Seragam Gratis di Kota Malang Tak Otomatis untuk Keluarga Miskin, Sekolah Jadi Pintu Verifikasi
Reporter
Riski Wijaya
Editor
Dede Nana
24 - Jul - 2026, 05:20
JATIMTIMES - Bantuan seragam sekolah gratis di Kota Malang tidak otomatis diterima seluruh siswa baru dari keluarga miskin. Orang tua masih harus melalui proses pendataan dan verifikasi sebelum anaknya ditetapkan sebagai penerima bantuan.
Skema tersebut diterapkan dalam program bantuan seragam sekolah gratis Tahun Ajaran 2026/2027. Sebanyak 3.513 pelajar SD dan SMP ditetapkan sebagai penerima bantuan.
Baca Juga : Hadiri Launching Program Home Care Bupati Jember, Wamenkes: Bupati Yang Luar Biasa
Mereka terdiri dari 2.013 siswa kelas 1 SD dan 1.500 siswa kelas 7 SMP. Seluruhnya berasal dari keluarga yang masuk desil 1 hingga 4 dalam Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN).
Namun, status keluarga dalam kelompok desil tersebut tidak serta-merta membuat siswa langsung menerima bantuan. Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Malang Suwarjana mengatakan, proses penetapan penerima dilakukan setelah seluruh siswa baru diterima sekolah.
“Wali murid dikumpulkan, begitu butuh kami dropping ke sekolah-sekolah,” kata Suwarjana.
Setelah itu, wali murid yang merasa membutuhkan bantuan diminta mengisi formulir. Data yang terkumpul kemudian diverifikasi bersama Dinas Sosial untuk menentukan penerima manfaat.
Dengan mekanisme tersebut, sekolah menjadi pintu awal dalam menentukan siapa yang berhak mendapatkan bantuan seragam. Prosesnya tidak hanya bergantung pada data sosial ekonomi nasional, tetapi juga pada pengajuan dan verifikasi di tingkat sekolah.
Bantuan yang diberikan berupa seragam putih-merah bagi siswa SD dan putih-biru untuk siswa SMP. Setiap penerima juga mendapatkan seragam pramuka beserta atribut sekolah.
Program ini berbeda dengan pelaksanaan tahun sebelumnya. Jika sebelumnya bantuan seragam diberikan kepada seluruh siswa baru kelas 1 SD dan kelas 7 SMP, tahun ini penerima dibatasi pada kelompok keluarga yang masuk kategori paling membutuhkan.
Baca Juga : Sebut Wartawan Londo Ireng, AJI Minta Prabowo Minta Maaf
Pembatasan tersebut juga membuat proses penyaluran bantuan menjadi lebih selektif. Sebab, tidak semua siswa baru memperoleh bantuan, meskipun berasal dari keluarga dengan kondisi ekonomi yang perlu diverifikasi.
Di sisi lain, Pemkot Malang tahun ini hanya mengalokasikan anggaran Rp1,5 miliar untuk program tersebut. Angka itu turun drastis dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai Rp6 miliar.
Pada akhirnya, program seragam gratis tahun ini bukan lagi sekadar soal pemberian bantuan. Ada proses seleksi berlapis yang harus dilalui keluarga penerima, mulai dari pendataan sekolah hingga verifikasi bersama Dinas Sosial.
Sementara itu, kebutuhan seragam harus dipenuhi sejak siswa mulai masuk sekolah. Di titik inilah, ketepatan data dan kecepatan verifikasi menjadi penting agar bantuan tidak berhenti sebagai program administratif, sementara siswa yang membutuhkan masih menunggu.
