Jaga portal area kos. Handal pratama Putra
Jaga portal area kos. Handal pratama Putra

Suka duka dialami banyak mahasiswa di Yogyakarta yang memutuskan untuk memilih tidak pulang ke kampung halaman mereka. Seperti halnya dialami oleh Zainuddin. Mahasiswa asal Boyolali itu merana melihat masjid yang menjadi sepi, dan kegiatan tidak ada. Ia juga merasakan tidak diperbolehkan keluar asrama takmir masjid yang dia tempati.

Mahasiswa lain yang berasal dari Riau, memilih tidak mudik. Selain karena tugas akhir (skripsi) yang belum rampung, juga karena khawatir kalau pulang bakal bakal membawa virus ke orang tua di rumah. “Meski berada di kos, alhamdulillah warga sekitar dan Pak Dukuh Gejayan memberi bantuan sembako per 2 minggu sekali, dan sampai saat ini masih berjalan,” kata dia.

Baca Juga : 7 Kasus Baru Positif Covid-19 di Blitar Raya, 3 di Antaranya ASN

Cerita lain, dialami Handal Pratama. Dia menyebutkan kebutuhan online-nya semakin boros karena harus mengikuti pembelajaran online dan seminar online. “Apalagi pembatasan jarak dan larangan keluar lingkungan kos di atas jam 8 malam membuat susah apabila ingin membeli makan atau kebutuhan logisitik lainnya,” kata Handal.

Berbeda halnya dengan Wildan. Menurutnya, selain dampak Covid-19 yang dirasakan, dia juga berusaha mengambil sisi positifnya. Salah satu cara agar tetap berpikir positif. Yaitu bisa lebih fokus mengerjakan tugas dan belajar di rumah saja. Dia bisa diskusi bersama teman mengikuti jadwal-jadwal webinar atau seminar daring (dalalm jaringan).

Cerita lain dari seorang mahasiswi, Imroah. Ia memaksimalkan kegiatan atau belajar melalui smartphone dan menggunakan waktunya untuk menonton video tutorial memasak, membuat makanan yang bisa dijual.