Abdullah bin Mas’ud, Pembaca Perdana Al-Qur’an yang Mengguncang Para Pemuka Quraisy

27 - May - 2025, 09:20

Ilustrasi (pixabay)


JATIMTIMES - Di tengah kekuasaan para tokoh Quraisy yang menentang dakwah Islam, seorang pemuda miskin berani menantang status quo dengan melantunkan ayat suci Al-Qur’an secara terbuka. Dialah Abdullah bin Mas’ud, sahabat ke-6 yang memeluk Islam, yang sejarah mencatatnya sebagai orang pertama memperdengarkan firman Allah di hadapan elite Mekkah. 

Kisah heroik ini bukan sekadar tentang keberanian, tetapi tentang keyakinan bahwa kebenaran tak bisa dibungkam, sekalipun harus dibayar dengan darah.  

Baca Juga : Ki Ageng Pamanahan dan Restu Sunan Prapen: Benih Kekuasaan di Alas Mentaok

Dari sumber Kitab Rijal Haula al-Rasul (Khalid Muhammad Khalid), Riwayat Zubair bin Awwam, dan catatan sejarah sahabat Nabi, Abdullah bin Mas’ud, yang sebelumnya dikenal sebagai buruh penggembala kambing milik keluarga Quraisy, memilih jalan berbeda setelah memeluk Islam. 

Meski status sosialnya rendah dan kerap dianggap tak berarti, ia justru menjadi simbol perlawanan terhadap kesombongan kaum elite. Khalid Muhammad Khalid dalam Rijal Haula al-Rasul menggambarkan sosoknya yang awalnya pemalu: selalu menunduk dan berjalan cepat saat melewati perkumpulan tokoh Quraisy. Namun, segalanya berubah setelah keislamannya.  

Suatu pagi di sekitar Ka'bah, Abdullah bin Mas’ud dengan tegas berdiri di tengah kerumunan pembesar Quraisy. Dengan suara lantang namun penuh ketundukan, ia melantunkan Surah Ar-Rahman ayat 1-6: “Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang. Yang Maha Pengasih, telah mengajarkan Al-Qur’an. Dia menciptakan manusia. Mengajarnya pandai berbicara. Matahari dan bulan beredar dengan perhitungan-Nya. Tetumbuhan dan pepohonan tunduk kepada-Nya.”

Para tokoh Quraisy terpaku. Tak percaya bahwa suara merdu nan dalam itu keluar dari seorang yang mereka anggap rendahan. 
 
Zubair bin Awwam, sahabat Nabi yang menyaksikan langsung peristiwa itu, mengisahkan bagaimana Abdullah bin Mas’ud sengaja memilih momentum ketika para elite Quraisy berkumpul. Zubair menjelaskan, mereka menghadap ke arah mereka, seolah menantang. Suaranya menggema, membuat mereka bingung antara terpesona dan marah.

Tak lama, kemarahan Quraisy meledak. Mereka menghajar Abdullah hingga wajahnya babak belur. Tapi, pemuda itu tak bergeming. Ia terus melantunkan ayat-ayat suci hingga selesai, lalu pulang dengan luka-luka.  

Baca Juga : Puasa Dzulhijjah Bisa Dimulai Kapan? Ini Jadwal dan Tata Caranya

Kepada para sahabat yang khawatir, Abdullah justru balik bertanya: “Mengapa kalian takut? Musuh Allah takkan bisa menghentikan kebenaran.” Bahkan, ia bersikeras ingin mengulangi aksinya keesokan hari. Namun, para sahabat, termasuk yang berasal dari keluarga terpandang, memintanya berhati-hati. “Kami ingin yang membacakan ayat adalah orang dengan perlindungan keluarga kuat,” ujar mereka. Tapi bagi Abdullah, perlindungan Allah lebih dari cukup.  

Kisah Abdullah bin Mas’ud bukan sekadar fragmen sejarah, melainkan bukti bahwa Al-Qur’an memiliki kekuatan transformatif. Dari seorang penggembala yang dihinakan, ia menjadi simbol keteguhan iman. Sementara para pemuka Quraisy, dengan segala kuasa duniawinya, justru terpaku oleh kebenaran yang tak bisa mereka sangkal.  

Hingga kini, Surah Ar-Rahman yang ia lantunkan tetap abadi, mengingatkan umat Islam bahwa kebenaran tak memerlukan pengakuan penguasa. Seperti kata Abdullah saat kembali dengan luka: “Ini harga termurah untuk melawan musuh-musuh Allah.” Pesannya jelas: dalam perjuangan menegakkan hakikat, status sosial, harta, atau kekuatan fisik tak pernah bisa mengalahkan ketulusan hati.  


Topik

Agama, Al Quran, Abdullah bin Mas’ud, Quraisy, sejarah islam,



Jawa Timur merupakan salah satu provinsi dengan pertumbuhan ekonomi yang cukup pesat di Indonesia. Sektor industri, perdagangan, dan pariwisata menjadi pilar utama perekonomian Jatim. Pembangunan infrastruktur juga terus dilakukan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.



cara simpan tomat
Tips Memilih Bralette