Karya Guru MIN 1 Kota Malang Warnai Antologi Pentigraf Nasional
Reporter
Anggara Sudiongko
Editor
Dede Nana
01 - Aug - 2025, 05:16
JATIMTIMES - Budaya literasi di MIN 1 Kota Malang tak hanya tumbuh di ruang kelas, tapi juga bersemi dalam lembar-lembar buku. Empat guru madrasah ini membuktikan bahwa semangat menulis tak pernah padam. Mereka turut menyumbangkan karya dalam antologi nasional pentigraf berjudul Betrayal in Every, yang baru saja dirilis pada pertengahan Juli 2025.
Adalah Murita Herliningtyas, Nur Rahmah, Rachmawati, dan Idha Fitriani, keempatnya tak sekadar mengajar, tapi juga menciptakan. Masing-masing menulis kisah pendek berbentuk pentigraf, format cerita tiga paragraf yang dikenal ringkas namun kaya makna.
Baca Juga : Profil Prof. Ilfi Nur Diana, Rektor Perempuan Pertama UIN Maliki Malang
Pentigraf, akronim dari “cerpen tiga paragraf”, merupakan bentuk mikro-fiksi yang dicetuskan oleh Dr. Tengsoe Tjahjono. Format ini menuntut kepadatan cerita, kedalaman konflik, dan kekuatan kejutan dalam batas hanya 250 kata. Tantangan itu justru menjadi daya tarik tersendiri bagi para guru penulis.

“Bagian tersulit justru di awal dan akhir. Harus bisa langsung memikat, tapi juga meninggalkan kesan kuat,” ungkap Murita Herliningtyas, guru Bahasa Indonesia MIN 1 Kota Malang, saat ditemui di ruang guru, belum lama ini.
Murita menyumbangkan dua judul sekaligus dalam buku tersebut: Kejutan untuk Rose dan Senyum Manis Uka. Ia mengaku banyak belajar tentang cara menyampaikan emosi dalam ruang yang terbatas.
Sementara itu, Nur Rahmah, guru Aqidah Akhlak, menulis cerita berjudul Pesan untuk Nadia. Cerita ini lahir dari pengalamannya bersama sang anak. “Kisahnya tentang anak yang hanya menyukai satu warna, lalu dalam mimpinya, pensil-pensilnya berbicara,” kisah Nur Rahmah yang juga menyampaikan pentigraf menjadi medium refleksi personal sekaligus latihan mengolah imajinasi bagi dirinya.
Rachmawati, guru yang juga aktif di pembinaan baca Al-Qur’an, menyebut proses menulis sebagai latihan merangkum kompleksitas dalam kesederhanaan. Karyanya Rama semula berupa naskah panjang yang akhirnya harus dipotong secara drastis.
“Banyak bagian saya buang, tapi saya tetap berusaha menjaga nyawa ceritanya,” ujarnya.
Lain lagi dengan Idha Fitriani, guru yang dikenal aktif menulis puisi. Dalam Dilema Cinta, ia mengakui bahwa proses kreatifnya melibatkan banyak pertaruhan emosi. “Kadang saya merasa tidak jujur saat menulis,” ucapnya sambil tertawa.
“Karena saya harus mengubah alur cerita dari rencana awal demi ending yang lebih menggigit,” lanjutnya.
Baca Juga : Hore! Pemerintah Tetapkan 18 Agustus 2025 Jadi Hari Libur
Mereka sepakat, sekitar 30 persen isi cerita dalam antologi ini merupakan potongan pengalaman nyata yang kemudian dikemas ulang menjadi fiksi. Sumber ilham bisa datang dari peristiwa kecil, kegelisahan, atau perenungan mendalam, semua bermula dari kehidupan yang sebenarnya.
Tak berhenti di satu buku, tiga dari mereka, Murita, Nur Rahmah, dan Rachmawati juga berkontribusi dalam dua antologi lain: Satu Tujuan, Beragam Rintangan (kumpulan cerpen guru) dan Bumi dalam Tawa Anak-anak (antologi parenting). Jejak literasi mereka terus tumbuh, seperti akar yang tak mudah dicabut.
Kepala MIN 1 Kota Malang, Hj. Siti Aisah, S.Pd., M.Pd., menyampaikan apresiasi atas pencapaian para guru tersebut. Secara simbolis, buku Betrayal in Every diserahkan langsung oleh para penulis kepada kepala madrasah.
“Ini adalah bentuk nyata dari semangat literasi yang hidup di madrasah. Bukan hanya murid yang belajar, tapi guru juga terus bertumbuh,” tutur Siti Aisah bangga.
Kiprah keempat guru ini menegaskan bahwa MIN 1 Kota Malang bukan sekadar tempat belajar, tetapi juga ruang kreatif yang menumbuhkan penulis-penulis baru. Sebuah madrasah literat yang tumbuh di tengah zaman dengan kata, karya, dan keyakinan bahwa setiap cerita layak didengar.
