Rektor UB Prof Dr Ir Nuhfil Hanani AR MS (kiri) bersama Wakil Rektor Bidang Perencanaan dan Kerja Sama UB Prof Dr Ir Moch. Sasmito Djati MS. (Foto: Imarotul Izzah/MalangTIMES)
Rektor UB Prof Dr Ir Nuhfil Hanani AR MS (kiri) bersama Wakil Rektor Bidang Perencanaan dan Kerja Sama UB Prof Dr Ir Moch. Sasmito Djati MS. (Foto: Imarotul Izzah/MalangTIMES)

Jelang akhir masa jabatannya, Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristek Dikti) Mohammad Nasir ingin merealisasikan gagasan penggunaan rektor asing di Indonesia. Hal ini dikarenakan daya saing kampus-kampus di Indonesia terbilang rendah.

Tujuan penggunaan rektor asing ini sendiri yakni untuk meningkatkan daya saing melalui perbaikan ranking dan mutu perguruan tinggi (PT), khususnya perguruan tinggi negeri (PTN). Lantaran punya jaringan yang luas, rektor asing diasumsikan mampu membuat PTN meraih akreditasi internasional.

Setelah itu, diharapkan PTN memasuki orbit world class university (WCU) dalam waktu singkat. Sehingga PTN tersebut mampu mencetak lulusan berdaya saing tinggi secara internasional.

Universitas Brawijaya (UB) Malang sendiri ditargetkan Kemenristek Dikti masuk ke dalam rangking 500 universitas terbaik dunia dalam kurun waktu lima tahun. Namun, Rektor UB Prof Dr Ir Nuhfil Hanani AR MS menyatakan sebelumnya universitas mematok waktu 10 tahun untuk masuk dalam ranking 500 dunia.

"Targetnya, saya mengusulkan itu sebetulnya dalam 10 tahun, tapi kemudian diminta 5 tahun menjadi rangking 500 dunia," ujarnya saat ditemui di gedung Rektorat UB beberapa waktu yang lalu.

Mengenai gagasan penggunaan rektor asing, Nuhfil yakin UB tidak membutuhkannya. Hal ini lantaran sudah banyak sumber daya manusia dengan kualitas internasional yang dimiliki UB. "Di Brawijaya insya Allah kalau cari rektor kelas dunia, ada lah. Dekan-dekan ada semua," ucapnya.

Alih-alih rektor asing, menurut Nuhfil sebaiknya yang diimpor ke UB adalah dosen asing. "Menurut saya paling ya dosen asing lah. Kalau rektornya sudah banyak lah sebelumnya," ucap dia.

Jadi, bagi Nuhfil,  tidak harus rektor asing untuk menjadi WCU. Yang terpenting adalah rektor dalam negeri mampu meningkatkan berbagai indikator, mulai dari academic reputation, sitasi (daftar pustaka), international faculty, hingga international employee.

"Tidak harus rektor asing. Tapi bagaimana indikator-indikator supaya untuk bisa dipenuhi sehingga kita jadi kelas dunia," tandasnya.

Wakil Rektor Bidang Perencanaan dan Kerja Sama UB Prof Dr Ir Moch. Sasmito Djati MS menyatakan, untuk menuju rangking 500 dunia, saat ini yang digenjot di UB adalah publikasi ilmiah dan paten. "Yang digenjot, yang penting publikasi ilmiah dan paten. Itu yang menaikkan reputasi akademik," terangnya.

Untuk menyukseskan hal ini, Nuhfil sendiri memiliki program hibah penelitian. "Semua guru besar dikasih (hibah) dengan syarat membuat proposal. Tetapi ada indikator kinerja terukur. Kalau tahun depan dia tidak tercapai, ya dicabut. Kalau prestasi, ya dikasih reward," papar Sasmito.