M.Kirom menunjukkan tombak mandat peninggalan Syaikh Abu Hasan.(Foto : Malik Naharul/BlitarTIMES)
M.Kirom menunjukkan tombak mandat peninggalan Syaikh Abu Hasan.(Foto : Malik Naharul/BlitarTIMES)

Sholat Jumat merupakan sholat wajib yang dilaksanakan secara berjama'ah bagi lelaki muslim setiap hari Jumat ketika memasuki waktu Dhuhur.

Sebelum sholat dimulai, biasa kita jumpai Khotib membacakan Khutbah sambil memegang sebuah tongkat. Hal itu sering kita jumpai di banyak masjid khususnya di Tanah Air, walau tidak seluruhnya.

Namun berbeda dengan Masjid Nurul Huda di Kuningan, Kecamatan Kanigoro, Kabupaten Blitar, Khotib naik mimbar membacakan khotbah dengan memegang sebuah tombak.

Muhammad Kirom, Khotib sekaligus Imam Sholat Jumat di Masjid Nurul Huda usai sholat Jumat mengatakan, tombak yang digunakan oleh Khotib tersebut merupakan peninggalan Syaikh Abu Hasan, pendiri Pondok Pesantren Nurul Huda Kuningan, pondok pesantren tertua di Blitar.

Konon tombak tersebut merupakan tombak mandat penghulu yang diberikan Keraton Yogyakarta untuk dibawa oleh Syaikh Abu Hasan ketika berdakwah dan mengsyiarkan agama Islam. Saat ini tombak tersebut masih disimpan oleh keluarga dan digunakan sebagai tongkat mimbar Khotib setiap Sholat Jumat di Masjid Nurul Huda Kuningan.

"Adanya Tombak Dwi Sula milik Syaikh Abu Hasan ini dibenarkan oleh Sejarawan Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat yakni Ki Herman Sinung Janutomo. Dia melihat langsung tombak tersebut dan membenarkan bahwa tombak tersebut merupakan tombak mandat penghulu dari Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat," ungkap Muhammad Kirom saat ditemui BLITARTIMES usai turun Sholat Jumat, Jumat (20/9/2019).

Menurut Kirom yang juga masih memiliki garis keturunan ke empat dari Syaikh Abu Hasan, tombak tersebut merupakan sebuah isyarat bahwa beliau merupakan penghulu yang taat, bermartabat dan memiliki pemahaman agama yang luas.

"Sampai saat ini, Tombak Dwi Sula ini masih kami simpan dan dipergunakan setiap Jumat untuk tongkat mimbar Sholat Jumat," sambungnya.

Tombak tersebut merupakan bentuk komando mandat dakwah menyebarkan agama Islam serta mempersiapkan misi jihad fi sabilillah di Mancanegara Wetan (wilayah kekuasaan Kerajaan Mataram sebelah timur) untuk menyebarkan ilmu agama di tanah Jawa.

Menurut sejarah yang dihimpun oleh BLITARTIMES, Syaikh Abu Hasan merupakan salah satu putra dari seorang guru agama yang alim dari Sleman Yogyakarta. Separuh hidupnya, beliau pergunakan untuk menuntut ilmu agama Islam di 'Mamba’ul Oeloem', salah satu Madrasah Diniyyah yang dimiliki oleh keraton Ngayogyakarto Hadiningrat pasca perjanjian Gianti 1755.

Pada tahun 1819 Syaikh Abu Hasan berangkat melaksanakan titah dakwah menyebarkan agama Islam di wilayah timur, dan dipilihlah daerah Blitar yang pada waktu itu dipimpin oleh Pangeran Adipati Aryo Blitar.

Sesampainya di Blitar Syech Abu Hasan tidak lantas bertempat tinggal di Kuningan. Sebagian besar orang termasuk keluarga meyakini ia pertama kali menginjakkan kaki di Desa Sumberdiren, Kecamatan Garum, Kabupaten Blitar.

Di Sumberdiren, Mbah Abu Hasan menikah dengan gadis desa yang kelak dikenal dengan nama Bu Riyah. Setelah menikah Abu Hasan dan istrinya disuruh mencari tempat baru oleh mertuanya. Lalu mereka babat alas dan bertempat tinggal di Desa Kuningan, tempatnya kemudian didirikan Ponpes Nurul Huda pada tahun 1819.

Menurut Kirom, sejak dahulu Syaikh Abu Hasan menggunakan tombak itu untuk khotbah. Tombak itu sejatinya, bukanlah untuk berperang namun untuk memberikan komando ketika perang terjadi waktu itu. Juga sebagai isyarat bahwa pemilik tombak bukan orang sembarangan.

"Yang pertama kali mengemban Tombak Dwi Sula adalah Mbah Abu Hasan, turun ke Mbah Haji Usman, turun ke Mbah Kholil, turun ke pak Jupri sampai sekarang Jika terkena, lukanya akan sangat lama sembuh meskipun sedikit, maka harus berhati hati saat membukanya," tukasnya.(*)