Hujan Diprediksi Guyur Jatim 3 Hari ke Depan, Meski Masih Musim Kemarau
Reporter
Binti Nikmatur
Editor
Nurlayla Ratri
19 - Aug - 2025, 04:19
JATIMTIMES - Sejumlah wilayah di Jawa Timur diperkirakan masih akan diguyur hujan dalam beberapa hari ke depan. Padahal, saat ini provinsi tersebut tengah berada pada periode musim kemarau.
Hingga Selasa (19/8/2025) sore, hujan dan cuaca menjadi trending dalam penelusuran Google. Banyak warganet yang mencari tahu soal hal tersebut.
Baca Juga : Target Pajak dan Retribusi Naik, Fraksi PKS DPRD Jatim: Jangan Tambah Beban Masyarakat
BMKG Juanda melalui akun Instagram resminya mengingatkan masyarakat agar tetap waspada terhadap potensi perubahan cuaca mendadak. Informasi resmi juga diimbau untuk selalu dipantau melalui kanal resmi BMKG.
Prakirawan BMKG Juanda, Bhilda Maulida, menjelaskan bahwa potensi hujan di Jatim kali ini dipicu oleh fenomena atmosfer Madden-Julian Oscillation (MJO). Fenomena ini mampu memicu pertumbuhan awan hujan meskipun masih berada di musim kemarau.
"Wilayah Jawa Timur memang sedang berada pada musim kemarau. Tetapi adanya MJO membuat pertumbuhan awan hujan lebih intens," kata Bhilda dikutip detikjatim, Selasa (19/8/2025).
Dalam dua hingga tiga hari ke depan, sebagian besar wilayah Jatim diperkirakan berawan, namun peluang hujan tetap terbuka. Hujan diprediksi turun secara lokal dengan intensitas ringan hingga sedang.
"Kondisi cuaca masih dominan berawan, tetapi dalam tiga hari ke depan ada peluang hujan turun di sejumlah wilayah Jatim," tambahnya.
Beberapa wilayah yang berpotensi hujan ringan, sedang hingga lebat adalah sebagai berikut ini:
Bangkalan, Banyuwangi, Blitar, Bojonegoro, Bondowoso, Gresik, Jember, Jombang, Kediri, Kota Batu, Kota Madiun, Kota Malang, Kota Probolinggo, Kota Surabaya, Lamongan, Lumajang, Madiun, Magetan, Malang, Mojokerto, Nganjuk, Ngawi, Pacitan, Pamekasan, Pasuruan, Ponorogo, Probolinggo, Sampang, Situbondo, Sumenep, Trenggalek, Tuban, Tulungagung.
Bhilda menekankan bahwa hujan yang turun di musim kemarau ini masih tergolong wajar dan merupakan bagian dari dinamika atmosfer tahunan. Meski begitu, masyarakat tetap diminta untuk berhati-hati, terutama yang beraktivitas di luar ruangan maupun pelaku sektor pertanian dan perikanan.
Baca Juga : Harga Tomat Rp 1.000/Kg, Petani di Situbondo Merugi
Hujan diperkirakan tidak akan merata dan tidak berlangsung lama. Namun, perubahan cuaca mendadak tetap perlu diantisipasi agar tidak mengganggu aktivitas masyarakat.
Lebih lanjut, Bhilda menyebut bahwa puncak musim kemarau di Jawa Timur diperkirakan terjadi pada akhir Agustus hingga September 2025. Pada periode itu, suhu udara akan terasa lebih terik, kelembapan udara menurun, dan potensi hujan semakin kecil.
"Puncak musim kemarau akan terjadi akhir Agustus hingga September. Setelah itu, secara bertahap hujan mulai meningkat kembali menjelang peralihan ke musim penghujan," jelasnya.
BMKG Juanda juga mengimbau masyarakat agar terus memperbarui informasi cuaca melalui aplikasi maupun media sosial resmi BMKG. Peringatan dini terkait cuaca ekstrem juga akan disampaikan secara berkala sebagai bentuk kewaspadaan.
