Kisah di Balik Tradisi Mencium Roti oleh Masyarakat Mesir

14 - May - 2026, 09:48

Ilustrasi Warga Mesir memiliki tradisi menghormati roti sebagai simbol kehidupan, lahir dari sejarah panjang perjuangan menghadapi kelaparan dan paceklik di lembah Sungai Nil (ist)


JATIMTIMES - Di tengah budaya masyarakat Mesir, roti bukan sekadar makanan pelengkap di meja makan. Bagi banyak warga, terutama yang tinggal di desa-desa, roti dipandang sebagai simbol kehidupan yang harus dihormati. Karena itu, ketika seseorang melihat sepotong roti jatuh di jalan, respons mereka sangat berbeda dibanding saat melihat sisa makanan lain berserakan.

Potongan sayur, buah, bahkan puntung rokok mungkin kerap dibiarkan begitu saja. Namun bila yang jatuh adalah roti, orang Mesir biasanya segera berhenti, membungkuk, lalu mengambilnya sambil membaca basmalah. Debu yang menempel akan dibersihkan perlahan sebelum roti itu dicium dan disimpan di tempat yang layak.

Baca Juga : Kalender Jawa Weton Kamis Legi 14 Mei 2026: Hari Rahayu  

Kebiasaan tersebut masih dapat ditemui di banyak wilayah pedesaan Mesir. Saat makan bersama, roti diletakkan di tempat paling bersih, sering kali di atas kain khusus. Bahkan remah-remah kecil yang jatuh ke tanah akan segera dipungut dan dicium. Dalam pandangan mereka, membiarkan roti terinjak atau terbuang dianggap sebagai bentuk tidak menghargai nikmat Tuhan.

Masyarakat Mesir memiliki pepatah terkenal yang kurang lebih bermakna, “Siapa yang tidak menghargai nikmat, akan kehilangan keberkahannya.” Menariknya, kata “nikmat” dalam ungkapan itu sering kali merujuk langsung pada roti.

Roti di Mesir juga dikenal dengan sebutan ‘aisy atau ‘isy yang secara harfiah berarti “kehidupan”. Penyebutan itu bukan tanpa alasan. Dalam sejarah panjang Mesir, gandum merupakan sumber utama penghidupan rakyat selama berabad-abad. Sebelum jagung dikenal setelah masuk dari Amerika, kehidupan masyarakat sepenuhnya bergantung pada hasil panen gandum dari lembah Sungai Nil.

Majalah Al-Azhar edisi Oktober 1965 pernah menjelaskan bagaimana petani Mesir kuno menggantungkan nasib mereka pada musim banjir Sungai Nil. Setelah air surut, benih gandum ditebar di lumpur subur bekas genangan. Babi-babi kemudian dilepas ke ladang agar pijakan kaki hewan itu membantu menanam benih ke dalam tanah.

Para petani lalu menunggu dengan penuh harap, mulai dari munculnya tunas hingga bulir-bulir gandum menguning. Dari pengalaman panjang itulah lahir banyak pepatah rakyat tentang musim tanam dan panen yang diwariskan turun-temurun.

Seluruh harapan itu bergantung pada satu hal penting, yakni banjir Sungai Nil. Ketika air Nil meluap dengan baik, Mesir dipenuhi suasana suka cita. Kota-kota ramai, pemerintah mengadakan perayaan, kaum perempuan menari, dan laki-laki bernyanyi. Luapan Sungai Nil dianggap pertanda datangnya panen besar, harga pangan murah, serta terhindarnya negeri dari wabah penyakit.

Sebaliknya, ketika Sungai Nil gagal meluap, Mesir menghadapi petaka besar. Tanah menjadi kering, harga makanan melonjak, kelaparan meluas, wabah menyebar, dan tatanan sosial ikut terguncang. Sejarah Mesir mencatat banyak tragedi mengerikan akibat paceklik berkepanjangan.

Sejarawan seperti Al-Maqrizi, Ibnu Iyas, Abu al-Mahasin, dan Abdul Latif al-Baghdadi menulis berbagai kisah memilukan tentang musim kelaparan di negeri tersebut.

Baca Juga : 4 Tradisi Umat Kristiani saat Kenaikan Yesus Kristus 2026, Ada Ibadah hingga Bakti Sosial

Salah satu tragedi paling terkenal adalah Asy-Syiddah al-‘Uzhma pada masa Khalifah Fatimiyah Al-Mustanshir Billah sekitar tahun 1053 M. Selama delapan tahun, Mesir dilanda kelaparan hebat, wabah, dan kematian massal. Catatan sejarah menyebutkan rakyat sampai memakan kucing, anjing, bahkan sesama manusia karena putus asa.

Bencana serupa kembali terjadi pada masa Sultan Al-Adil pada 1201 M. Dalam waktu singkat, Mesir berubah menjadi wilayah penuh kematian. Abdul Latif al-Baghdadi yang menyaksikan langsung peristiwa itu menuliskan gambaran memilukan tentang masyarakat yang memakan bangkai, kotoran hewan, hingga anak-anak kecil demi bertahan hidup. Ia mengaku sering menghindari pemandangan tersebut karena terlalu mengerikan untuk disaksikan.

Pengalaman pahit itulah yang kemudian membentuk hubungan emosional rakyat Mesir dengan gandum dan roti. Ketika musim subur datang kembali dan lumbung-lumbung terisi penuh, masyarakat memandang bulir gandum layaknya mutiara kehidupan. Mereka tidak sekadar melihat makanan, tetapi simbol keselamatan dari ancaman maut.

Dari situ pula muncul berbagai kisah rakyat yang menganggap gandum memiliki kedudukan istimewa. Sebagian masyarakat bahkan percaya bahwa gandum merupakan biji-bijian yang dibawa Nabi Adam dan Hawa dari surga.

Pandangan tersebut sejalan dengan ajaran Islam tentang pentingnya mensyukuri nikmat Allah SWT. Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman dalam Surah Ibrahim ayat 7, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepadamu.” Ayat itu menjadi pengingat bahwa makanan, termasuk sepotong roti, merupakan nikmat yang tidak boleh disia-siakan.

Meski kini Mesir telah banyak berubah dengan hadirnya Bendungan Aswan dan kemajuan ilmu kesehatan modern yang membantu negeri itu keluar dari ancaman kelaparan besar, jejak sejarah tersebut tetap hidup dalam budaya masyarakatnya. Hingga sekarang, roti masih disebut ‘aisy atau kehidupan, dan penghormatan terhadapnya tetap diwariskan dari generasi ke generasi sebagai pengingat akan masa-masa sulit yang pernah dialami bangsa Mesir.


Topik

Agama, tradisi mesir, mencium roti,



Jawa Timur merupakan salah satu provinsi dengan pertumbuhan ekonomi yang cukup pesat di Indonesia. Sektor industri, perdagangan, dan pariwisata menjadi pilar utama perekonomian Jatim. Pembangunan infrastruktur juga terus dilakukan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.



cara simpan tomat
Tips Memilih Bralette