Khutbah Jumat 10 Juli 2026: Empat Jalan Meraih Kebahagiaan yang Hakiki

Reporter

Binti Nikmatur

Editor

A Yahya

10 - Jul - 2026, 08:50

Potret khutbah Jumat. (Foto: laman Masjid Raya KH. Hasyim Asyari)


JATIMTIMES - Kebahagiaan menjadi harapan setiap orang. Namun, tidak sedikit yang mengukurnya dari banyaknya harta, tingginya jabatan, atau berbagai kenikmatan dunia. Padahal, Islam mengajarkan bahwa kebahagiaan sejati tidak hanya lahir dari kecukupan materi, tetapi juga dari ketenangan hati dan kedekatan seorang hamba kepada Allah SWT.

Khutbah Jumat kali ini mengulas empat kunci meraih kebahagiaan menurut ajaran Islam. Mulai dari mencari rezeki yang halal, menumbuhkan sifat qanaah atau merasa cukup atas karunia Allah, hingga membiasakan diri taat kepada-Nya dan merasakan nikmat dalam menjalankan setiap ibadah. Nilai-nilai tersebut menjadi bekal agar kehidupan tidak hanya dipenuhi keberhasilan di dunia, tetapi juga membawa keberuntungan di akhirat.

Baca Juga : Melewati Triwulan Kedua 2026, Realisasi Pajak Daerah Kabupaten Malang Tembus 50,03 Persen

Melalui tema ini, jemaah diharapkan memahami bahwa kebahagiaan bukanlah sesuatu yang harus dikejar tanpa batas, melainkan anugerah yang tumbuh dari hati yang bersyukur, jiwa yang selalu dekat dengan Allah, serta kehidupan yang dijalani sesuai tuntunan syariat.

Khutbah I  

 الْحَمْدُ لِلّٰهِ الْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ هَدَانَا سُبُلَ السّلَامِ، وَأَفْهَمَنَا بِشَرِيْعَةِ النَّبِيّ الْكَريمِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا اِلٰهَ إِلَّا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، ذُو الْجَلَالِ وَالْإكْرَامِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسُوْلُهُ، اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمّدٍ وَعَلَى اٰلِه وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعينَ بِإحْسَانٍ إلَى يَوْمِ الدِّيْنِ

أَمَّا بَعْدُ: فَيَايُّهَا الْإِخْوَانِ، أوْصُيْكُمْ وَ نَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي اْلقُرْاٰنِ اْلكَرِيمْ: أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ: يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَقُوْلُوْا قَوْلًا سَدِيْدًاۙ، يُّصْلِحْ لَكُمْ اَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْۗ وَمَنْ يُّطِعِ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا. وَقَالَ تَعَالَى: يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. صَدَقَ اللهُ العَظِيمُ 

Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah,

Usai menunaikan salat fardu lima waktu, kita senantiasa memanjatkan doa yang sangat akrab di telinga kita:

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Artinya: "Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami kebaikan di dunia, kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari siksa neraka."

Doa tersebut mencerminkan harapan setiap insan. Tidak ada seorang pun yang menginginkan kehidupan penuh kesulitan. Semua mendambakan kebahagiaan, baik ketika hidup di dunia maupun kelak di akhirat. 

Lalu, bagaimana Islam mengajarkan jalan untuk meraih kehidupan yang baik dan penuh keberkahan?

Allah SWT telah memberikan jawabannya melalui firman-Nya dalam Surah An-Nahl ayat 97:

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِّنْ ذَكَرٍ اَوْ اُنْثٰى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهٗ حَيٰوةً طَيِّبَةًۚ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ اَجْرَهُمْ بِاَحْسَنِ مَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ

Artinya: "Barang siapa mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan." (QS. An-Nahl: 97).

Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah,

Dalam Tafsir al-Qurthubi jilid 10 halaman 174 dijelaskan bahwa terdapat beberapa tanda yang menunjukkan seseorang memperoleh kehidupan yang baik atau kebahagiaan sebagaimana dijanjikan Allah SWT.

Yang pertama adalah memperoleh rezeki yang halal.

Rezeki yang berasal dari jalan yang halal bukan hanya mencukupi kebutuhan hidup, tetapi juga menghadirkan keberkahan. Dari rezeki yang halal lahir keluarga yang tenteram, dipenuhi sakinah, mawaddah, dan rahmah. 

