Karlin saat merawat kambingnya di kandang. (Foto : Adi Rosul / JombangTIMES)
Karlin saat merawat kambingnya di kandang. (Foto : Adi Rosul / JombangTIMES)

Karlik (41), warga Desa Marmoyo, Kecamatan Kabuh, Jombang rela menjual kambing untuk membelikan anaknya sebuah ponsel pintar atau smartphone. Handphone (hp) hasil jual kambing itu, untuk mendukung anaknya sekolah daring selama pandemi Covid-19.

Selama masa pandemi Covid-19 ini, kegiatan belajar mengajar (KBM) secara tatap muka dirubah menjadi sistem dalam jaringan atau daring. Sistem belajar dari rumah itu, menuntut siswa harus memiliki smartphone untuk mengakses materi pelajaran dari sekolah.

Baca Juga : Murid Sedikit, 28 SD di Tulungagung Dimerger jadi 14 Sekolah

Kondisi seperti itu lah, yang menuntut istri dari Samirin (45) ini harus menjual seekor kambingnya untuk membeli smartphone anaknya. Kambing milik Karlik itu dijual seharga Rp 700 ribu, sedangkan harga smartphone yang dibelinya seharga Rp 1,5 juta. Karlik harus menambahkan uang hasil jual kambingnya itu dengan uang tabungannya agar bisa membeli ponsel yang diinginkan anaknya.

"Sempat jual kambing sama ambil uang tabungan untuk beli HP. HP digunakan untuk belajar anak," kata Karlin saat diwawancarai di kediaman Sekdes Marmoyo, Rabu (22/7).

Karlin memiliki dua anak. Anak pertamanya sudah berusia 20 tahun, sedangkan anak keduanya masih duduk di bangku kelas 2 di SDN Marmoyo. Smartphone yang dibeli Karlin dari jual kambing itu, digunakan secara bergantian oleh kedua anaknya.

"HP-nya gantian. Kalau adiknya pelajaran ya hp-nya dikasihkan ke adiknya gitu. Tapi ya gitu, di sini sulit sinyal," ujarnya.

Sistem belajar online ini juga menemui kendala jaringan. Pasalnya, rumah Karlin yang berada di Desa Marmoyo itu sangat sulit ditembus oleh jaringan internet dari operator seluler. Oleh karena itu, ibu dari Karin Madu Lestari (7) ini, kerap mengajak anaknya untuk numpang di rumah tetangganya yang punya jaringan WiFi.

Rumah yang jadi jujugan Karlin untuk anaknya belajar online ini, adalah rumah Sekdes Marmoyo Sumandi. "Gak ada sinyal, jadi numpang WiFi. Numpang ini sudah sejak awal masuk sekolah, selama corona itu kan online. Ya sudah 3 bulanan," tandasnya.

Baca Juga : Bina Siswa, SMP Negeri 1 Giri Gandeng TNI, Polri, Dinkes, KUA

Sulitnya belajar dari rumah atau sekolah daring ini sangat dikeluhkan Karlin. Ia berharap agar kegiatan belajar mengajar bisa segera normal dan bisa kembali masuk sekolah seperti semula.

"Kalau seperti ini ya susah, ndak seperti masuk sekolah. Kalau masuk sekolah kan bisa langsung diajar oleh gurunya," pungkasnya.(*)