Tempat wisata Jurang Senggani di Sendang. (Joko Pramono for Jatim TIMES)
Tempat wisata Jurang Senggani di Sendang. (Joko Pramono for Jatim TIMES)

Pandemi covid-19 membuat pembangunan pengembamgan wisata di Tulungagung terhambat. Terutama pembangunan fisik yang anggarannya bersumber dari dana alokasi khusus (DAK).

Selain itu, tidak ada pendapatan atau kontribusi yang masuk akibat ditutupnya sejumlah objek wisata dalam mendukung pemerintah dalam memutus rantai penularan covid-19.

"Semua sektor terdampak. Termasuk pariwisata," ucap Plt Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Tulungagung Eni Dwi Agustin.

Pengembamgan wisata di Tulungagung bersumber dari dua anggaran berbeda. Yakni dari DAK serta  Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Tulungagung. Yang bersumber dari DAK resmi dihentikan untuk penanggulangan covid-19.

Padahal, anggaran DAK yang digelontorkan sebesar Rp 2,8 miliar ini untuk pengembangan wisata di Pantai Gemah, masuk Desa Keboireng, Kecamatan Besuki. Juga untuk tempat wisata Kedung Tumpang, masuk Desa/Kecamatan Pucanglaban, serta Jurang Senggani di Desa Nglurup, Kecamatan Sendang. "Yang fisik diberhentikan. Itu sesuai edaran Kemenkeu," katanya.

Sedangkan pengembangan  wisata non-fisik dengan anggaran sebesar Rp  700 juta yang bersumber dari DAK tetap dilakukan namun ditunda pelaksanaannya.

Penundaan ini lantaran kegiatan tersebut seperti seminar dan pelatihan mengumpulkan banyak orang. Padahal sudah ada imbauan untuk melakukan physical distancing. "Karena ada imbauan untuk mengurangi kegiatan kerumunan guna menerapkan physical distancing, kami menundanya lebih dulu," ucapnya.

Sementara ini, Eni mengaku tengah fokus untuk melakukan pendataan terhadap pelaku usaha pariwisata dan pelaku seni yang terdampak covid-19. Nantinya, data tersebut akan disetorkan ke Pemkab Tulungagung untuk mendapatkan bantuan sosial atas wabah covid-19. "Pendataan masih jalan dan belum fix. Nanti saya kabari," kata dia.

Eni juga telah mengatakan pendapatan asli daerah (PAD) dari sektor pariwisata tidak akan memenuhi target. Pasalnya, pada April ini tak ada pendapatan atau kontribusi yang masuk. Itu karena sejumlah objek wisata atau pelaku wisata tak bisa setor retribusi ke Disbudpar Tulungagung karena ditutup sementara waktu dalam mendukung pemerintah untuk tidak menimbulkan kerumunan/keramaian.

"Pastilah ada penurunan. Tapi berapa, kami belum bisa menjelaskan detail. Evaluasinya tiga bulanan," ungkapnya.