Peluncuran Sekolah Lansia Tangguh Magetan: Inovasi Pendidikan Usia Senja di Tengah Realita Sosial yang Terabaikan
Reporter
Basworowati Prasetyo Nugraheni
Editor
Nurlayla Ratri
15 - Jul - 2025, 05:38
JATIMTIMES – Di tengah meningkatnya jumlah penduduk lanjut usia dan tantangan kesehatan mental maupun fisik yang menyertainya, sebuah inisiatif sosial patut diapresiasi. Sekolah Lansia Tangguh akhirnya diluncurkan di Kabupaten Magetan.
Program Sekolah Lansia Tangguh Magetan merupakan bagian dari upaya meningkatkan kualitas hidup lansia. Sekolah ini tidak hanya menjadi ruang belajar, tetapi juga ruang harapan bagi para warga usia senja yang selama ini kerap terpinggirkan dari sistem pembangunan.
Baca Juga : Disdikbud Kota Malang Targetkan Pembagian Seragam Gratis Tuntas Akhir Juli
Program ini diikuti puluhan lansia, dengan rentang usia 60 hingga 85 tahun. Mereka secara sukarela mengikuti kelas sebulan dua kali dengan kurikulum yang tidak biasa: dari pengelolaan stres, kebugaran lansia, pengetahuan gizi, hingga pendidikan hak-hak sosial dan ekonomi warga lanjut usia.
Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Magetan, jumlah warga lanjut usia di kabupaten ini meningkat hampir 9% dalam lima tahun terakhir. Meski tergolong sebagai kabupaten yang memiliki indeks pembangunan manusia (IPM) cukup tinggi di Jawa Timur, perhatian terhadap kesejahteraan lansia masih minim. Ironisnya, banyak lansia hidup dalam kondisi depresi ringan, ketergantungan, dan kesepian yang tidak tertangani secara sistemik.
Fakta di lapangan menunjukkan bahwa sebagian besar program pemerintah masih berpusat pada kelompok produktif. Padahal kelompok lansia merupakan kelompok rentan. Mereka membutuhkan pendekatan berbeda, bukan sekadar pemberian bantuan sosial.
Sekolah Lansia Tangguh sebenarnya menyimpan muatan yang sangat dalam pemberdayaan psikososial. Para peserta, yang sebagian besar sebelumnya mengaku merasa ‘tidak berguna lagi’, nanti akan merasa dihargai dan kembali memiliki tujuan. Karena Belajar Bukan Soal Umur, Tapi Soal Harga Diri.
Kurikulum sekolah ini juga menyesuaikan dengan kebutuhan psikologis lansia, bukan berorientasi pada akademik semata. Hal ini berbeda dengan pendekatan formal pendidikan orang dewasa, karena Sekolah Lansia Tangguh mengedepankan interaksi sosial, penguatan mental, dan kemandirian lansia.
Selain itu, stigma terhadap lansia yang dianggap ‘selesai secara sosial’ masih menjadi hambatan budaya. Minimnya partisipasi keluarga dalam mendukung aktivitas para lansia menjadi pekerjaan rumah yang tidak kalah penting.
Baca Juga : Program Seragam Gratis Pemkot Malang: Ringankan Beban Orang Tua, Dorong Peningkatan Semangat Belajar Siswa
Wakil Bupati Magetan, Suyatni dalam sambutannya saat peluncuran mengatakan melalui Sekolah Lansia Tangguh, Magetan sejatinya sedang menantang satu stigma besar diskriminasi berdasarkan usia. Ketika lansia dianggap tidak produktif, beban, atau tidak relevan dengan arus zaman, maka program ini menjadi pernyataan bahwa setiap manusia, tanpa memandang umur, punya hak yang setara untuk tumbuh dan merasa bernilai.
“Membangun daerah tidak hanya untuk anak muda, tapi juga bagaimana kita memberi ruang yang layak dan manusiawi bagi para lansia untuk tetap sehat, aktif, dan dihargai,” ungkapnya.
Sekolah Lansia Tangguh bukan sekadar tempat belajar bagi para sepuh Magetan. Ia adalah simbol peradaban lokal yang menghargai umur tua sebagai fase kehidupan yang tetap bermakna. Meski masih banyak yang harus dibenahi dari sisi pendanaan, regulasi, dan partisipasi masyarakat, namun langkah kecil ini layak jadi teladan nasional.
Jika sekolah bagi anak-anak adalah investasi masa depan, maka sekolah bagi lansia adalah cara merawat martabat masa lalu.
