Juga : Pecah Rekor, Dalam Sehari PMI Jember Makamkan 6 Pasien Covid-19

Kematian akibat covid-19, dijelaskan dr Kuspardani menyampaikan adalah kematian setelah pasien dinyatakan positif covid-19. Kasus lain, hasil swab test negatif namun yang bersangkutan meninggal dunia dengan menunjukkan tanda-tanda terpapar covid-19.

“Misal swabnya cuma satu kali hasilnya negatif, dia meninggal dan belum swab test yang kedua. Tapi tanda-tandanya covid, maka pemulasaraan jenazahnya harus dilakukan secara protokol covid-19 sesuai aturan dari Kemenkes. Tidak boleh kita memperlakukan kasus ini seperti bukan covid,” paparnya. 

Sedangkan untuk mencegah penyebaran covid-19 dan transmisi lokal, Dinas Kesehatan bersama Gugus Tugas akan menerapkan skema tracing seperti yang dilakukan di negara Vietnam. Yakni dengan cara mengejar virus sebelum virus tersebut berjalan dan menyebar.

“Seorang positif atau yang kita sebut dengan F0, dia memiliki kontak erat yang kita sebut F1. Lha F1 ini punya kontak erat juga yang kita sebut dengan F2. Nah F2 ini punya kontak erat lagi namanya F3. Seharusnya, F1, F2 dan F3 ini juga harus karantina. Mereka tidak boleh kemana-mana, harus ada pengawasan. Kita saat ini mulai sosialisasikan ini kepada stakeholder untuk memutus mata rantai covid-19 di Kabupaten Blitar. Kita kejar terus sampai virusnya tidak sampai menyebar kemana-mana. Dengan skema ini, negara Vietnam angka kasus covid-nya saat ini berada di angka nol,” paparnya. 

Untuk membantu kebutuhan warga yang menjalani karantina. Bupati Blitar Rijanto mendorong masyarakat untuk menghidupkan budaya gotong royong melalui Kampung Tangguh Semeru. Saat ini kampung tangguh sudah terbentuk di hampir seluruh desa di Kabupaten Blitar. 

Keberadaan kampung tangguh mendapat sambutan baik dan dampaknya sangat dirasakan oleh masyarakat. Kampung tangguh membantu masyarakat untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Seperti warga secara sukarela meletakkan sayur di pagar, membantu kebutuhan beras dengan lumbung pangan yang kokoh. Dengan kampung tangguh kebutuhan gizi masyarakat tetap terpenuhi di masa pandemi.

“Kampung tangguh ini sudah sangat memasyarakat di Kabupaten Blitar. Penggeraknya di bawah adalah Pak Camat, Pak Danramil dan Pak Kapolsek,” pungkasnya.(*)