Ilustrasi Rapid Test
Ilustrasi Rapid Test

Amburadulnya penanganan covid-19 di Surabaya kembali terungkap. Kali ini dialami 18 warga Kecamatan Tegalsari yang sempat diisolasi Pemkot Surabaya di Hotel POP Surabaya.

Mereka diperbolehkan pulang ke rumah setelah diberi tahu negatif hasil swab PCR. Tapi besoknya, pihak puskesmas menyatakan 5 orang di antara mereka ternyata positif covid-19. 

Penanganan covid yang kacau ini dikecam anggota DPRD Surabaya Imam Syafi'i. Pasalnya, kejadian ini tidak hanya membahayakan warga yang dinyatakam positif hasil swab-nya, tapi juga bisa menulari virus kepada orang lain.

"Apalagi ada dua warga yang positif hasil swab-nya pergi ke Madura karena orang tuanya meninggal," terang Imam yang menerima laporan pengurus kampung di Tegalsari itu. "Sungguh saya sangat mengecam penanganan covid model ini," imbuh anggota Komisi A DPRD Surabaya ini.

Menurut Imam, sejak awal, penanganan covid warga di daerah pemilihannya itu terkesan asal-asalan. Usai di-rapid test di kampungnya dan hasilnya reaktif, 18 warga dites swab PCR di Siola. Lalu mereka dibawa ke tempat isolasi di Hotel POP, kawasan Jalan Gubeng, selama menunggu keluarnya hasil swab.

Bayangan mereka, alangkah tenangnya menjalani isolasi di hotel. Apalagi setiap orang dapat jatah satu kamar. Tempat seperti ini bisa meningkatkan imun mereka.

Ternyata bayangan warga ambyar. Tempat isolasi di hotel tidak seperti yang digembar-gemborkan Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini bahwa warga merasa nyaman tinggal sementara di situ.

"Hotel tidak menyediakan sabun, handuk dan perlengkapan lainnya. Juga tidak ada selimut dan air minum terbatas," ujar Imam mengutip cerita warga yang diisolasi di hotel.

Tak hanya itu. Warga tidak didampingi petugas kesehatan. Warga juga tidak diberi vitamin sesuai SOP penanganan PDP covid. Bahkan ada warga yang tidak dapat makanan.

Warga makin stres karena tidak ada kejelasan kapan hasil tes swab-nya keluar. "Bisa dibayangkan betapa tertekannya warga. Apalagi ada seorang warga sakit tifus," kata mantan jurnalis ini.

Keluhan warga tersebut sempat ditulis beberapa media dan di-share ke grup Whatsapp yang ada pejabat pemkotnya. 

Setelah terungkap kondisi yang karut marut tu, warga yang diisolasi di Hotel POP diperbolehkan pulang. Alasannya, hasil swab keluar negatif.

"Kami ditelepon satu per satu di kamar hotel. Diberi tahu boleh pulang sekarang karena hasilnya negatif. Peneleponnya dari meja resepsionis. Tapi kami tidak tahu apakah petugas resepsionis atau petugas pemkot yang telepon," cerita warga kepada Imam.

Mereka kemudian dibawa dengan truk Satpol PP Surabaya menuju kampung mereka. Warga amat gembira ketika diberi tahu tidak ada yang terinfeksi covid. Karena itu, pengurus kampung menyampaikan kepada Wakil Wali Kota Wisnu Sakti Buana kalau warganya sudah pulang dari hotel. Wisnu datang langsung ke kampung warga untuk mengecek keluhan warga saat diisolasi di Hotel POP karena sudah menyebar ke publik.

Perasaan lega warga berubah menjadi stres lagi setelah kepala puskesmas menelepon ketua RT. Dia memberi tahu ada lima warga ternyata positif hasil swab-nya. Yakni tiga laki laki dan dua perempuan. 

"Kepala puskesmas juga heran dan tidak tahu siapa yang membolehkan warga pulang ke rumah. Betul-betul tidak masuk akal,"  ujar Imam.

Imam menegaskan polisi harus turun tangan mengusut tuntas skandal ini. Pelaku dan aktor intelektualnya harus ditemukan dan diproses hukum. 

Peristiwa itu, lanjut Imam, termasuk kejahatan kemanusiaan karena membahayakan keselamatan korban dan orang lain. Sekaligus biar pemkot tidak asal-asalan dalam menangani covid. Apalagi, per 1  Juni, korban terkonfirmasi positif 2.633, meninggal sudah 246 orang, dan yang sembuh 240.