Diduga Menderita Busung Lapar 3 Tahun Tanpa Perhatian Pemerintah, Bocah 10 Tahun di Situbondo Kini Berjuang untuk Hidup
Reporter
Wisnu Bangun Saputro
Editor
Sri Kurnia Mahiruni
12 - Aug - 2025, 01:50
JATIMTIMES - Di sebuah rumah berbilik bambu di Dusun Kajer, Desa Selestreng, Kecamatan Kapongan, duduk seorang bocah kurus berkulit pucat dengan pandangan sayu. Namanya Refan (10).
Sejak kelas dua SD, ia terpaksa meninggalkan bangku sekolah bukan karena malas, melainkan karena tubuhnya perlahan melemah akibat penyakit yang diduga busung lapar dan kekurangan gizi.
Baca Juga : Angka Harapan Hidup di Surabaya Tinggi, 640 Lansia Ikuti Senam di Balai Kota
Sejak penyakit itu menyerang, perutnya membuncit, kulitnya kering, dan tubuhnya mengeluarkan bau amis. Teman-teman menjauh, membuatnya memilih tinggal di rumah bersama sang nenek, Darwani (77), satu-satunya orang yang merawatnya dengan penuh kasih di tengah segala keterbatasan.
Berulang kali Darwani berjuang membawa Refan ke rumah sakit di Situbondo. Namun tanpa kartu BPJS dan bantuan pemerintah, semua biaya pengobatan harus ia bayar sendiri dari hasil bekerja serabutan, yang kadang hanya menghasilkan Rp 40.000 per hari.
“Sejak awal penyakit itu muncul, semuanya dibayar tunai. Tidak ada bantuan sama sekali,” ujarnya lirih.
Refan tinggal bersama neneknya sejak usia tiga tahun setelah ibunya merantau ke Malaysia. Ayahnya tidak pernah ada, dan kakeknya telah meninggal. “Cucu saya satu-satunya harapan saya,” kata Darwani sambil menahan air mata.
Kondisi ini mengetuk hati penggiat sosial senior, Suherman, untuk turun tangan. Menurutnya, Refan bukan hanya sakit, tetapi juga menunjukkan gejala kekurangan gizi parah. “Perutnya buncit, kulitnya kering, bahkan beberapa bagian tubuhnya bengkak. Keyakinan saya, ini busung lapar,” ujarnya.
Namun hingga kini tidak ada satupun pihak terkait, baik Dinas Kesehatan maupun Rumah Sakit yang secara resmi memberikan keterangan terkait sakit apa yang diderita Refan.
Suherman juga menceritakan perilaku tak biasa Refan, seperti memakan tisu, kardus, bahkan Al-Qur’an yang dibawanya saat mengaji, dugaan kuat karena rasa lapar yang tak tertahankan.
Baca Juga : Lagu Indonesia Raya Termasuk Public Domain, Apakah Harus Bayar Royalti?
Hanya dalam satu hari satu malam, Suherman menggalang dana melalui dua grup WhatsApp, Forum Diskusi Situbondo dan DPRD Songot Center. Terkumpul Rp 9.250.000 yang seluruhnya diserahkan kepada Darwani untuk pengobatan cucunya.
Namun, ia juga menyentil pemerintah agar segera mendata ulang warga miskin ekstrem di Situbondo. “Masa tiga tahun sakit sejak zaman Bupati Karna, baik pemerintah desa bahkan kepala dusunnya jangankan memberikan bantuan, memberikan perhatian saja tidak. Baru Mas Rio yang mengambil langkah tanggap, kemana selama ini pemdesnya," keluhnya.
Tidak hanya itu, bahkan saat sakit kata Suherman, Nenek Darwani tetap harus membayar biaya pengobatan. "Karena tidak punya uang bagaimana mau berobat, ini membuat kami menjadi miris," imbuhnya.
Kabar baik akhirnya datang. Bupati Situbondo, Yusuf Rio Wahyu Prayogo atau akrab disapa Mas Rio, memastikan pemerintah kabupaten akan menanggung seluruh biaya perawatan Refan hingga sembuh. Harapan pun kembali menyala di hati sang nenek.
Bagi masyarakat yang ingin membantu, donasi dapat dikirim ke rekening BCA 1210560439 atas nama Suherman. Konfirmasi transfer dapat dilakukan melalui nomor 085204956618. Setiap rupiah yang terkumpul akan menjadi napas baru bagi bocah kecil yang tengah berjuang melawan sakit ini.
