Perbandingan Recovery Rate kota-kota besar di Indonesia
Perbandingan Recovery Rate kota-kota besar di Indonesia

Kota Surabaya kini menjadi sorotan pemerintah pusat saja dan juga pemerintah tingkat Provinsi Jatim.

Penyebabnya, recovery rate atau tingkat kesembuhan pasien Covid-19 di Kota Surabaya yang rendah. Hal ini berbanding terbalik dengan tingkat kematiannya yang cenderung lebih tinggi.

Misalnya hingga Kamis (28/5), kasus korban meninggal di Surabaya sudah tembus 202 kasus atau setara dengan 8,78 persen. Sementara yang sembuh baru 199 orang atau jika dipersentase baru di angka 8,65 persen.

Selain itu jumlah pasien positif sudah tembus di angka 2.300 kasus. Dan kembali ada 84 penambahan kasus baru.

Pada sesi konferensi pers Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa menyampaikan jika recovery rate alias tingkat kesembuhan positif Corona (Covid-19) di Surabaya terendah di antara kota-kota besar lain di Indonesia.

“Ini recovery rate dari kota-kota besar yang ada di Indonesia. Tertinggi ini Kota Semarang dan kebetulan Kota Surabaya terendah,” ujarnya sambil menunjuk grafik di Gedung Negara Grahadi Surabaya, Kamis (28/5/2020) malam.

Dia menjelaskan grafik tersebut harus dijadikan catatan bersama bahwa berbagai ikhtiar sudah dilakukan, tenaga kesehatan dan gugus tugas sudah bekerja luar biasa. Tapi faktanya recovery rate Surabaya masih terendah.

“Kita tentu harus bergerak seperti Kota Semarang. Karena itu, semua maksimalisasi yang sudah dilakukan, terutama oleh tim tenaga kesehatan, sekali lagi harus diikuti oleh kedisiplinan yang kuat dan kontinue oleh seluruh lapisan masyarakat,” papar Khofifah.

Terlebih menurut dia vaksin untuk menyembuhkan Covid-19 belum ditemukan. “Jadi vaksinnya adalah kedisiplinan itu sendiri, kepatuhan terhadap protokol itu sendiri,” tandas gubernur yang juga ketua umum PP Muslimat NU tersebut.

Dia melanjutkan gambaran peta yang ada bukan peta yang menggembirakan. "Tapi mari kita berikhtiar bersama, sinergitas di antara kita mari kita lakukan. Beberapa support dari pusat juga sudah turun, grafik ini menjadi catatan kita semua,” imbuh dia.

Sebelumnya di hari yang sama Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa mendampingi kunjungan kerja Panglima Komando Gabungan Wilayah Pertahanan II (Pangkogabwilhan II), Marsekal Muda Imran Baidirus meninjau secara langsung Rumah Sakit (RS) Lapangan atau RS Darurat Covid-19 yang berada di halaman Puslitbang Humaniora, Jl. Indrapura No. 17, Surabaya, Kamis (28/5) siang.

Ditemui usai melakukan peninjauan, Panglima Komando Gabungan Wilayah Pertahanan II (Pangkogabwilhan II), Marsekal Muda Imran Baidirus mengatakan kunjungannya ke Surabaya sesuai arahan Presiden kepada TNI untuk terlibat dalam menangani pandemi Covid-19. Utamanya, untuk ikut mengintervensi dalam percepatan penanganan pandemi Covid-19 di Jawa Timur, Surabaya pada khususnya sebagai wilayah episentrum.

"Saya ditunjuk khusus oleh Panglima TNI, untuk mengkoordinasikan bagaimana membantu Pemerintah Daerah, supaya kita lebih fokus untuk menangani pandemi Covid-19 yang sekarang episentrumnya ada di Surabaya," urainya.

Terkait bantuan yang akan diberikan Mabes TNI kepada Pemprov Jatim, dalam menekan, pihaknya akan segera inventarisir dengan Pemda, nanti seperti apa. Pada prinsipnya akan disiapkan bantuan tim medis, dan bantuan berupa dapur umum yang saat ini sudah ada di beberapa wilayah di Jatim.

"TNI juga siap menurunkan prajurit dalam hal pengamanan, nanti bagaimana, seperti apa. Kita akan siap mendukung, seperti itu," tegas Imran.