Kenali Penyebab Diabetes Gestasional selama Kehamilan, PAFI Berikan Solusi Pengobatan
Reporter
pipit anggraeni
Editor
Redaksi
25 - Apr - 2025, 12:21
JATIMTIMES - Berbicara tentang gangguan kesehatan selama masa kehamilan, salah satunya yang cukup menjadi perhatian adalah diabetes. Diabetes gestasional adalah kondisi diabetes yang muncul selama masa kehamilan, biasanya terjadi pada trimester kedua atau ketiga, dan berlangsung sampai proses persalinan. Kondisi ini ditandai oleh peningkatan kadar gula darah akibat tubuh ibu hamil tidak mampu memproduksi cukup insulin untuk mengontrol gula darah secara efektif selama kehamilan. Prevalensi diabetes gestasional di Indonesia pada kehamilan umum berkisar antara 1,9% hingga 3,6%.
PAFI dengan alamat website https://pafikabupatenbatanghari.org adalah salah satu organisasi kesehatan terbesar di Indonesia, yang sangat peduli dengan kesehatan masyarakat. Persatuan Ahli Farmasi Indonesia berupaya untuk meningkatkan profesionalisme anggotanya, sehingga dapat memberikan pelayanan dan distribusi obat-obatan yang mudah serta harga yang lebih terjangkau bagi masyarakat.
Baca Juga : Kenali Penyebab Gatal di Selangkangan saat Hamil, PAFI Berikan Solusi Pengobatan
Organisasi kesehatan PAFI aktif dalam memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai penyebab diabetes gestasional selama masa kehamilan, serta rekomendasi obat yang bisa dikonsumsi bagi penderitanya.
Apa saja faktor penyebab terjadinya diabetes gestasional selama kehamilan?
Pada umumnya, diabetes gestasional terjadi pada bumil karena perubahan hormon selama kehamilan, seperti peningkatan hormon estrogen, human placental lactogen (HPL), growth hormone, dan kortisol, yang menyebabkan resistensi insulin. Resistensi insulin ini membuat tubuh sulit mengolah gula darah sehingga kadar gula meningkat. Selain itu, disfungsi sel beta pankreas yang menghasilkan insulin juga berperan dalam terjadinya kondisi ini. Berikut adalah beberapa faktor penyebab terjadinya diabetes gestasional selama masa kehamilan yang perlu diperhatikan meliputi:
1. Adanya perubahan pada hormon secara signifikan
Selama kehamilan, plasenta memproduksi berbagai hormon yang berperan penting dalam menjaga kehamilan dan mendukung pertumbuhan janin, seperti estrogen, progesteron, kortisol, dan human placental lactogen (HPL). Hormon-hormon ini memiliki efek antagonis terhadap insulin, yang berarti mereka mengurangi efektivitas insulin dalam mengatur kadar gula darah. Kondisi ini disebut resistensi insulin. Resistensi insulin menyebabkan sel-sel tubuh, terutama otot dan jaringan lemak, menjadi kurang responsif terhadap insulin sehingga glukosa tidak dapat masuk ke dalam sel dengan mudah dan tetap berada di dalam darah, meningkatkan kadar gula darah.
2. Resistensi insulin yang meningkat
Resistensi insulin selama kehamilan adalah fenomena fisiologis normal yang bertujuan memastikan cukupnya glukosa yang tersedia untuk janin. Namun, jika resistensi insulin ini terlalu tinggi dan tidak diimbangi dengan produksi insulin yang memadai, maka kadar gula darah akan meningkat secara abnormal. Faktor-faktor yang memperparah resistensi insulin antara lain kelebihan berat badan atau obesitas, kurangnya aktivitas fisik, pola makan tinggi gula dan karbohidrat sederhana.
3. Obesitas atau kelebihan berat badan
Obesitas adalah salah satu faktor risiko paling kuat untuk diabetes gestasional. Lemak tubuh yang berlebihan, khususnya lemak visceral (di sekitar organ dalam), menghasilkan berbagai zat kimia yang disebut adipokin yang dapat mengganggu fungsi insulin dan meningkatkan resistensi insulin. Selain itu, obesitas juga berhubungan dengan peradangan kronis yang mempengaruhi metabolisme glukosa. Ibu hamil dengan Indeks Massa Tubuh (IMT) ≥ 30 kg/m² sebelum kehamilan atau mengalami kenaikan berat badan berlebih selama kehamilan memiliki risiko lebih tinggi mengalami diabetes gestasional.
