Kisah Petugas TPA Milangasri Magetan, Bertaruh Nyawa di Bawah SUTET dan Lahan Overload Demi Wajah Kota Tetap Asri

11 - Jul - 2026, 12:36

Catur Yosiandri menyampaikan kondisi TPA Milangasri yang sudah overload dan untuk 1 zona aktif hanya bisa bertahan 2 minggu untuk menanmpung sampah.


JATIMTIMES – Bagi sebagian besar warga, sampah adalah sesuatu yang harus segera disingkirkan dari pandangan. Begitu plastik hitam diikat dan ditaruh di depan rumah, urusan selesai. Namun, bagi para penjaga di TPA Milangasri, Kecamatan Panekan, Magetan, di situlah cerita perjuangan dan pengabdian yang sesungguhnya baru dimulai untuk menjaga kebersihan di Kabupaten Magetan

Setiap pagi, deru mesin truk sampah sudah menjadi alarm alami bagi mereka. Bau khas sampah yang bagi orang awam bisa memicu mual, bagi para pekerja di bawah naungan DLH Kabupaten Magetan (Dinas Lingkungan Hidup dan Pangan) ini sudah layaknya "aroma kopi pagi" yang akrab. Mereka adalah benteng terakhir kebersihan Kabupaten Magetan.

Baca Juga : Rekomendasi Drakor Terbaru untuk Akhir Pekan, Ada Thriller Romantis hingga Kisah Penuh Emosi

Menjadi penjaga TPA bukanlah profesi yang bertabur pujian. Duka terbesar mereka sering kali datang dari stigma sosial. 

"Kalau ditanya duka, ya jelas bau dan kotor itu makanan sehari-hari. Belum lagi risiko kesehatan," ujar Catur Yosiandri Koordinator petugas kebersihan di TPA Milangasri.

Namun, di tengah pekatnya aroma sampah, selalu ada ruang untuk rasa syukur. Sukanya sederhana: saat melihat truk-truk sampah selesai membongkar muatan dengan lancar, atau ketika sesama pekerja bisa duduk bersama di pos jaga, berbagi segelas kopi hangat dan sepotong pisang goreng di sela-sela istirahat. Bagi mereka, kebersamaan dan rasa senasib sepenanggungan di area ini telah membentuk ikatan keluarga baru.

Dedikasi para penjaga ini mewujud dalam ketelitian mereka mengatur sirkulasi puluhan ton sampah yang masuk setiap harinya. Tugas mereka kini kian berat seiring dengan kondisi TPA Milangasri yang kian kritis. Berdiri di atas lahan seluas kurang lebih 4,2 hektare, satu-satunya tempat pembuangan akhir di Kabupaten Magetan ini nyatanya dipaksa terus beroperasi meskipun statusnya sudah over capacity alias overload

Kondisi riil di lapangan menggambarkan situasi yang sangat mengkhawatirkan. Dari total 14 zona pembuangan yang ada di TPA Milangasri, saat ini hanya tersisa 1 zona saja yang masih aktif. Sementara itu, 13 zona sisanya kini telah berstatus sebagai zona pasif, yang artinya seluruh area tersebut sudah penuh sesak dan sama sekali tidak bisa dipergunakan lagi untuk menampung kiriman sampah baru.

Setiap hari, di satu-satunya zona yang tersisa itulah para penjaga harus berhadapan dengan gunungan sampah yang kian menjulang setinggi kurang lebih 8 meter dari permukaan tanah. Mereka harus sangat lihai mengoperasikan alat berat untuk meratakan timbunan residu, sampah plastik. hingga sisa makanan domestik dari masyarakat l, agar lahan sisa tersebut tidak cepat kolaps.

"Sebenarnya TPA ini sudah sangat overloada dan tidak mampu menerima sampah sejak 2019, tapi karena kondisi lokasi baru belum ada, akhirnya dari dinas mensiasati untuk memakai 1 zona yang ada agar sampah tetap tertampung. Padahal itu sudah sangat tidak layak" jelas Catur.

