Afirmasi Positif Efektif atau Sekadar Sugesti? Begini Penjelasan Ahli soal Manfaatnya bagi Kesehatan Mental
Reporter
Mutmainah J
Editor
Sri Kurnia Mahiruni
27 - Jul - 2026, 06:34
JATIMTIMES - Berbicara kepada diri sendiri dengan kalimat-kalimat yang membangun atau dikenal sebagai afirmasi positif semakin banyak diterapkan sebagai bagian dari gaya hidup sehat. Kebiasaan ini dilakukan dengan berbagai cara, mulai dari mengucapkan kata-kata penyemangat di depan cermin hingga menuliskannya di jurnal harian.
Di media sosial, afirmasi positif sering diklaim mampu meningkatkan rasa percaya diri, membantu meraih kesuksesan, hingga membuat seseorang lebih bahagia. Namun, benarkah afirmasi positif memang efektif?
Sejumlah ahli menjelaskan bahwa manfaatnya memang didukung penelitian, tetapi hasilnya bergantung pada kondisi dan cara seseorang menerapkannya. Dilansir dari Best Health, berikut penjelasannya.
Terapis pernikahan dan keluarga berlisensi, Christine E.W. Borst, mengatakan terdapat berbagai penelitian yang menunjukkan manfaat afirmasi positif terhadap kesehatan mental.
Menurut Borst, afirmasi bukan sekadar mengucapkan kata-kata baik kepada diri sendiri. Kebiasaan ini membantu seseorang mengubah cara memandang dirinya sehingga lebih fokus pada kelebihan dibanding terus-menerus memikirkan kekurangan.
"Ada cukup banyak penelitian yang mendukung manfaat afirmasi positif. Namun, hasilnya bergantung pada tujuan yang ingin dicapai seseorang dan kondisi awal yang dimilikinya," ujar Borst, seperti dikutip Best Health, Senin (27/7/2026).
Dengan dilakukan secara konsisten, afirmasi positif dapat menjadi salah satu cara menjaga kesehatan mental sekaligus membangun rasa percaya diri dalam menjalani aktivitas sehari-hari.
Manfaat afirmasi positif juga pernah dibahas dalam penelitian yang diterbitkan di Annals of Behavioral Medicine pada 2016.
Penelitian tersebut menemukan bahwa optimisme dan afirmasi diri berkaitan dengan kemampuan seseorang untuk beradaptasi menghadapi tantangan, mencapai tujuan, serta memiliki kondisi kesehatan yang lebih baik, termasuk pada penyintas kanker.
Temuan ini menunjukkan bahwa pola pikir positif dapat menjadi salah satu faktor yang mendukung ketahanan mental seseorang ketika menghadapi situasi sulit.
Psikolog Peggy Fitzsimmons menjelaskan bahwa pikiran yang terus diulang dalam waktu lama berpotensi berubah menjadi sebuah keyakinan.
Menurutnya, cara seseorang berpikir akan memengaruhi emosi, energi, hingga tindakan yang diambil setiap hari.
Banyak orang, kata Fitzsimmons, tanpa sadar masih menyimpan keyakinan negatif seperti merasa tidak cukup baik atau harus selalu berprestasi agar diterima orang lain. Keyakinan semacam itu kemudian memengaruhi hubungan sosial maupun cara menghadapi berbagai situasi.
Sebaliknya, afirmasi seperti "Saya cukup apa adanya" atau "Dunia adalah tempat yang bersahabat" dapat membantu menumbuhkan rasa syukur, penerimaan diri, dan ketenangan. Emosi positif tersebut kemudian berpengaruh terhadap perilaku sehari-hari.
Meski memiliki manfaat, para ahli mengingatkan bahwa afirmasi positif bukanlah solusi tunggal untuk mengatasi seluruh persoalan psikologis.
Christine E.W. Borst menilai afirmasi mungkin kurang efektif apabila seseorang mengalami gangguan kecemasan, depresi, atau trauma yang belum mendapatkan penanganan.
Baca Juga : Jangan Keseringan Menutup Aplikasi di Latar Belakang HP, Ternyata Bisa Bikin Baterai Lebih Boros
"Afirmasi positif mungkin tidak membantu jika seseorang membutuhkan dukungan yang lebih intensif, seperti pada gangguan kecemasan, depresi, atau memiliki riwayat trauma yang belum diproses," jelasnya.
Pendapat serupa disampaikan ahli neurosains kognitif Caroline Leaf. Ia mengatakan bahwa mengulang kalimat positif saja tidak cukup menghasilkan perubahan jangka panjang apabila akar permasalahan tidak diselesaikan.
Menurut Leaf, perubahan yang bertahan lama membutuhkan pemahaman terhadap penyebab munculnya pikiran negatif, bukan hanya menggantinya dengan kalimat positif.
Cara Agar Afirmasi Positif Lebih Efektif
Para ahli sepakat bahwa afirmasi positif akan memberikan hasil yang lebih baik jika dibarengi dengan tindakan nyata.
Beberapa hal yang dapat dilakukan antara lain:
• Mengucapkan afirmasi secara konsisten.
• Melakukan refleksi diri untuk mengenali akar masalah.
• Membangun kebiasaan positif yang mendukung tujuan.
• Mencari bantuan profesional apabila mengalami gangguan mental yang serius.
Borst juga menekankan bahwa bahasa memiliki pengaruh besar terhadap suasana hati. Seseorang cenderung merespons lebih baik ketika menerima kata-kata yang penuh penghargaan, termasuk dari dirinya sendiri.
Meski demikian, afirmasi positif bukan jalan pintas untuk mengubah kepribadian dalam waktu singkat. Kebiasaan ini lebih berfungsi sebagai penguat pola pikir yang sehat sehingga seseorang menjadi lebih percaya diri, optimistis, dan siap menghadapi berbagai tantangan hidup.
