Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) Kabupaten Malang saat dikonfirmasi pewarta terkait kampung tanggung di Kabupaten Malang, Rabu (3/6/2020). (Foto: Tubagus Achmad/MalangTimes)
Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) Kabupaten Malang saat dikonfirmasi pewarta terkait kampung tanggung di Kabupaten Malang, Rabu (3/6/2020). (Foto: Tubagus Achmad/MalangTimes)

Keberadaan Kampung Tangguh di Kabupaten Malang cuklup banyak. Jumlahnya mencapai terdapat 418 yang tersebar di seluruh wilayah Kabupaten Malang. Kampung Tangguh ini tersusun mulai tingkat Dusun, RW hingga Desa.

Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) Kabupaten Malang Suwadji menyebutkan bahwa jumlah 418 Kampung Tangguh tersebut sesuai dengan laporan dari setiap Kepala Desa dan Camat di Kabupaten Malang.

"Di Kabupaten Malang sesuai laporan dari kepala desa dan camat ada 418 Kampung Tangguh. Kampung Tangguh ada yang dibentuk di tingkat RW, ada yang dibentuk di tingkat dusun, ada yang di bentuk di desa," sebutnya kepada pewarta saat dikonfirmasi di sela-sela agenda di Balai Desa Mulyoagung, Rabu (3/6/2020). 

Dia juga menyebutkan Kampung Tangguh akan terus di-instal. Menurutnya hal itu dapat diartikan sebagai memasangkan potensi ketangguhan yang ada.

"Itu terus kami instal, instal itu dalam arti nge-match-kan potensi ketangguhan yang ada yaitu sesuai dengan kriteria kualifikasi tujuh ketangguhan yang ada," jelasnya. 

Untuk tujuh ketangguhan tersebut yakni Tangguh Kesehatan, Tangguh Sumber Daya Manusia (SDM), Tangguh Logistik Pangan, Tangguh Informasi, Tangguh Keamanan, Tangguh Psikologi dan Tangguh Budaya. 

Sementara itu, untuk targetnya sendiri Suwadji menyebutkan bahwa tidak ada target dalam bentuk kuantitas atau jumlah banyaknya Kampung Tangguh, tetapi bagaimana lebih mementingkan dan memperkuat dalam segi kualitas Kampung Tangguh tersebut. 

"Tadi kan kita bukan bicara target dari kuantitas tapi kualitas. Targetnya minimal dalam satu desa itu, desa menjadi desa kampung tangguh," ungkapnya. 

Lebih lanjut Suwadji juga menyampaikan bahwa terkait koordinasi di Kampung Tangguh yang ada di Kabupaten Malang dengan Universitas Brawijaya (UB), yang dimana UB sebagai konseptornya, juga selalu dilakukan koordinasi karena terdapat beberapa hal yang tidak dapat dilakukan oleh sejumlah kampung tangguh.

"Ya sebetulnya karena UB merupakan konseptor awal, tetapi di dalam melaksanakan kampung tangguh itu kan ada modifikasi. Karena dari UB itu kan ada yang tidak bisa dilaksanakan begitu saja. Tapi tetap konsepnya dari UB tapi kita kembangkan sesuai kebutuhan riil dan manfaat yang ada di dalamnya," jelasnya. 

Suwadji mencontohkan, seperti di aspek ketangguhan di bidang kesehatan serta ketangguhan logistik yang juga terdapat modifikasi dari beberapa kampung tangguh yang menyesuaikan kebutuhan dan ketersediaan di setiap desa di Kabupaten Malang.

"Kalau dari aspek ketangguhan kesehatan, karena kesehatan itu kan dimulai dari check point nya, dari observasinya dan sebagainya, itu kan memerlukan sarana prasarana butuh intervensi dari programnya desa," ungkapnya. 

Terkait ketangguhan logistik, Suwadji menyebutkan bahwa terdapat swadaya gotong royong yang dilakukan oleh masyarakat dan juga membutuhkan dujungan dari desa agar mampu menyasar masyarakat banyak.

"Kemudian ketangguhan logistik mungkin kalau swadaya gotong royong masyarakatnya nggak mampu dengan sasaran yang banyak, otomatis juga perlu dukungan dari desa," sebutnya. 

Suwadji juga mengakui bahwa memang kampung tangguh ini berawal dari gerakan masyarakat di akar rumput yang akhirnya menjadi rule mode untuk terbentuknya kampung tangguh.

"Sehingga kampung tangguh ini kalau menurut kami memang awalnya gerakan dari bawah, tetapi bisa dijadikan rule mode menjadi desa tangguh yang dibawahnya itu kampung-kampung tangguh," pungkasnya.