Benarkah Formalin pada Ikan Hilang setelah Dimasak? Ini Hasil Uji pada Cakalang
Reporter
Irsya Richa
Editor
Yunan Helmy
23 - Jul - 2026, 03:36
JATIMTIMES - Anggapan bahwa formalin pada ikan akan hilang setelah dimasak ternyata belum tentu benar. Dalam sebuah uji menggunakan rapid test kit, ikan cakalang yang sebelumnya terdeteksi positif formalin masih menunjukkan hasil positif meski telah dicuci dan direbus hingga matang.
Temuan ini dibagikan komunikator sains Andrea Novita sebagai edukasi agar masyarakat lebih waspada terhadap penggunaan formalin pada bahan pangan. Ia menjelaskan, pengujian tersebut dilakukan sebagai bentuk edukasi kepada masyarakat mengenai bahaya penggunaan formalin sebagai pengawet makanan sekaligus menjawab pertanyaan yang kerap muncul, yakni apakah proses memasak dapat menghilangkan formalin pada ikan.
Baca Juga : Nelayan Asal Banyuputih Hilang saat Melaut, BPBD Situbondo Koordinasi dengan Basarnas Lakukan Pencarian
“Jadi, kemarin saya membeli ikan cakalang di pasar, lalu dibawa ke laboratorium untuk diuji kandungan formalinnya. Pertama, ikan dipotong kecil-kecil, dicincang, kemudian ditambahkan air, digerus, disaring, lalu air hasil saringannya diuji menggunakan rapid test kit formalin,” kata Andrea.
Hasil pengujian pertama menunjukkan perubahan warna larutan menjadi merah muda (pink) pekat. Menurut Andrea, perubahan warna tersebut menandakan sampel positif mengandung formalin.
“Setelah dikocok, larutan langsung berubah menjadi pink pekat. Artinya, sampel tersebut positif formalin. Padahal formalin dilarang keras digunakan sebagai pengawet makanan,” imbuhnya.
Andrea mengatakan, banyak masyarakat yang beranggapan formalin akan hilang setelah ikan dicuci atau dimasak. Untuk membuktikan anggapan tersebut, ia kembali melakukan pengujian terhadap ikan yang sama setelah dicuci dan direbus hingga matang.
Proses pengujiannya dilakukan dengan metode yang sama, yaitu ikan matang dicincang, ditambahkan air, dihaluskan, kemudian disaring sebelum diuji menggunakan rapid test kit.
“Hasilnya ternyata tetap langsung terdeteksi positif formalin. Jadi, meskipun ikan sudah dicuci dan direbus sampai matang, pada pengujian ini formalin masih bisa terdeteksi,” jelasnya.
Meski demikian, Andrea mengingatkan bahwa hasil tersebut menunjukkan formalin masih dapat dideteksi oleh alat uji. Bukan berarti seluruh kadar formalin tidak berubah selama proses pemasakan. Besarnya kadar formalin hanya dapat diketahui melalui pengujian laboratorium kuantitatif dengan metode yang lebih spesifik.
Baca Juga : Pascakebakaran TPA Benowo, Pemkot Surabaya Siagakan Armada Damkar saat Event GBT
Selain mengandalkan pengujian laboratorium, Andrea menyebut masyarakat bisa mengenali beberapa ciri ikan yang patut diwaspadai sebagai indikasi awal penggunaan formalin.
“Kalau setelah beberapa jam disimpan di suhu ruang ikan sama sekali tidak berbau amis, itu perlu dicurigai. Kemudian lalat juga biasanya tidak hinggap karena lalat tidak menyukai formalin. Tetapi itu hanya indikator awal, untuk memastikan tetap harus dilakukan pengujian,” ungkap Andrea.
Ia pun mengimbau masyarakat agar lebih teliti saat membeli ikan dan tidak mudah menganggap proses memasak mampu menghilangkan risiko jika bahan pangan telah diawetkan menggunakan formalin.
“Kalau ingin benar-benar memastikan, tetap harus diuji. Jangan hanya mengandalkan asumsi bahwa setelah dimasak formalinnya hilang,” tutup Andrea.
