Dosen Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) UIN Malang Mokhammad Yahya MA PhD. (Foto: istimewa)
Dosen Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) UIN Malang Mokhammad Yahya MA PhD. (Foto: istimewa)

 Al-Qur'an merupakan mukjizat paling agung yang diterima Nabi Muhammad SAW. Al-Qur'an tergolong dalam mukjizat maknawiyah. Mukjizat ini bersifat universal, immaterial, serta eternal.

Kemukjizatan Al-Qur'an hanya bisa didekati dengan aqliyah, dengan memaksimalkan akal kita untuk memahami apa yang ada di dalamnya.

Baca Juga : Profesor UIN Malang Ungkap Keistimewaan Mukjizat bagi Nabi Muhammad

Sayangnya, Al-Qur'an sebagai mukjizat tak dirasakan oleh sebagian muslim. Hal ini disampaikan oleh dosen Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang (UIN Malang) Mokhammad Yahya MA PhD.

"Kalau kita lihat konsep i'jazul Qur'an di awal-awal, hampir semuanya yang dinamakan dengan mukjizat adalah urusan bahasa. Dan sayangnya ini yang sering hari ini sudah tidak terasa buat kita yang tidak ahli dalam bahasa Arab. Sehingga mukjizat itu tidak lagi dirasakan oleh orang-orang Islam hari ini," ucapnya.

Yahya menjadi salah satu narasumber dalam diskusi tematik "Al-Qur'an dan Mukjizat" pada acara Syiar Ramadhan 1441 H UIN Malang. Acara yang disiarkan di TV setiap hari ini digelar di hall Rektorat UIN Malang.

Jumlah peserta yang datang terbatas dan tetap memperhatikan physical distancing. Rektor UIN Malang Prof Dr Abdul Haris MAg bertindak langsung sebagai host.

Yahya lalu memberikan satu contoh, Qur'an menggunakan bahasa yang sangat menarik dengan menggunakan kata janaahadz dzulli yang berarti sayap kerendahan. "Ini salah satu cara Al-Qur'an yang membuat mezmerize, membuat takjub orang-orang Arab saat itu," timpalnya.

Baca Juga : Kali Ini, Harkitnas dan Dies Natalis Diperingati dengan Cara Beda oleh Unikama

Jadi, kita seakan dilemahkan oleh pilihan bahasa dalam Al-Qur'an. Maka dari itu Al-Qur'an sangat powerful sehingga manusia tidak bisa apa-apa lagi kecuali menyerah.