Kantor Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Malang yang berada di Jalan Panji, Kepanjen, satu kompleks dengan gedung DPRD Kabupaten Malang. (Foto: Tubagus Achmad/MalangTimes)
Kantor Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Malang yang berada di Jalan Panji, Kepanjen, satu kompleks dengan gedung DPRD Kabupaten Malang. (Foto: Tubagus Achmad/MalangTimes)

Partisipasi masyarakat terhadap Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Kabupaten Malang 2020 dari tahun ke tahun terus mengalami penurunan. 

Menanggapi hal tersebut, Koordinator Divisi Sosialisasi, Pendidikan Pemilih, Partisipasi Masyarakat, dan Sumber Daya Manusia Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Malang Marhaendra Pramudya Mahardika mengungkapkan bahwa penurunan jumlah partisipasi masyarakat Kabupaten Malang untuk menggunakan hak pilihnya disebabkan beberapa faktor. 

"Salah satunya, satu TPS pada pilkada kemarin terlalu luas cakupannya. Jadi, satu TPS dulu untuk 800 pemilih. Itu bisa saja beda desa dan jauh. Jadi, orang malas memilih," ungkapnya, Rabu (24/6/2020). 

Selain terkait jauhnya jarak TPS (tempat pemungutan suara) dengan rumah pemilih, Mahardika menyebutkan bahwa faktor selanjutnya  terkait gagasan, visi misi atau pembahasan antar-calon kepala daerah yang dianggap masyarakat kurang menarik. 

"Dari informasi yang kami dapat dari lembaga-lembaga di luar, ya itu tergantung juga sama program yang ditawarkan. Kalau tidak menarik minat masyarakat, ya pemilih cenderung apatis," ucapnya.

Sebagai informasi,  pemilih di Pilkada Kabupaten Malang pada  2005 hanya mencapai persentase 68,2 persen masyarakat yang menggunakan hak pilihnya dari jumlah total pemilih pada saat itu sebesar 1.768.002. Dengan kata lain, hanya 1.206.366 pemilih yang menggunakan haknya. Sisanya sebanyak 561.636 pemilih tidak memberikan hak pilihnya. 

Lima tahun kemudian, di Pilkada Kabupaten Malang 2010, angka pemilih kembali turun hingga mencapai 59,5 persen atau hanya terpenuhi sebanyak 1.121.187 pemilih dari daftar pemilih yang berjumlah total 2.063.079 orang. Artinya, sebanyak 764.078 orang tidak menggunakan hak pilihnya. 

Pada tahun 2010, terdapat beberapa pasangan calon yang bertarung pada kontestasi Pilkada Kabupaten Malang. Yakni Rendra Kresna-Ahmad Subhan; Mochammad Geng Wahyudi-Abdurrachman; Wahyu Agus Arifin-Mujib. Meskipun terdapat nama-nama politisi yang juga telah dikenal sebelumnya, angka partisipasi masyarakat tetap saja turun. 

Sementara itu, pada tahapan Pilkada Kabupaten Malang 2015, terdapat tiga pasangan calon kepala daerah yang bertarung. Yakni Rendra Kresna-Sanusi; Dewanti Rumpoko-Masrifah; serta Nur Cholis-Mufidz. 

Tetapi tetap saja angka pemilih terus mengalami penurunan di 58,5 persen atau hanya 1.203.949 pemilih dari jumlah total pemilih 2.063.079 orang. Sisanya sebanyak 859.130 orang memutuskan untuk tidak menggunakan hak pilihnya. 

Berdasarkan data jumlah partisipasi masyarakat yang di setiap momentum Pilkada Kabupaten Malang terus menurun, Mahardika mengungkapkan bahwa pihaknya menargetkan terdapat kenaikan jumlah pemilih sebesar 60 persen untuk pilkada 2020. 

"Sama kayak yang 2015, 58,5 (persen), tapi meningkat sedikit lah kami tingkatkan sedikit. Sebanyak 60 persen itu sudah cukup bagus," ungkapnya. 

Target 60 persen partisipasi masyarakat yang tidak beda jauh dengan pilkada 2015 dikarenakan pada pilkada  2020 ini terdapat tambahan tantangan. Yakni bencana non-alam covid-19.

"Apakah masyarakat mau ke TPS saat masa pandemi begini? Itu yang jadi kendala. Tapi kami usahakan agar meningkat dengan sosialisasi di media sosial dan banner-banner," ucapnya. 

Mahardika juga menambahkan bahwa besar harapan untuk para calon bupati dan wakil bupati agar menyajikan program-program serta kampanye yang menarik. Sebab, hal tersebut juga dapat meningkatkan partisipasi masyarakat untuk menggunakan hak pilihnya, terlebih lagi dalam pandemi covid-19.