4. Faktor genetik atau riwayat keluarga
Riwayat keluarga dengan diabetes tipe 2 merupakan faktor risiko penting. Jika ibu, ayah, atau saudara kandung memiliki diabetes tipe 2, kemungkinan ibu hamil mengalami diabetes gestasional juga meningkat. Ini menunjukkan adanya komponen genetik yang mempengaruhi kemampuan tubuh mengatur gula darah dan sensitivitas insulin.
5. Kondisi medis lainnya
Faktor terakhir yang menyebabkan diabetes gestasional adalah kondisi medis lainnya. Salah satunya PCOS (sindrom ovarium polikistik). PCOS merupakan kondisi hormonal yang umum pada wanita usia reproduksi yang ditandai dengan gangguan ovulasi, hiperandrogenisme, dan resistensi insulin. Wanita dengan PCOS cenderung memiliki resistensi insulin yang sudah ada sebelum kehamilan, sehingga risiko diabetes gestasional meningkat.
Apa saja obat yang tepat untuk mengobati diabetes gestasional selama kehamilan?
PAFI (Persatuan Ahli Farmasi Indonesia) telah melakukan penelitian lanjut mengenai penyebab utama dari diabetes gestasional selama kehamilan. Berikut adalah beberapa jenis obat yang umum digunakan untuk mengurangi gejala sakit diabetes pada bumil serta membantu mengelola kondisi tersebut meliputi:
Baca Juga : Tips Masak Nasi Putih yang Lebih Sehat dari Biasanya, Cuma Pakai 1 Bahan Ajaib
1. Metformin
Metformin adalah obat yang dapat menurunkan produksi glukosa di hati dan meningkatkan sensitivitas insulin di jaringan perifer. Metformin melewati plasenta, tetapi studi besar menunjukkan tidak ada peningkatan risiko cacat lahir atau efek samping serius pada janin. Untuk dosisnya, apoteker akan meresepkan penggunaan 500 mg sekali sehari, dapat ditingkatkan hingga 2.500 mg per hari dalam dosis terbagi.
2. Glibenclamide
Glibenclamide adalah obat yang dapat merangsang pankreas untuk meningkatkan produksi insulin. Glibenclamide juga melewati plasenta dalam jumlah kecil. Studi dari PAFI menunjukkan bahwa obat ini relatif aman, tetapi risiko hipoglikemia pada bayi sedikit lebih tinggi dibanding metformin. Untuk dosisnya, apoteker akan meresepkan penggunaan 2,5 mg sekali sehari sebelum makan, dapat ditingkatkan sampai maksimal 10 mg per hari.
3. Aspirin dosis rendah
Aspirin dosis rendah (50-150 mg/hari, biasanya 81 mg) diberikan pada ibu hamil dengan diabetes gestasional untuk menurunkan risiko preeklamsia, terutama pada trimester kedua dan ketiga. Aspirin ini bekerja sebagai antiinflamasi dan antitrombotik ringan, membantu memperbaiki aliran darah plasenta.
4. Insulin suntik
Insulin adalah hormon yang membantu menurunkan kadar gula darah dengan meningkatkan penyerapan glukosa oleh sel tubuh. Insulin tidak melewati plasenta sehingga aman bagi janin dan tidak menyebabkan efek samping langsung pada bayi. Dosis insulin disesuaikan dengan berat badan dan kadar gula darah, biasanya mulai dari 0,7–1,0 unit/kg berat badan/hari. Dosis dibagi sesuai pola makan dan kadar gula darah, dengan pemantauan ketat untuk menghindari hipoglikemia.
Selain mengonsumsi obat-obatan, beberapa cara lain untuk mengurangi gejala diabetes gestasional selama kehamilan adalah mengatur pola makan agar lebih sehat. Bumil disarankan untuk mengonsumsi makanan bergizi lengkap dan seimbang, terutama banyak mengonsumsi sayuran, buah-buahan, kacang-kacangan, dan biji-bijian yang kaya serat. Selanjutnya, bumil juga disarankan untuk makan dengan jadwal yang teratur dan jangan melewatkan waktu makan, terutama sarapan, untuk menghindari hipoglikemia.
Dapatkan informasi kesehatan serta layanan farmasi gratis dengan mengunjungi pafikabupatenbatanghari.org melalui smartphone Anda.