Anak-anak tumbuh menjadi pribadi yang saleh dan salehah, semangat beribadah semakin kuat, harta dapat dimanfaatkan untuk berbagai amal kebajikan, termasuk berhaji ke Tanah Suci, berumrah, menziarahi makam Rasulullah SAW di Madinah, hingga akhirnya Allah menganugerahkan husnul khatimah. Semoga Allah mengaruniakannya kepada kita semua. Amin.

Jemaah salat Jumat yang dimuliakan Allah,

Keberkahan rezeki halal sering kali tampak dalam kehidupan sehari-hari. Tidak sedikit keluarga yang secara materi hidup sederhana, bahkan serba terbatas. Penghasilan yang diperoleh setiap bulan mungkin tidak besar, tetapi karena berasal dari jalan yang halal, Allah melimpahkan keberkahan di dalamnya.

Bila dihitung dengan logika manusia, penghasilan tersebut terasa tidak mencukupi. Akan tetapi, perhitungan Allah berbeda dengan hitungan manusia. Apa yang tampak sempit di mata kita, mampu Allah lapangkan dengan keberkahan-Nya.

Ada keluarga yang berpenghasilan kurang dari satu juta rupiah setiap bulan, namun harus memenuhi kebutuhan lima orang anak. Secara hitungan biasa hal itu terasa mustahil. Namun karena rezekinya bersih dan halal, Allah memberikan kecukupan.

Bahkan anak-anak mereka tumbuh menjadi pribadi yang membanggakan orang tua dan masyarakat. Inilah salah satu bukti bahwa keberkahan rezeki halal menjadi sumber kebahagiaan yang sesungguhnya.

Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah,
Tanda kedua kehidupan yang baik adalah memiliki sifat qanaah, yakni merasa cukup dan rela menerima segala ketentuan Allah SWT. Dalam budaya Jawa, sikap ini sering dikenal dengan istilah nerimo ing pandum, yaitu menerima bagian yang Allah tetapkan dengan penuh kerelaan.

Sebaliknya, seseorang yang tidak memiliki qanaah akan terus merasa kurang. Sekalipun hartanya melimpah, jabatannya tinggi, dan kedudukannya terhormat, hatinya tetap dipenuhi kegelisahan. Rasa tamak, rakus, dan tidak pernah puas justru menjauhkan seseorang dari kebahagiaan.

Rasulullah SAW bersabda:

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ، وَرُزِقَ كَفَافًا، وَقَنَّعَهُ اللهُ بِمَا آتَاهُ

Artinya: "Sungguh beruntung orang yang memeluk Islam, diberi rezeki yang mencukupi, dan Allah menganugerahinya sifat qanaah terhadap apa yang telah diberikan kepadanya." (HR. Muslim).

Lalu bagaimana agar hati kita tumbuh menjadi qanaah?

Rasulullah SAW memberikan tuntunan:

انْظُرُوا إِلَى مَنْ أَسْفَلَ مِنْكُمْ، وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ، فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لَا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللهِ عَلَيْكُمْ

Artinya: "Lihatlah orang yang berada di bawah kalian, dan jangan melihat orang yang berada di atas kalian. Dengan demikian kalian tidak akan meremehkan nikmat Allah yang telah diberikan kepada kalian." (HR. Muslim).

Baca Juga : Arema FC Datangkan Bek Asing Berpengalaman Eks FC Porto B

Ajaran ini mengajarkan rasa syukur. Orang yang memiliki mobil hendaknya mengingat masih banyak saudara kita yang hanya mampu menggunakan sepeda motor. Mereka yang memiliki sepeda motor patut bersyukur karena masih banyak yang setiap hari mengayuh sepeda. 

Begitu pula yang memiliki sepeda hendaknya mengingat masih banyak orang yang harus berjalan kaki. Bahkan orang yang masih mampu berjalan pun semestinya bersyukur karena ada saudara-saudara kita yang tidak lagi memiliki kemampuan tersebut.

Apabila sikap syukur dan qanaah telah tumbuh dalam hati, maka ketenangan akan menyertai kehidupan. Kebahagiaan tidak lagi diukur dari banyaknya harta, melainkan dari kemampuan menerima nikmat Allah dengan hati yang lapang.

Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah,

Tanda ketiga kehidupan yang penuh kebahagiaan menurut Imam al-Qurthubi adalah taufîquhu ilâ ath-thâ'ah, yaitu memperoleh taufik dari Allah SWT sehingga dimudahkan untuk senantiasa menjalankan amal saleh, beribadah, dan istiqamah dalam ketaatan. Karunia ini jauh lebih berharga daripada kenikmatan dunia, sebab tidak semua orang yang diberi kelapangan hidup juga diberi kemudahan untuk taat kepada Allah.

