Dasarian III Agustus: Jawa Timur Waspada Angin Kencang, El Nino Masih Menguat

Reporter

Binti Nikmatur

Editor

A Yahya

24 - Aug - 2026, 04:16

Ilustrasi angin kencang yang diprakirakan terjadi di Jatim periode akhir Agustus 2026. (Foto: Shutterstock)


JATIMTIMES - Jawa Timur masuk daftar wilayah yang perlu mewaspadai potensi angin kencang pada periode akhir Agustus 2026. Di sisi lain, kondisi kering masih mendominasi sebagian besar Indonesia seiring El Nino yang telah mencapai intensitas sangat kuat.

Hal tersebut tertuang dalam prakiraan cuaca BMKG untuk periode 21-27 Agustus 2026 yang dirilis BMKG pada Senin (24/8/2026). Selain Jawa Timur, wilayah yang perlu mewaspadai angin kencang pada akhir Agustus yakni Aceh, Kalimantan Selatan, Nusa Tenggara Timur (NTT), Sulawesi Selatan, dan Maluku Utara. 

Baca Juga : 9 Perempuan Diduga Disandera OPM di Mimika, Ada Ibu Hamil dan Siswi SD

Kondisi kering ini berkaitan dengan perkembangan El Nino yang berada pada intensitas sangat kuat serta Indian Ocean Dipole (IOD) yang berada dalam fase positif. BMKG menyebut kedua fenomena tersebut turut mengurangi pasokan uap air ke wilayah Indonesia.

Berdasarkan analisis Dasarian I Agustus 2026, sebanyak 535 Zona Musim (ZOM) atau 76,5 persen wilayah Indonesia telah mengalami musim kemarau.

Curah hujan kategori rendah juga mendominasi 90,79 persen wilayah Indonesia. Sementara itu, sebanyak 87,28 persen wilayah mengalami sifat hujan di bawah normal.

BMKG menyebut kondisi tersebut turut berpengaruh terhadap meningkatnya potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Berdasarkan pantauan citra satelit Himawari-9 pada 19 Agustus 2026, sebaran asap terdeteksi di sejumlah wilayah Sumatera bagian tengah dan selatan serta Kalimantan. Sebagian asap bahkan terbawa pola angin hingga meluas ke wilayah sekitarnya. 

Meski kemarau semakin dominan, hujan dengan intensitas lebat hingga ekstrem masih dapat terjadi di sejumlah wilayah.

Pada 17-19 Agustus 2026, hujan tercatat dengan intensitas 159 mm per hari di Sumatera Barat, 131 mm per hari di Banten, 127 mm per hari di Bengkulu, 110 mm per hari di Sumatera Utara, 109 mm per hari di Riau, 77 mm per hari di Jawa Barat, dan 69 mm per hari di Aceh.

Fenomena tersebut dipengaruhi kombinasi dinamika atmosfer regional dan faktor lokal. Aktivitas Madden-Julian Oscillation (MJO) terdeteksi melintasi sebagian besar Sumatera. Gelombang Kelvin dan Mixed-Rossby-Gravity (MRG) juga aktif di sebagian Aceh dan Sumatera Utara. 

Untuk periode 21-23 Agustus 2026, cuaca Indonesia secara umum didominasi hujan ringan hingga sedang. Peningkatan hujan dengan intensitas sedang perlu diwaspadai di Sumatera Utara, Sumatera Barat, Kalimantan Utara, dan Papua.

Sementara itu, Jawa Timur masuk daftar wilayah yang perlu mewaspadai angin kencang.

BMKG juga memasukkan Aceh, Kalimantan Selatan, NTT, Sulawesi Selatan, dan Maluku Utara dalam daftar wilayah yang berpotensi mengalami angin kencang pada periode tersebut. 

Memasuki periode 24-27 Agustus 2026, cuaca Indonesia umumnya diprakirakan cerah berawan hingga hujan lebat. Peningkatan hujan dengan intensitas sedang perlu diwaspadai di Aceh, Sumatera Barat, dan Riau.

Sedangkan potensi hujan lebat hingga sangat lebat dengan kategori Siaga diprakirakan terjadi di Sumatera Barat. Angin kencang juga perlu diwaspadai di Lampung, Banten, Kalimantan Selatan, dan Sulawesi Selatan. 

