Dokter RSI Unisma Ingatkan Pentingnya Mengenali Sinyal Tubuh dari Darah dan Urin

30 - Dec - 2025, 04:01

Nikmatus Sholilhah, Sp.PK, Dokter Umum di RSI Unisma (ist)


JATIMTIMES - Tubuh manusia sesungguhnya tidak pernah diam. Ia bekerja tanpa henti, membaca setiap asupan, setiap kebiasaan, bahkan setiap beban pikiran yang kita simpan. Ketika ada yang tidak beres, tubuh tidak langsung berteriak. Ia memberi isyarat pelan, melalui rasa pusing, badan lemas, nyeri pinggang, kaki kebas, hingga perubahan warna dan bau urin. Masalahnya, sinyal-sinyal itu kerap kita anggap remeh.

Hal tersebut ditegaskan dr. Nikmatus Sholilhah, Sp.PK, Dokter Umum di RSI (Rumah Sakit Islam) Unisma Malang , yang menyebut darah dan urin sebagai dua “bahasa tubuh” paling jujur dalam membaca kondisi kesehatan manusia. Menurutnya, sebelum penyakit berkembang jauh, tubuh sebenarnya sudah lebih dulu memberi alarm.

Baca Juga : PCX160 RoadSync Sukses Digelar, Hadirkan Pengalaman Berkendara Canggih dan Program Spesial Akhir Tahun

Darah, kata dr. Nikmatus, dapat diibaratkan sebagai sistem transportasi utama dalam tubuh. Ia mengangkut oksigen, hormon, nutrisi, hingga zat-zat penting lain ke seluruh organ. Ketika sistem ini terganggu, efeknya bisa langsung dirasakan. Keluhan seperti pusing, lesu, pucat, hingga pingsan sering kali berkaitan dengan masalah pada aliran darah atau distribusi oksigen.

“Otak itu sangat sensitif terhadap kekurangan oksigen. Kalau suplai oksigen ke otak terganggu kurang dari lima menit, seseorang bisa langsung pingsan,” jelasnya dalam sebuah podcast.

Itulah sebabnya pusing tidak boleh selalu dianggap sepele. Pusing yang datang sekali bisa jadi hanya karena kelelahan, kurang tidur, atau stres sesaat. Namun jika pusing muncul berulang, hilang-timbul, atau berlangsung lama, maka perlu dicari penyebabnya. Tekanan darah tinggi, tekanan darah rendah, kolesterol tinggi, hingga gangguan aliran darah bisa menjadi faktor pemicu.

Ia menambahkan, stres juga berperan besar dalam mengganggu kestabilan aliran darah. Saat seseorang mengalami tekanan mental, otak akan melepaskan sinyal yang menyebabkan penyempitan pembuluh darah. Akibatnya, aliran darah menjadi tidak lancar dan memunculkan berbagai keluhan fisik.

“Pemicu stres apa pun, masalah pekerjaan, ekonomi, atau tekanan hidup, itu nyata dampaknya ke tubuh. Bukan cuma di pikiran,” ujarnya.

Jika darah berperan sebagai pengangkut, maka urin adalah produk akhir buangan tubuh, yang mencerminkan apa saja yang terjadi di dalam organ. Menurut dr. Nikmatus, urin justru lebih mudah dibaca oleh masyarakat awam karena dapat diamati langsung setiap hari.

Dari warna urin saja, tubuh sudah memberi banyak petunjuk. Urin berwarna kuning pekat umumnya menandakan kurang cairan. Urin yang tampak sangat jernih menunjukkan asupan air cukup. Namun jika warnanya menyerupai teh pekat, hal itu patut diwaspadai sebagai indikasi gangguan hati. Urin berwarna kemerahan bisa menandakan adanya perdarahan di saluran kemih, meski dalam beberapa kasus bisa dipengaruhi makanan tertentu seperti buah naga.

Selain warna, kejernihan urin juga penting diperhatikan. Urin yang tampak keruh bisa mengandung protein, kristal, atau bakteri. Jika mengandung protein berlebih, bisa menjadi tanda kebocoran ginjal. Jika keruh akibat kristal, ada risiko terbentuknya batu ginjal. Sementara urin keruh disertai nyeri, demam, atau anyang-anyangan sering mengarah pada infeksi saluran kemih.

