Mal Alun-Alun atau Mal Ramayana. (Arifina Cahyanti Firdausi/MalangTIMES)

Mal Alun-Alun atau Mal Ramayana. (Arifina Cahyanti Firdausi/MalangTIMES)



Kelanjutan kontrak Mal Alun-Alun atau Mal Ramayana belum jelas. Padahal, tanggal 15 November 2019 ini, kontrak bangunan aset Pemerintah Kota (Pemkot) Malang tersebut akan berakhir.

Dewan pun mendesak Pemkot Malang untuk segera mengambil sikap atas masa kontrak dengan PT Sadean Intra Mitra Corporation (SIMC) yang bangunannya ditempati Mal Ramayana tersebut. Jika tidak segera ada kejelasan, hal itu dianggap akan menimbulkan kerugian bagi Pemkot Malang sendiri.

Menanggapi hal itu, Wali Kota Malang Sutiaji memastikan kontrak kerja sama dengan PT Sadean Intra Mitra Corporation (SIMC) terkait pengelolaa Mal Alun-Alun tersebut telah berakhir. "Kalau dengan PT Sadean kan jelas putus. Terkait Ramayana kan lain.  PT Ramayana itu kontraknya dengan PT Sadean, bukan ke kami langsung," ujar dia.

Memang saat ini PT SIMC telah berganti nama. Dan hal itu yang dianggap berbagai pihak menjadi kendala untuk meperjelas kontrak lanjutan atau tidak yang dinilai bakal berimbas pada pendapatan Kota Malang.

Namun, pihak Pemkot Malang meyakini bahwa selama ini tidak ada kerugian akan pemutusan kontrak PT SIMC. Sebab, hingga saat ini, menurut pria yang akrab disapa Aji itu, biaya sewa terus terbayarkan. 

"Kami kan awalnya itu memahami September berakhir. Terus sekarang PT Sadean itu ganti nama. Artinya, objeknya ada tapi subjek yang bersangkutan tidak ada. Ketika seperti itu, gimana kita ndak mengadukan ke kejaksaan. Rugi? Ya tidak, dia terus bayar. Tapi nggak tau kemarin yang bayar tentu bisa jadi pihak Ramayana," imbuhnya.

Sementara itu, terkait penempatan gedung yang saat ini digunakan PT Ramayana, politisi Demokrat ini mengatakan dalam hal ini pihak Pemkot Malang membuka peluang peralihan pengelolaan. Namun, hal itu masih akan dikaji lebih lanjut apakah dengan membuat perjanjian kerja sama (PKS) yang baru dengan pihak Ramayana.

"Ramayananya ingin untuk melanjutkan, ya lain lagi. Dan nanti masih akan kami lihat, kan PKS yang baru," pungkas Sutiaji.


End of content

No more pages to load