Memasuki Dasarian III Agustus 2026, kondisi kering masih menjadi perhatian. BMKG memprakirakan sekitar 86,62 persen wilayah Indonesia akan mengalami curah hujan kategori rendah, yakni 0-50 mm per dasarian.

Wilayah yang masuk kategori tersebut mencakup sebagian besar Pulau Jawa, Sulawesi, Kalimantan, Sumatera Selatan, Kepulauan Bangka Belitung, Lampung, Bali, NTT, NTB, Maluku, Maluku Utara, Papua Barat, dan Papua Barat Daya. 

Jawa Timur juga termasuk wilayah yang berada dalam cakupan kondisi curah hujan rendah tersebut.

Baca Juga : Salurkan 30 Kilogram Beras Per KPM, Pemkot Surabaya Targetkan Bantuan Pangan Tuntas September

Sementara 13,38 persen wilayah lainnya diprakirakan mengalami curah hujan kategori menengah, yakni 50-150 mm per dasarian. Wilayah itu meliputi sebagian Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Jambi, Bengkulu, Papua Tengah, Papua, Papua Pegunungan, dan Papua Selatan.

Meski demikian, BMKG menjelaskan hujan lokal masih berpeluang terjadi. Hal tersebut dipengaruhi sejumlah gangguan dan dinamika atmosfer yang dapat meningkatkan suplai uap air serta memperlambat angin.

"Meskipun secara umum curah hujan masih diprakirakan rendah di sebagian besar wilayah Indonesia, hujan dengan intensitas bervariasi masih berpotensi terjadi secara lokal, terutama di wilayah yang dipengaruhi oleh gangguan atmosfer tersebut," tulis BMKG dalam rilis prakiraan cuaca periode 21-27 Agustus 2026. 

MJO juga diprakirakan masih aktif di sebagian besar Sumatera, Selat Malaka, Selat Karimata, Laut Natuna, Laut China Selatan, sebagian Kalimantan hingga Pasifik barat.

Selain itu, Gelombang Kelvin dan Gelombang Rossby Ekuator diprakirakan aktif di sejumlah wilayah Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Maluku Utara hingga Samudra Pasifik utara Papua.

Meluasnya kondisi kering juga membuat ancaman kekeringan dan karhutla perlu menjadi perhatian.

BMKG mengimbau masyarakat dan pemerintah daerah menghemat penggunaan air serta meningkatkan kewaspadaan, terutama di wilayah yang memiliki lahan gambut, semak belukar, dan kawasan hutan yang mudah terbakar.

"Seiring menguatnya kondisi kering, masyarakat dan pemerintah daerah diimbau untuk menghemat penggunaan air serta meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan," tulis BMKG. 

BMKG juga meminta masyarakat tidak membakar sampah atau membuka lahan secara sembarangan. Warga diminta segera melaporkan apabila menemukan indikasi titik api atau hotspot.

Selain ancaman karhutla, masyarakat perlu mengantisipasi dampak cuaca panas dengan mencukupi kebutuhan cairan tubuh dan menggunakan pelindung atau tabir surya, khususnya saat beraktivitas di luar ruangan pada siang hari.

Hujan lokal yang disertai kilat, petir, dan angin kencang juga masih berpotensi terjadi. Karena itu, masyarakat diminta mewaspadai pohon atau dahan tumbang, baliho roboh, genangan, serta sambaran petir.

"Meskipun musim kemarau semakin dominan, hujan dengan intensitas ringan hingga sedang yang dapat disertai kilat/petir dan angin kencang masih berpotensi terjadi secara lokal," tulis BMKG. 

Masyarakat diimbau terus memantau informasi prakiraan cuaca dan peringatan dini melalui kanal resmi BMKG, termasuk laman BMKG, aplikasi InfoBMKG, serta media sosial @infobmkg.


Topik

Lingkungan, bmkg, kebakaran hutan, karhutla, el nino, badai el nino,



Jawa Timur merupakan salah satu provinsi dengan pertumbuhan ekonomi yang cukup pesat di Indonesia. Sektor industri, perdagangan, dan pariwisata menjadi pilar utama perekonomian Jatim. Pembangunan infrastruktur juga terus dilakukan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.



cara simpan tomat
Tips Memilih Bralette