King Saud University. (Foto: www.ksau-hs.edu.sa)
King Saud University. (Foto: www.ksau-hs.edu.sa)

Tentu ada banyak orang yang menginginkan kuliah di luar negeri. Salah satunya, negara tempat kelahiran nabi Muhammad SAW serta tumbuh dan berkembangnya agama Islam, yakni Arab Saudi. Namun, negara yang dikenal konservatif ini memiliki peraturan untuk perempuan yang ingin menjalani pendidikan tinggi di sana.

Atase Pendidikan dan Kebudayaan (Atdikbud) Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Riyadh, Achmad Ubaedillah MA PhD menyampaikan, mahasiswi yang belajar di Arab Saudi harus memiliki pendamping keluarga atau muhrim.

Baca Juga : Mahasiswa Boleh Ambil Kelas di Luar Prodi 3 Semester, Ini Contoh Hak Belajar yang Didapat

 

"Memang masih ada kendala karena menyangkut persoalan harus ada pendampingnya atau muhrimnya. Ini yang masih jadi kendala karena di Saudi Arabia kalau tidak ada pendampingnya, baik itu keluarga ataupun suami ini masih jadi persoalan," ungkapnya.

Ubaedillah menjadi salah satu narasumber dalam International Webinar Series #2 bertema "Strategi Kerjasama Perguruan Tinggi dengan Mitra Luar Negeri di Era Disrupsi" yang digelar Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang (UIN Malang), Rabu (22/7/2020).

Jadi, umumnya, para mahasiswi dari Indonesia di sana adalah para istri mahasiswa yang juga kuliah di sana. Secara umum, kata Ubaedillah, mahasiswi Indonesia di Saudi Arabia ada sekitar 40 orang.

"Ini mungkin banyak yang ingin (kuliah di Arab Saudi) tapi terkendala oleh syarat yang terakhir ini bagi saudari-saudari kita yang ingin belajar di Saudi Arabia. Makanya umumnya mereka statusnya adalah para istri mahasiswa yang sedang menempuh jenjang S2 ataupun S3 di Jami'ah Madinah," sambungnya.

Pendidikan Tinggi (Al-'Aaly) atau universitas di Arab Saudi sendiri terbagi menjadi dua bagian utama, yakni Pendidikan Agama dan Pendidikan Umum. Namun demikian, sekarang sudah sangat banyak universitas yang menggabungkan keduanya.

Atdikbud KBRI Riyadh, Achmad Ubaedillah MA PhD.

"Jadi sekarang banyak kampus-kampus yang mereka mempunyai Islamic Studies, misalnya di King Saud University. Itu seperti kampus-kampus besar di Indonesia UGM atau UI," kata dia.

Mereka mempunyai banyak program ilmu-ilmu non-islamic studies. Namun juga mempunyai jurusan-jurusan bahasa Arab dan Islamic Studies lainnya.

"Dan ini juga menjadi tujuan atau pun kampus yang favorit di kalangan mahasiswa Indonesia," imbuhnya.

Jenis perguruan tinggi di Arab Saudi adalah universitas institut untuk perempuan (college for women), institut administrasi publik (institute of public administration), dan institut keguruan (teacher training college).

Baca Juga : Direktur Diktis: SDM dan Big Data, Dua Hal Krusial untuk Raih Kampus Ideal

 

Semua universitas berada di bawah supervisi Kementerian Pendidikan Tinggi (Ministry of Higher Education) kecuali Universitas Islam Madinah (Islamic University of Medinah). Universitas untuk pendidikan agama Islam ini berada di bawah supervisi dewan menteri (Council of Ministers).

"Madinah University (Universitas Islam Madinah) ini memang agak beda karena memang ini sebenarnya kampus yang didirikan oleh para tokoh Islam," timpalnya.

Islamic University of Medinah memang didedikasikan untuk generasi Islam di seluruh dunia sehingga tidak ayal Jami'ah Madinah paling banyak menerima beasiswa dari berbagai penjuru dunia Islam untuk belajar di kampus tersebut.

Memang, ada jurusan umum di Jami'ah Madinah ini, namun masih sangat sedikit warga negara Indonesia yang menempuh studi di jurusan Non Islamic Studies.

Nah, untuk memasuki perguruan tinggi di Arab Saudi, calon mahasiswa harus memenuhi tes masuk perguruan tinggi (General Secondary Education Certificate Examination) atau Tajwihi. Saat ini, mendaftar bisa dilakukan melalui jalur online.

"Saat ini untuk mendaftar ke perguruan tinggi di Saudi Arabia itu, boleh saya katakan 100% sudah bisa dilakukan melalui jalur online," pungkasnya.