Selain ancaman infeksi bakteri, dampak jangka panjang gas metan, dan material tajam, ada satu bahaya kasat mata yang harus dihadapi para petugas setiap detiknya, yaitu jalur Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET) yang melintas tepat di tengah area TPA.

"Kami juga sudah berupaya membuat sumur-sumur resapan untuk mengurangi bau atau gas metan tersebut, karena kalau tidak ada sumur itu bau sampah ini akan luar biasa ,menyebar kemana-mana. Saat ini ada dua blok yang kami bangun sumur buat resapan gas metan, alhamdulilah bisa efektif mengurangi bau"lanjut Catur 

Sementara itu keberadaan jaringan listrik bertegangan tinggi yang melintas tepat diarea TPA juga menuntut kewaspadaan tingkat tinggi. Para operator alat berat jenis ekskavator harus bekerja ekstra hati-hati saat meratakan gunungan sampah yang kian meninggi. Salah perhitungan sedikit saja dalam menggerakkan lengan ekskavator bisa berakibat fatal jika mendekati jarak aman kabel SUTET. Di bawah bayang-bayang tegangan tinggi dan medan lumpur licin saat hujan, mereka tetap berdiri tegak demi memastikan roda kebersihan Kabupaten Magetan tetap berputar.

Baca Juga : Desa Penari Banyuwangi Suguhkan Keindahan Alam dan Kekayaan Budaya

Bagi mereka, pekerjaan ini bukan sekadar mencari sesuap nasi, melainkan sebuah tanggung jawab moral. Mereka sadar, jika mereka mogok kerja satu hari saja, wajah seisi kota akan berubah menjadi kumuh.

Kondisi darurat sampah akibat menyusutnya zona aktif ini bukan tanpa perhatian. DLH Kabupaten Magetan bersama Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Magetan saat ini tengah bergerak cepat menggodok rencana pembukaan area TPA baru sebagai solusi jangka panjang.

Saat ini, pihak terkait tengah mematangkan proyek pembangunan TPA baru yang berlokasi di Desa Botok, Kecamatan Karas. Rencana pemindahan dan pembukaan lahan baru di Botok ini diharapkan bisa menjadi jawaban atas napas tua TPA Milangasri yang sudah kewalahan menampung beban limbah harian se-kabupaten.

Sembari menunggu realisasi TPA baru di Botok, para penjaga TPA Milangasri menaruh harapan yang besar kepada masyarakat. Harapan mereka sebenarnya tidak muluk-muluk, namun membutuhkan kesadaran kolektif dari seluruh warga Magetan selaku produsen sampah di sektor hulu.

Mereka berharap warga mulai membiasakan diri memilah sampah rumah tangga secara mandiri, memisahkan antara limbah organik dan anorganik sebelum dibuang ke tempat penampungan sementara. Langkah sederhana dari dapur warga ini dinilai akan sangat efektif mengurangi volume residu yang masuk ke TPA.

"Kami berharap warga di rumah mulai mau memilah sampah sendiri. Mana yang organik, mana yang plastik. Kalau dari rumah sudah dipilah, beban di TPA sini akan jauh lebih ringan,"ucap Catur.

Mereka mungkin bukan figur publik yang namanya dikenal luas, namun lewat peluh, ketulusan, dan pertaruhan keselamatannya, mereka adalah pahlawan sunyi yang menjaga Kabupaten Magetan tetap asri.

Dan akhirnya keberhasilan Magetan mengatasi sampah bukan hanya dilihat dari keberhasilan membuka area TPA baru, tapi bagaimana pemkab magetan bisa menumbuhkan kesadaran masyarakat tentang resiko menumpuknya sampah dan mengedeukasi pentingnya mengelola sampah secara mandiri dari lingkungan yang paling mikro.


Topik

Peristiwa, magetan, tpa milangasri,



Jawa Timur merupakan salah satu provinsi dengan pertumbuhan ekonomi yang cukup pesat di Indonesia. Sektor industri, perdagangan, dan pariwisata menjadi pilar utama perekonomian Jatim. Pembangunan infrastruktur juga terus dilakukan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.



cara simpan tomat
Tips Memilih Bralette