JATIMTIMES - Sebanyak sembilan perempuan diduga disandera kelompok bersenjata yang disebut sebagai Organisasi Papua Merdeka (OPM) atau Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) di Distrik Jila, Kabupaten Mimika, Papua Tengah. Mereka terdiri dari perempuan dewasa, ibu hamil, hingga anak yang masih duduk di bangku sekolah dasar (SD).
Komandan Korem 173/PVB Brigjen TNI Vivin Alivianto mengatakan pihaknya masih melakukan pencarian terhadap sembilan perempuan tersebut. Upaya dilakukan agar para korban dapat segera kembali ke tengah keluarga.
Baca Juga : AIESEC in UNEJ Gelar Global Village, Dorong Generasi Muda Kenali Keberagaman dan Bangun Koneksi Global
"Kami terus berupaya mencari agar dapat memulangkan mereka dan kembali ke tengah keluarganya," kata Brigjen TNI Vivin Alivianto dikutip Antara, Senin (24/8/2026).
Menurut Vivin, jumlah perempuan yang awalnya dibawa kelompok bersenjata tersebut mencapai 11 orang. Namun, dua orang kemudian menjadi korban penembakan.
"Sedangkan seorang lainnya jatuh ke jurang, namun Jumat (21/8) sudah dievakuasi dan dirawat di rumah sakit Timika," kata Vivin.
Dia menjelaskan insiden tersebut terjadi pada 16-17 Agustus 2026. Saat ini, TNI bersama pemerintah daerah terus berupaya memulihkan kondisi keamanan di wilayah Jila.
Selain pemulihan keamanan, pemerintah juga memberikan bantuan makanan kepada warga. Hal itu dilakukan karena masyarakat setempat masih takut pergi ke kebun untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Vivin mengatakan kelompok bersenjata yang membawa warga sipil tersebut diduga berasal dari Kodap III Ndugama. Kelompok itu disebut berada tidak terlalu jauh dari wilayah Jila, dengan jarak tempuh sekitar dua hari berjalan kaki.
"Mereka yang dibawa KKB selain mama-mama juga ada anak perempuan dan berharap dapat segera dipulangkan agar berkumpul kembali dengan keluarga," kata Vivin.
Polres Mimika sebelumnya telah menerima informasi mengenai sembilan perempuan yang diduga disandera. Kapolres Mimika AKBP Alredo Agustinus Rumbiak mengatakan identitas para korban diperoleh dari pihak keluarga.
"Kami sudah menerima nama-nama sembilan orang yang informasinya disandera. Kami dapat nama dari keluarga yang menjadi korban," kata Alredo.
Alredo mengatakan pihaknya masih menyelidiki kasus tersebut, termasuk memastikan kondisi para korban. Kesembilan perempuan itu disebut berasal dari sejumlah kampung di sekitar Distrik Jila.
Baca Juga : Dari Mini Soccer hingga Gerakan Makan Telur, Cara Warga Tanjungsari Regency Blitar Rayakan HUT RI
"Sembilan korban sandera ini keseluruhannya perempuan dan rata-rata masih di bawah umur," ujarnya.
Dia menambahkan kondisi Distrik Jila setelah serangan kelompok bersenjata tersebut mulai kondusif. "Saat ini situasi di Jila sudah mulai aman," tambah Alredo.
Berikut daftar sembilan perempuan yang dilaporkan diduga dibawa kelompok bersenjata:
1. Nemerina Wamang (17 tahun), hamil muda, dari Kampung Pilikogom.
2. Alin Mesawarol, siswi kelas 6 SD, dari Kampung Jila.
3. Nopi Aim, siswi kelas 4 SD, dari Kampung Jila.
4. Opinte Mesawaro, siswi kelas 3 SD, dari Kampung Jila.
5. Yotina Senawatme (18 tahun), dari Kampung Noema.
6. Meria Nibilingame (15 tahun), dari Kampung Pilikogom.
7. Wena Katagame (18 tahun), keluarga Kampung Bunaraigin.
8. Ilimin Onawame (18 tahun), dari Kampung Noema.
9. Miante Nibilingame (13 tahun), dari Kampung Bunaraigin.
Sebelumnya, peristiwa penyanderaan tersebut terjadi setelah kelompok OPM menyerang pos keamanan TNI di wilayah Jila pada Senin (17/8/2026). Dalam kontak tembak yang terjadi, seorang prajurit TNI dilaporkan gugur.
"Kontak tembak di wilayah Jila yang melibatkan aparat keamanan dengan kelompok OPM Pok III Puncak yang diduga dipimpin Pemne Kogoya," kata Kapendam XVII/Cenderawasih Kolonel Inf Tri Purwanto dalam keterangannya pada Senin (17/8/2026).
Selain satu prajurit gugur, dua prajurit TNI lainnya mengalami luka-luka. Kedua korban telah mendapatkan penanganan medis.
"Dalam kejadian tersebut, tiga prajurit menjadi korban, satu gugur dan dua lainnya mengalami luka. Saat ini penanganan terhadap korban terus dilakukan," pungkasnya.