Krisis Air Bersih Hantui Kota Batu: Masalah Pipa Tua hingga 61 Persen Wilayah yang Lampaui Daya Dukung Lahan
Reporter
Prasetyo Lanang
Editor
Dede Nana
24 - Jul - 2026, 05:35
JATIMTIMES – Persoalan krisis air bersih mulai sering dirasakan secara langsung oleh masyarakat Kota Batu. Salah satunya dialami warga Dusun Dresel, Desa Oro-Oro Ombo, Kecamatan Batu, yang kerap mengeluhkan aliran air bersih mati total hingga terpaksa membeli air tangki untuk kebutuhan sehari-hari.
Selain karena penyusutan pasokan air baku, kerumitan distribusi air ke pemukiman warga dipicu oleh kondisi infrastruktur jaringan perpipaan yang sudah sangat tua dan rawan kebocoran.
Baca Juga : Lahan Perhutani 2 Ha di Jalibar Oro-oro Ombo Disiapkan Jadi TPU Kota Batu
Direktur Perumdam Among Tirto Kota Batu Ahmad Yusup membeberkan, untuk wilayah Oro-Oro Ombo, distribusi air sangat bergantung pada Sumber Darmi. Namun, debit sumber air tersebut saat ini dilaporkan menyusut hingga 11 liter per detik (liter per second/lps).
Masalah makin kompleks karena mayoritas pipa distribusi di kawasan tersebut merupakan infrastruktur lama peninggalan era kolonial.
"Di daerah Oro-Oro Ombo ini masih didominasi hampir 60 persen jaringan lama yang notabene adalah jaringan Belanda, yang kami sendiri sangat sulit untuk tracing-nya. Salah satu upaya kami nanti harus melakukan revitalisasi jaringan," ungkap Yusup dalam diskusi virtual, belum lama ini.
Di sisi lain, tekanan terhadap pasokan air bersih juga datang dari tingginya angka konsumsi harian masyarakat di kawasan perkotaan.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Batu Dian Fachroni Kurniawan mengungkapkan, tingkat konsumsi air bersih perkotaan mencapai 150 hingga lebih dari 200 liter per orang per hari. Sebagian besar penggunaan air tersebut terserap untuk sanitasi dasar dan kebutuhan rumah tangga.
Baca Juga : Debit Mata Air di Kota Batu Anjlok 20 Persen, Alih Fungsi Lahan dan Eksploitasi Hulu Ancam Pasokan Air Baku
Kondisi ketimpangan antara ketersediaan pasokan alami dengan laju konsumsi ini dinilai sudah memasuki tahap mengkhawatirkan bagi lingkungan hidup Kota Batu.
"Kondisi ini menjadi warning karena hasil kajian DLH menunjukkan sekitar 61 persen wilayah Kota Batu kapasitas daya dukung lahannya sudah melampaui batas (over capacity)," tegas Dian.
Menurut Dian, pesatnya pertumbuhan penduduk serta pembangunan fisik yang masif menjadi pemicu utama terlampauinya daya dukung lahan. Jika tidak diikuti dengan pembenahan jaringan distribusi dan efisiensi pemanfaatan air, ancaman krisis air bersih bagi warga perkotaan akan makin melebar.
