Jembatan Muharto (Arifina Cahyanti Firdausi/MalangTIMES)

Jembatan Muharto (Arifina Cahyanti Firdausi/MalangTIMES)



Kondisi Jembatan Muharto sudah dinilai kritis. Itu lantaran kekuatan fisik jembatan hanya tersisa 40 persen.

Bahkan, dari pantauan MalangTIMES di lapangan, ada fondasi jembatan ini yang patah dan mengalami korosi. Ketika melintasi area ini, juga terasa getaran yang cukup kuat. Kondisi tersebut dikhawatirkan akan membahayakan pengguna jalan jika dibiarkan terus-menerus.

Dinas Pekerjaan Rumah dan Penataan Ruang (DPUPR) Kota Malang juga telah mempersiapkan upaya penguatan. Mulai dari pemberian penyangga hingga jika telah dianggap terlalu membahayakan, akan disiasati dengan penggunaan jembatan bailey.

Pemerintah Kota (Pemkot) Malang saat ini belum bisa melakukan pembongkaran lantaran terganjal APBD 2020 yang telah tersusun. Selain itu, proyek besar pembangunan Jembatan Kedungkandang lebih dulu masuk perencanaan pembangunan.

"Di APBD tidak mungkin bisa. Karena itu, harus di awal nanti. Jadi, sementara ini tidak akan kami bangun. Jembatan Kedungkandang jadi dulu, baru nanti ini (jembatan Muharto) dibangun," ujar Wali Kota Malang Sutiaji.

Terkait dana darurat yang diusulkan anggota Komisi C DPRD Kota Malang, yaitu melalui BTT (biaya tak terduga), wali kota  masih akan melihat dari kajian forensik yang dilakukan tim Fakultas Teknik Universitas Brawijaya. 

Menurut Sutiaji, meski tidak dibongkar untuk sementara, pemkot  akan mengupayakan dana rekonstruksi jembatan Muharto. "Skenarionya tetap tidak akan dibongkar dulu, tapi rekonstruksi yes. Dana rekonstruksi masih kami upayakan. Bisa jadi yang dari Kementerian PU itu akan digunakan," katanya.

Apalagi, lanjut dia, perkana pendanaan darurat tetap harus melalui mekanisme yang sesuai. Karena itu, pemkot masih terus akan menunggu hasil kajian sambil berupaya sementara untuk memberi batas penggunaan jembatan. Yakni, hanya batas area tengah yang boleh dilewati pengendara.

"Mekanismenya tentu kami akan lakukan telaah dulu. Kami lihat hasil kajian tertulisnya. Kemarin memang solusi sementara diberi area batasan itu sehingga hanya bagian tengah yang bisa dilewati. Dan orang yang melintas juga paham dengan tanda itu bahwa beban berat, truk besar tidak bisa lewat sana dulu," pungkas Sutiaji.

Tag's Berita

End of content

No more pages to load