Lalu, bagaimana agar kita termasuk hamba yang mendapatkan taufik tersebut?

Allah SWT memberikan jawabannya dalam firman-Nya:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنْ تَنْصُرُوا اللّٰهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ اَقْدَامَكُمْ

Artinya: "Wahai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Allah akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu." (QS. Muhammad: 7).

Ayat ini mengajarkan bahwa pertolongan Allah tidak datang tanpa sebab. Allah akan memberikan taufik dan kekuatan kepada hamba-hamba yang bersungguh-sungguh menolong agama-Nya. Menolong agama Allah bukan hanya dilakukan di medan perjuangan, tetapi juga melalui berbagai amal kebajikan yang membawa manfaat bagi agama dan sesama.

Jemaah salat Jumat yang dimuliakan Allah,

Imam Ath-Thabari dalam Tafsir Jâmi' al-Bayân juz 21 halaman 191 menjelaskan bahwa yang dimaksud menolong agama Allah adalah melaksanakan segala amal yang dicintai dan diridhai-Nya. Orang-orang yang mengabdikan hidupnya di jalan Allah akan memperoleh pertolongan-Nya, baik ketika menghadapi urusan dunia maupun dalam menjaga keistiqamahan beragama.

Karena itu, setiap langkah menuju majelis ilmu, setiap usaha mempelajari ajaran Islam, setiap waktu yang digunakan untuk mengajar, berdakwah, memakmurkan masjid, mendidik anak-anak agar mencintai Al-Qur'an, membantu fakir miskin, hingga mengajak orang lain kepada kebaikan merupakan bagian dari perjuangan di jalan Allah. Semua amal tersebut menjadi sebab turunnya taufik dan pertolongan dari Allah SWT.

Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah,

Seseorang yang memperoleh taufik akan merasakan bahwa ibadah bukan lagi menjadi beban, melainkan kebutuhan. Hatinya ringan melangkah menuju masjid, lisannya mudah berzikir, tangannya ringan bersedekah, dan pikirannya terdorong untuk selalu berbuat baik. Ketika tergelincir dalam kesalahan, ia segera bertaubat dan kembali kepada Allah. Inilah salah tanda keempat bahwa Allah masih membimbingnya menuju jalan yang lurus.

Sebaliknya, apabila hati mulai berat untuk beribadah, enggan menghadiri majelis ilmu, malas membaca Al-Qur'an, atau merasa nyaman dalam kemaksiatan, hendaknya kita segera bermuhasabah. Bisa jadi kita sedang kehilangan taufik yang sangat berharga tersebut. Karena itu, jangan pernah berhenti memohon kepada Allah agar senantiasa membimbing langkah kita dalam ketaatan.

Jemaah salat Jumat yang dirahmati Allah,

Kebahagiaan sejati bukan hanya ketika seseorang memiliki banyak harta atau kedudukan, melainkan ketika Allah memudahkan dirinya untuk terus berada di jalan yang benar. Sebab, orang yang hidup dalam ketaatan akan merasakan ketenangan hati, keberkahan hidup, dan harapan besar untuk memperoleh kebahagiaan yang abadi di akhirat kelak.

Semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan taufik kepada kita semua, membimbing setiap langkah kita menuju amal saleh, mengokohkan hati kita dalam keimanan, dan menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang istiqamah hingga akhir kehidupan. Amin ya Rabbal 'alamin.

  باَرَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي القُرْآنِ العَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيّاكُمْ بِالآياتِ وذِكْرِ الحَكِيْمِ.  إنّهُ تَعاَلَى جَوّادٌ كَرِيْمٌ مَلِكٌ بَرٌّ رَؤُوْفٌ رَحِيْمٌ  

Khutbah II   

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِي إلَى رِضْوَانِهِ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا

أَمَّا بَعْدُ فَيَا اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّٰهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيّ وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ الْاَحْيَآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللّٰهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلَامَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلَاءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلَازِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خَآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عَآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. عِبَادَاللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَر  


Topik

Agama, Jumat, khutbah Jumat, ceramah juma,



Jawa Timur merupakan salah satu provinsi dengan pertumbuhan ekonomi yang cukup pesat di Indonesia. Sektor industri, perdagangan, dan pariwisata menjadi pilar utama perekonomian Jatim. Pembangunan infrastruktur juga terus dilakukan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.



cara simpan tomat
Tips Memilih Bralette