Mengejutkan! Pragaan Fair 2025 Kantongi Pendapatan Hampir Rp 50 Juta dari Stan
Reporter
Romzul Fannani
Editor
Sri Kurnia Mahiruni
06 - Aug - 2025, 10:59
JATIMTIMES – Panitia gelaran Pragaan Fair 2025 berhasil mendapatkan keuntungan dari penarikan harga sewa stan yang dibebankan kepada pelaku UMKM. Jumlah yang dikantongi panitia dari sektor ini nyaris menyentuh angka Rp 50 juta, belum termasuk parkir, sponsor, donatur dan sumber dana lainnya.
Pantauan media ini, pola pendapatan didasarkan pada dua kategori stan: stan dalam dan stan luar lapangan. Tarif stan dalam lapangan dipatok hingga Rp750 ribu per unit. Dengan tata letak 12 stand di baris selatan, 22 di baris tengah, 12 di baris utara, dan 14 di baris timur. pada bagian ini, panitia memperoleh keuntungan bersih yang mencapai Rp45 juta.
Baca Juga : Profil Sudewo, Bupati Pati yang Bikin Geger Usai Naikkan PBB Sampai 250 Persen
Sementara luar lapangan terdapat 12 stan, yang merupakan tambahan dan diperuntukkan bagi pedagang kecil, patokan harga sewanya Rp 300 ribu per stan, dengan jumlah pendapatan mencapai Rp3,6 juta.
Tak cukup di situ, panitia juga memungut biaya listrik sebesar Rp 10 ribu per stan untuk 72 pesesrta, total yang dikantongi dari penarikan ini mencapai Rp720 ribu.
Jumlah dari seluruh model penarikan yang disebutkan di atas, mencapai Rp49,32 juta. Angka tersebut belum dijumlahkan dengan pungutan yang didapatkan panitia dari kontribusi desa, sponsor, donatur partisipasi pengusaha swasta di Pragaan.
Namun, di balik pendapatan panitia yang cukup besar, pelaku UMKM lokal justru mengeluhkan tingginya pungutan yang menjadi beban mereka. Ditambah, pengunjung setiap harinya tidak selalu stabil.
“Belum tentu balik modal. Apalagi kalau sepi. Jelas ini bukan untung, malah nombok,” ujar salah satu pelaku UMKM peserta Pragaan Fair yang tak ingin disebutkan namanya.
Kondisi ini menarik perhatian Abd. Hannan salah satu aktivis di Pragaan. Ia menilai panitia hanya fokus pada keuntungan, tanpa melihat lebih jelas kondisi ekonomi masyarakat di Pragaan. Bahkan menurutnya, tarif stan yang tinggi justru melemahkan semangat pemberdayaan ekonomi.
Tak hanya itu, Hannan menjelaskan bahwa dengan adanya kegiatan ini mestinya menjadi ruang bagi pelaku UMKM dalam meraup keuntungan yang lebih.
Baca Juga : Dari Kampus untuk Negeri: Mahasiswa KKN Unisba Blitar Dorong UMKM Gedog Naik Kelas
“Bukan jadi ladang untuk merampok secara halus. Kalau begini caranya, rakyat hanya jadi objek, bukan subjek,” tandasnya.
Ruang klarifikasi juga dibuka untuk Camat Pragaan, Indra Hermawan, yang terlibat sebagai pengampu kegiatan. Namun, hingga berita ini ditayangkan, upaya panggilan telepon hinga pesan WhatsApp yang dikirim belum direspon.
Mengacu ke pemberitaan sebelumnya, minimnya transparansi hingga besarnya angka yang diraup panitia justru menjadi tanda tanya besar publik: ke mana dana yang hampir Rp50 juta itu?.
Penjelasan tebuka soal pemanfaatan anggaran pada gelaran Pragaan Fair akan selalu dinanti oleh masyarakat, tujuannya agar kegiatan serupa tidak menjadi kepentingan bisnis yang disamarkan dengan kedok pesta rakyat.
