Rektor UIN Malang Prof Dr Abdul Haris MAg dalam seminar nasional online bertema "Kurban, Sembelihan Halal, dan Kewajiban Sertifikasi Halal RPH/U". (Foto: Ima/MalangTIMES)
Rektor UIN Malang Prof Dr Abdul Haris MAg dalam seminar nasional online bertema "Kurban, Sembelihan Halal, dan Kewajiban Sertifikasi Halal RPH/U". (Foto: Ima/MalangTIMES)

Idul Adha 1441 H atau Hari Raya Kurban dirayakan pada Jumat (31/7/2020) mendatang. Pada hari itu, umat Islam biasanya melaksanakan salat Idul Adha hingga penyembelihan hewan kurban yang akan dibagikan kepada warga.

Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim (UIN Maliki) Malang menyampaikan bahwa kegiatan penyembelihan hewan kurban merupakan representasi kecintaan kita kepada Allah SWT. "Semua kegiatan yang dilakukan ini bermuara kepada representasi kecintaan kita kepada Allah," ucapnya dalam seminar nasional online bertema "Kurban, Sembelihan Halal, dan Kewajiban Sertifikasi Halal RPH/U" belum lama ini.

Baca Juga : Wacana Diktis: Perguruan Tinggi di Indonesia Perlu Buka Online Degree

Hal ini tentu berhubungan dengan kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail yang menjadi sejarah peringatan Idul Adha. Allah memerintahkan Nabi Ibrahim untuk menyembelih anaknya, Ismail. Ibrahim menurutinya. Bahkan Ismail pun bersedia dikurbankan karena meyakini bahwa perintah itu datangnya dari Allah SWT. 

Namun, saat penyembelihan, parang yang sudah ditajamkan menjadi tumpul saat ditempelkan ke leher Ismail. 

Di sinilah terungkap bahwa apa yang diperintahkan Allah tersebut adalah ujian untuk Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail, seberapa jauh cinta mereka terhadap Allah SWT. Sebagai gantinya, Allah memerintahkan Nabi Ibrahim menyembelih seekor kambing yang telah tersedia di sampingnya.

Menurut Prof Haris, apa yang dikurbankan oleh Ibrahim secara material dan imaterial adalah yang terbaik atau dalam bahasa agama disebut sebagai halal. "Maka inilah yang menjadi tuntunan bagi kita. Ketika kita berkurban sebagai realisasi kecintaan itu, harus yang terbaik," terang dia.

Halal ini, lanjut Prof Haris, penting karena kehalalan dari sisi makanan juga berpengaruh terhadap perilaku seseorang. "Meskipun mungkin belum pernah dicoba untuk diteliti, tetapi dari sekian banyak referensi yang saya baca, makanan halal, baik halal hakiki maupun hukumnya, akan berpengaruh besar terhadap perilaku seseorang," paparnya.

Baca Juga : Para Siswa, Ini 3 Varian Baru Program Kihajar Kemendikbud dan Cara Mengikutinya

Oleh karena itu, lanjut dia, kalau kita ingin menjadi orang yang baik dan memiliki keluarga yang baik,  maka harus menjaga kehalalan yang dimakan.