Salah Kostum, Remaja di Blitar Dikeroyok Gara-Gara Pakai Hoodie Silat
Reporter
Aunur Rofiq
Editor
Dede Nana
07 - Aug - 2025, 07:57
JATIMTIMES – Seorang bocah 15 tahun, sebut saja RIP, jadi bulan-bulanan sembilan pemuda gara-gara mengenakan hoodie perguruan silat. Kasus yang terjadi di Desa Sukosewu, Kecamatan Gandusari, Kabupaten Blitar ini bikin geleng-geleng kepala: masalah sepele berujung bogem mentah.
Pihak Satreskrim Polres Blitar bergerak cepat. Tak butuh waktu lama, sembilan pelaku berhasil diciduk hanya dalam waktu tiga jam sejak laporan masuk dari orang tua korban. Tiga di antaranya sudah berusia dewasa dan kini ditahan di Polres Blitar. Enam sisanya masih di bawah umur, dan penanganan diserahkan sesuai mekanisme UU Sistem Peradilan Pidana Anak.
Baca Juga : Jejak Shodanco Muradi di Kampung Jepang: Mahasiswa KKN Unisba Blitar Bangun Destinasi Edukasi Sejarah
Menurut keterangan Kasat Reskrim Polres Blitar, AKP Momon Suwito Pratomo, insiden pengeroyokan itu terjadi pada Senin siang, 4 Agustus 2025. Para pelaku diketahui secara bergiliran menganiaya korban di tiga lokasi berbeda.
“Pertama, korban dijemput di rumahnya. Lalu mereka mengajaknya ke rumah salah satu pelaku. Setelah itu, penganiayaan terjadi di depan rumah korban, kemudian berlanjut ke area jalan sawah desa, dan terakhir di rumah salah satu pelaku,” ujar AKP Momon dalam pers rilis bersama awak media, Kamis (7/8/2025).
Korban dianiaya dengan tangan kosong. Wajah, dada, dan perut menjadi sasaran empuk pukulan. Akibatnya, korban mengalami memar di bagian wajah dan dada. Motifnya bikin geleng-geleng: cuma karena video korban mengenakan hoodie perguruan silat tersebar di WhatsApp.
Awal mula kejadian bermula dua hari sebelum insiden. Pada Sabtu malam (2/8/2025), korban dan temannya baru pulang bermain dari Alun-Alun Kanigoro. Dalam kondisi kurang enak badan, korban meminjam hoodie milik temannya yang ternyata merupakan seragam salah satu perguruan silat. Temannya sempat merekam korban mengenakan jaket tersebut, dan video itu diunggah ke status WhatsApp.
Nahas, video itu tersebar dan sampai ke tangan pelaku. Mereka yang diduga simpatisan atau anggota perguruan silat merasa tersinggung. Menurut mereka, korban tidak pantas mengenakan atribut perguruan, karena bukan anggota resmi.
“Para pelaku merasa jengkel dan marah. Dalam versi mereka, korban seolah-olah mengaku sebagai anggota perguruan padahal kenyataannya bukan,” terang AKP Momon.
Tak ayal, niat balas dendam pun muncul. Mereka merancang pertemuan pura-pura, menjemput korban, dan mengeroyoknya secara bergiliran. Dari keterangan penyidik, pelaku dan korban sebenarnya saling kenal. Namun, emosi remaja dan fanatisme buta membuat logika hilang.
“Ini menjadi pelajaran penting. Fanatisme yang tidak sehat bisa berujung kriminal. Apalagi jika korbannya masih anak-anak,” kata Momon.
Baca Juga : Ospek UTM Ricuh, Panitia Terjatuh dari Panggung hingga Dilarikan ke RS
Dalam penggerebekan yang dilakukan aparat, polisi juga mengamankan sejumlah barang bukti: dua unit sepeda motor, satu jaket hoodie silat, kaus lengan pendek, dan celana pendek warna biru. Semuanya diduga berkaitan dengan kejadian pengeroyokan tersebut.
Polres Blitar saat ini masih mendalami peran masing-masing pelaku. Penyidik juga memeriksa keterkaitan para pelaku dengan organisasi atau komunitas silat tertentu. “Kami dalami apakah ini tindakan pribadi atau ada pengaruh dari kelompok,” tambah Momon.
Kasus ini memicu kekhawatiran di tengah masyarakat. Apalagi dalam beberapa tahun terakhir, konflik antaranggota perguruan silat di wilayah Blitar dan sekitarnya kerap terjadi. Bupati dan kepolisian sempat mengeluarkan imbauan agar warga tidak lagi menggunakan atribut silat sembarangan di ruang publik, khususnya oleh mereka yang bukan anggota resmi.
Sementara itu, kondisi korban mulai membaik setelah sempat mendapat perawatan akibat luka memar. Pihak keluarga meminta kasus ini ditangani serius dan memberi efek jera, meski sebagian pelaku masih di bawah umur.
Kasus ini menambah daftar panjang tindakan kekerasan bermotif fanatisme sempit. Pihak kepolisian mengimbau para orang tua dan sekolah untuk meningkatkan pengawasan terhadap pergaulan anak dan bahaya eksklusivitas dalam kelompok.
