Asah Perspektif Global Siswa dari Pengalaman Nyata, MTsN 1 Kota Malang Hadirkan Mahasiswi Prancis
Reporter
Anggara Sudiongko
Editor
Dede Nana
16 - Jul - 2026, 05:38
JATIMTIMES – Upaya membangun wawasan internasional tidak selalu harus dilakukan melalui program belajar ke luar negeri. Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) 1 Kota Malang memilih menghadirkan pengalaman global langsung ke lingkungan madrasah melalui program Motivating International Network and Discussion Series (M.I.N.D.S.) yang mempertemukan para murid dengan tamu internasional dalam forum dialog lintas budaya.
Kegiatan bertema "From France to Indonesia: Building Connections Across Cultures" yang berlangsung di aula madrasah, belum lama ini, menghadirkan Manon Van Belleghem, mahasiswi teknik dari ICAM (Institut Catholique d'Arts et Métiers) Site de Nantes, Prancis. Program ini diikuti murid kelas bilingual 8L dan 9L serta kelas Olimpiade 9M sebagai bagian dari penguatan kompetensi global yang dipadukan dengan kemampuan komunikasi berbahasa asing.
Baca Juga : UIN Maliki Malang Pacu 22 Prodi Raih Akreditasi Internasional ACQUIN, Penguatan Mutu Jadi Fokus Utama
Berbeda dari sekadar sesi pengenalan budaya, pertemuan tersebut menjadi ruang bertukar perspektif antara tamu internasional dengan para murid. Manon tidak hanya memperkenalkan kehidupan masyarakat Prancis, tetapi juga berbagi pengalaman selama dua bulan tinggal dan menjelajahi Indonesia. Pengalamannya memberi gambaran mengenai bagaimana perbedaan budaya dapat menjadi jembatan untuk saling memahami, bukan menjadi penghalang.
Atmosfer diskusi berlangsung dinamis. Ratusan murid menyambut kedatangan tamu asal Prancis itu dengan antusias. Mereka aktif mengikuti paparan materi dan memanfaatkan kesempatan berdialog secara langsung menggunakan bahasa asing. Pertanyaan yang diajukan pun beragam, mulai dari sistem pendidikan di Eropa, kebiasaan masyarakat Prancis, kehidupan mahasiswa, hingga cara beradaptasi ketika berada di lingkungan dengan budaya yang berbeda.
Nuansa pertukaran budaya juga diperkuat melalui penampilan anggota Language Development Centre (LDC) MTsN 1 Kota Malang. Mereka menampilkan tarian tradisional Indonesia sebagai bentuk diplomasi budaya sekaligus memperkenalkan kekayaan seni lokal kepada tamu internasional. Penampilan tersebut menjadi simbol bahwa keterbukaan terhadap dunia tetap dapat berjalan beriringan dengan pelestarian identitas budaya bangsa.
Kepala MTsN 1 Kota Malang, Dra. Erni Qomaria Rida, M.Pd., menilai interaksi langsung dengan warga negara asing merupakan pengalaman belajar yang tidak dapat sepenuhnya digantikan oleh pembelajaran di dalam kelas. Menurutnya, dialog lintas budaya mampu memperluas wawasan murid mengenai kehidupan masyarakat global sekaligus melatih keberanian mereka untuk berkomunikasi, bertukar gagasan, dan menghargai keberagaman.
Pengalaman tersebut dinilai penting sebagai bekal menghadapi tantangan pendidikan dan dunia kerja yang semakin terbuka. Karena itu, ia mengimbau seluruh murid memanfaatkan kesempatan langka tersebut secara maksimal agar memperoleh pengetahuan dan pengalaman yang dapat menjadi inspirasi untuk terus mengembangkan diri.
"Program ini diharapkan mampu memotivasi siswa untuk menjadi generasi yang berwawasan global, adaptif, namun tetap kokoh memegang nilai budaya bangsa," tegas Erni Qomaria Rida.
Baca Juga : Rumah Sedekah NU Gerakkan Donasi Barang Bekas, Ubah yang Tak Terpakai Jadi Berkah
Ia menambahkan, madrasah akan terus membuka ruang kolaborasi dengan berbagai mitra, termasuk institusi maupun individu dari luar negeri, sebagai bagian dari upaya menghadirkan ekosistem pembelajaran yang lebih dinamis. Program M.I.N.D.S., murid tidak hanya memperoleh penguatan akademik, tetapi juga mengembangkan kemampuan komunikasi, kepekaan terhadap perbedaan budaya, serta kepercayaan diri untuk berinteraksi di tingkat global tanpa kehilangan jati diri sebagai generasi Indonesia.
"Dengan demikian, mereka siap menjadi pribadi yang kompetitif di kancah internasional," harapnya.
Melalui penyelenggaraan M.I.N.D.S., MTsN 1 Kota Malang menunjukkan bahwa internasionalisasi pendidikan tidak hanya diukur dari kerja sama formal dengan lembaga luar negeri, tetapi juga dari kemampuan menghadirkan pengalaman belajar yang membuka ruang dialog, memperkuat kompetensi komunikasi lintas budaya, serta menumbuhkan kepercayaan diri murid untuk berinteraksi dalam lingkungan global tanpa kehilangan jati diri sebagai generasi Indonesia.