“Kalau urinnya berbusa banyak, itu harus hati-hati. Protein seharusnya tidak keluar banyak lewat urin,” katanya.

Bahkan bau urin pun bisa menjadi petunjuk. Bau menyengat bisa dipengaruhi makanan tertentu, namun bau pesing yang tajam atau busuk bisa mengindikasikan infeksi. Sementara urin berbau manis seperti buah, disertai sering haus dan sering buang air kecil, menjadi alarm kuat terhadap diabetes.

Ia menekankan, baik pemeriksaan darah maupun urin tidak boleh dijadikan dasar diagnosis hanya dari satu kali hasil. Pemeriksaan harus dilakukan berkelanjutan dan dikonfirmasi oleh tenaga medis agar tidak terjadi overdiagnosis.

Terkait donor darah, dr. Nikmatus menjelaskan bahwa aktivitas tersebut memiliki manfaat kesehatan jika dilakukan sesuai kriteria. Donor darah yang dilakukan setiap dua hingga tiga bulan membantu regenerasi sel darah merah, karena tubuh akan merespons dengan memproduksi darah baru dari sumsum tulang. Selain itu, donor juga dapat meningkatkan metabolisme dan membantu pembakaran kalori.

Baca Juga : Unisma Perluas Makna Pelayanan Kampus Lewat Grand Unisma Stay

“Donor itu sehat, asal memenuhi syarat. Tapi tidak semua orang boleh donor, terutama yang punya penyakit kronis, infeksi menular, atau sedang mengonsumsi obat tertentu,” tegasnya.

Ia juga menyoroti fakta bahwa penyakit degeneratif kini tidak lagi identik dengan usia lanjut. Perubahan pola hidup, terutama konsumsi makanan cepat saji, minuman tinggi gula, kurang aktivitas fisik, serta kebiasaan merokok, membuat penyakit seperti diabetes, gagal ginjal, dan penyakit jantung muncul pada usia yang semakin muda.

“Sekarang usia 30-an sudah banyak yang kena gagal ginjal. Bahkan anak-anak pun bisa,” ungkapnya.

Pada anak, gangguan ginjal sering ditandai dengan urin keruh, produksi urin berkurang, serta pembengkakan pada wajah atau kaki. Kondisi ini terjadi karena protein yang seharusnya bertahan di darah justru keluar lewat urin, sehingga cairan tubuh merembes ke jaringan dan menyebabkan bengkak.

Menurutnya, penyakit tidak datang secara tiba-tiba. Ia merupakan akumulasi dari pola makan, gaya hidup, dan kebiasaan yang dijalani bertahun-tahun. Faktor genetik juga turut berperan, sehingga mereka yang memiliki riwayat keluarga dengan diabetes atau penyakit metabolik harus lebih waspada.

Di sisi lain, dr. Nikmatus menyampaikan bahwa akses pemeriksaan kesehatan kini semakin terbuka. Pemeriksaan darah lengkap dan urin sudah tersedia di puskesmas dan klinik sebagai skrining awal dengan biaya terjangkau. Pemeriksaan ini cukup untuk mendeteksi potensi masalah sebelum berkembang menjadi penyakit berat.

“Jangan menunggu parah baru ke dokter. Tubuh itu selalu memberi alarm,” katanya.

Ia menutup dengan pesan sederhana namun fundamental. Menjaga kesehatan tidak membutuhkan cara rumit. Makan bergizi seimbang, cukup minum air putih, istirahat yang memadai, olahraga teratur, serta menjaga ketenangan hati menjadi fondasi utama agar tubuh tetap bekerja optimal.

“Kalau hati tenang, hormon stabil, aliran darah lancar. Tubuh akan jauh lebih kuat,” pungkasnya.


Topik

Kesehatan, RSI Unisma, dokter rsi unisma, kesehatan, darah, urin,



Jawa Timur merupakan salah satu provinsi dengan pertumbuhan ekonomi yang cukup pesat di Indonesia. Sektor industri, perdagangan, dan pariwisata menjadi pilar utama perekonomian Jatim. Pembangunan infrastruktur juga terus dilakukan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.



cara simpan tomat
Tips Memilih Bralette