Puncak Musim Kemarau Juli-September 2026, Simak 7 Cara Menjaga Kesehatan saat Cuaca Panas
Reporter
Mutmainah J
Editor
Nurlayla Ratri
13 - Jul - 2026, 11:30
JATIMTIMES - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi puncak musim kemarau di Indonesia akan berlangsung secara bertahap mulai Juli hingga September 2026. Kondisi tersebut diperkirakan membuat suhu udara di sejumlah wilayah semakin panas sekaligus meningkatkan risiko kekeringan, kebakaran hutan dan lahan (karhutla), hingga gangguan kesehatan.
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menjelaskan, puncak musim kemarau pada Juli diperkirakan terjadi di 83 Zona Musim (ZOM) atau sekitar 12,26 persen wilayah daratan Indonesia. Jumlah tersebut akan meningkat signifikan pada Agustus menjadi 369 ZOM atau sekitar 48,84 persen wilayah daratan, sebelum kembali menurun pada September menjadi 169 ZOM atau sekitar 25,41 persen wilayah daratan.
Selain berdampak pada sektor pertanian dan lingkungan, suhu udara yang semakin tinggi juga dapat memengaruhi kesehatan masyarakat. Anak-anak, lansia, ibu hamil, serta pekerja yang lebih banyak beraktivitas di luar ruangan menjadi kelompok yang perlu lebih waspada terhadap dampak cuaca panas. Oleh karena itu, menjaga kondisi tubuh selama musim kemarau menjadi langkah penting untuk mencegah berbagai gangguan kesehatan.
BMKG juga mengingatkan bahwa musim kemarau meningkatkan potensi kekeringan dan kebakaran hutan maupun lahan. Sebagai langkah antisipasi, BMKG bersama pemerintah daerah telah menyiapkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) yang pelaksanaannya akan disesuaikan dengan kondisi atmosfer dan potensi pembentukan awan hujan.
Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena mengatakan para petani juga mulai disarankan menyesuaikan pola tanam selama musim kemarau.
"Para petani juga bisa menyesuaikan dengan menanam tanaman hortikultura yang juga cocok pada saat periode kering ini," ujar Ardhasena, dikutip dari detikHealth, Senin (13/7/2026).
Menurut BMKG, cuaca panas tidak hanya meningkatkan risiko dehidrasi, tetapi juga dapat memicu infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), terutama jika kualitas udara memburuk akibat kebakaran hutan dan lahan.
"Pemerintah daerah juga diharapkan mekanisme respon cepat untuk antisipasi memburuknya kualitas udara yang berpotensi memicu ISPA," tambah Ardhasena.
Selain dehidrasi, paparan suhu tinggi dalam waktu lama juga dapat menyebabkan heat exhaustion atau kelelahan akibat panas. Jika tidak segera ditangani, kondisi tersebut dapat berkembang menjadi heat stroke, yakni kondisi darurat medis ketika suhu tubuh meningkat sangat tinggi dan dapat menyebabkan penurunan kesadaran hingga mengancam nyawa.
Cara Menjaga Kesehatan saat Musim Kemarau
Agar tubuh tetap sehat dan mampu beraktivitas dengan optimal selama musim kemarau, berikut beberapa langkah yang dapat dilakukan.
1. Minum air putih secara rutin
Jangan menunggu rasa haus untuk minum. Haus merupakan tanda awal tubuh mulai kekurangan cairan. Biasakan minum air putih secara berkala sepanjang hari agar tubuh tetap terhidrasi.
2. Perbanyak konsumsi buah dan sayur
Selain air putih, kebutuhan cairan juga dapat dipenuhi dari buah dan sayuran yang kaya kandungan air, seperti semangka, melon, mentimun, tomat, dan jeruk. Makanan tersebut juga membantu memenuhi kebutuhan vitamin dan mineral tubuh.
Baca Juga : Bukan Pedagang, Sejarawan AH Johns Sebut Kaum Sufi Jadi Kunci Penyebaran Islam di Nusantara
3. Minuman elektrolit tidak selalu diperlukan
Mengutip The Times, air putih sudah cukup bagi sebagian besar orang yang menjalani aktivitas sehari-hari. Minuman elektrolit lebih dianjurkan bagi mereka yang berkeringat berlebihan, melakukan aktivitas fisik berat dalam waktu lama, atau sedang mengalami diare maupun muntah sehingga kehilangan banyak cairan.
4. Kenakan pakaian yang nyaman
Gunakan pakaian berbahan ringan, longgar, dan mudah menyerap keringat. Pakaian seperti ini membantu tubuh melepaskan panas sehingga tetap nyaman saat beraktivitas.
5. Kurangi aktivitas berat saat matahari sedang terik
Usahakan membatasi aktivitas fisik berat pada siang hingga sore hari ketika suhu udara berada pada titik tertinggi. Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Science of The Total Environment menunjukkan paparan panas berlebih dapat meningkatkan risiko heat exhaustion hingga heat stroke.
6. Jangan abaikan gejala dehidrasi
Apabila mulai merasakan pusing, sakit kepala, tubuh lemas, atau mudah lelah saat cuaca panas, segera hentikan aktivitas dan beristirahat di tempat yang teduh atau berpendingin. Minum air putih secukupnya agar kondisi tubuh segera pulih.
7. Segera cari pertolongan medis bila gejala memburuk
Jika mengalami muntah terus-menerus, tubuh terasa sangat panas, kebingungan, kejang, atau penurunan kesadaran, segera periksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat. Kondisi tersebut dapat menjadi tanda heat stroke yang membutuhkan penanganan medis secepat mungkin.
Selain menjaga kesehatan, BMKG juga mengajak masyarakat untuk menggunakan air secara lebih bijak selama musim kemarau. Penggunaan air untuk mandi, mencuci, dan kebutuhan rumah tangga lainnya diimbau dilakukan secara hemat. Masyarakat juga diminta memastikan seluruh keran tertutup rapat setelah digunakan agar tidak terjadi pemborosan air.
Memasuki puncak musim kemarau 2026, masyarakat diharapkan tidak hanya mewaspadai potensi kekeringan dan kebakaran hutan, tetapi juga lebih peduli terhadap kondisi kesehatan diri dan keluarga. Dengan menjaga asupan cairan, menghindari paparan panas berlebihan, serta segera mencari pertolongan medis jika mengalami gejala serius, risiko gangguan kesehatan akibat cuaca panas dapat diminimalkan sehingga aktivitas sehari-hari tetap berjalan dengan aman dan nyaman.
