Metode PGTA, Akurat Deteksi Kelainan Genetik Penyebab Keguguran

20 - Jul - 2025, 09:31

dr Benediktus Arifin MPH SpOG(K) FICS saat pemaparan


JATIMTIMES - Sebanyak 70 hingga 80 persen kasus keguguran pada usia kehamilan di bawah 10 minggu disebabkan oleh kelainan genetik pada embrio. Hal ini diungkapkan oleh dr Benediktus Arifin MPH SpOG(K) FICS dari Morula IVF Surabaya dalam peluncuran program Lifetime Preimplantation Genetic Testing for Aneuploidy (PGTA), Minggu (20 Juli 2025).

Menurut dr Benediktus, keguguran sering kali dikaitkan dengan hal-hal sepele seperti aktivitas fisik atau makanan tertentu. 

Baca Juga : Diskopindag Gelar Bimtek SIINas bagi Pelaku IHT, Wujud Pemanfaatan DBHCHT Tepat Sasaran

“Banyak orang mengira keguguran karena naik tangga atau makan nanas. Padahal faktanya, 70–80 persen keguguran di bawah usia 10 minggu disebabkan oleh kelainan genetik,” ujarnya.

PGTA merupakan metode pemeriksaan kromosom embrio sebelum ditanam ke dalam rahim. Tes ini bertujuan menyaring embrio yang mengandung kelainan kromosom, seperti Down Syndrome, sehingga embrio yang ditanam memiliki peluang lebih tinggi untuk berkembang menjadi kehamilan sehat.

Dokter Jimmy Yanuar Annas SpOG Subsp FER(K) menambahkan bahwa PGTA sangat dianjurkan bagi wanita usia di atas 35 tahun atau yang memiliki riwayat keguguran berulang dan kegagalan program bayi tabung. 

Baca Juga : MIN 2 Kota Malang Jadi Perintis E-Ijazah, Gandeng Madrasah Swasta di KKM Sukun

“PGTA menyeleksi embrio paling sehat secara genetik, meningkatkan kemungkinan keberhasilan kehamilan,” katanya.


Topik

Kesehatan, Preimplantation Genetic Testing for Aneuploidy, PGTA, keguguran,



Jawa Timur merupakan salah satu provinsi dengan pertumbuhan ekonomi yang cukup pesat di Indonesia. Sektor industri, perdagangan, dan pariwisata menjadi pilar utama perekonomian Jatim. Pembangunan infrastruktur juga terus dilakukan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.



cara simpan tomat
Tips Memilih Bralette